
*********
"Selina ayo kita menikah."
Mata bening Selina sudah tertutup kristal bening, dalam sekali kedip kristal itu berburai jatuh membasahi pipi mulus Selina. Ia tak menyangka Didi akan langsung mengucapkan kata itu.
Didi menangkup wajah Selina, mengusap bulir air mata yang turun. Ia mendekatkan wajahnya kearah Selina dan me*lu*mat bibir tipis Selina. Keduanya bertukar Saliva di dinginnya malam. Berbagi kehangatan yang mengalir dalam setiap sentuhan satu sama lain.
Didi mengurai ciumannya, keduanya masih saling menempelkan kening. "Jadilah istriku Selin, Jadilah ibu dari anak-anakku." Desis Didi Selin mengangguk berulangkali.
"Ya aku mau .."
Kebahagiaan tak terhingga menghinggapi hati keduanya. Keduanya larut dalam keheningan malam yang semakin menenangkan jiwa dan raga mereka.
"Ayo masuk, udara malam tidak baik untukmu." Ujar Didi, dia tak bisa berlama-lama dalam posisi seperti ini bisa-bisa dia akan menerkam Selin. 5 tahun ia sudah seperti pertapa yang berpuasa. Dan kini jodohnya telah kembali. Rasanya naga api miliknya ingin segera menyembur apa saja.
.
.
.
Selin dan Didi kembali ke dalam kamar, mereka berbaring salin berbagi kehangatan dalam pelukan. Judy putri mereka tidur di kamar terpisah. Karena Selin ingin putrinya lebih mandiri dan berani.
"Apa kau keberatan jika kita menikah 3 hari lagi? tanya Didi.
"Tidak .. semua terserah padamu." Kata Selin, jemarinya bergerak membuat pola abstrak di dada Didi.
Didi menggenggam jemari Selin. Matanya menatap intens wajah gadis itu. Gadis yang ternyata sejak kecil sudah memburu dirinya.
"Jangan memancingku ..!!"
Selin hanya tersenyum dan membelai wajah Didi. "Aku tidak menyangka bisa mendapatkan mu." Bisik Selin.
"Aku juga tidak menyangka, gadis menyebalkan itu berubah menjadi wanita yang sangat cantik dan tangguh." Desis Didi, Selin memukul dada Didi. Wajahnya memerah karena malu mengingat tingkahnya yang benar-benar menyebalkan sejak kecil.
"Aku menyayangimu Selin." Ujar Didi mengecup puncak kepala Selin. Mata Selin terpejam merasakan kehangatan yang mengalir dari kecupan Didi.
Keduanya terlelap sambil berpelukan. Hingga pagi menjelang, mereka terbangun karena suara Judy yang melengking memanggil ayah dan ibunya.
"Momy, Dady wake up!" teriak Judy seraya menggedor pintu. Nenek Soraya dan nenek Eliana sampai geleng kepala melihat tingkah buyut mereka.
Didi melepas pelukannya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Putri kesayangannya sudah memasang wajah cemberut. Didi menggendong Judy masuk sambil menciumi rambut panjang putrinya yang begitu harum menenangkan.
Judy turun dari gendongan Didi dan menggoyangkan tubuh Selin yang masih terpejam. Rasa kantuknya benar-benar sulit ditahan.
__ADS_1
"Mommy wake up!"
"10 menit lagi sayang." Gumam Selin.
"No .. momy selalu saja begitu." Gerutu Judy, tangannya sudah terlipat di depan dada itu artinya dia benar-benar marah pada Selin. Selin membuka sebelah matanya mengintip putrinya lalu Selin menarik tubuh Judy dan menimpa badan Judy dengan kakinya agar Judy tidak bisa bergerak, lalu Selin menggelitiknya.
"Mommy sudah, geli! Daddy tolong Judy!" Ketiganya kini bercanda diatas tempat tidur.
Nenek Soraya masuk tanpa mengetuk pintu. Ia melihat pemandangan yang membuatnya terharu.
"Kalian cepatlah bangun. Ada hal penting yang harus kalian lakukan saat ini." Kata Nenek sista. Didi menghentikan tawanya. Ia menatap sang nenek. Rasanya masih berat menemui sang papa tapi mau bagaimana lagi, dia tetap harus menghadapi pria itu.
.
.
.
Didi, Selin dan Judy tiba di sebuah mansion megah milik Arman Hutapea yang notabene adalah ayah Didi dan Arya. Mereka disambut kepala pelayan dengan hormat.
"Tuan muda lama tidak berjumpa." Ujar pria sepuh itu.
"Iya Pak Danang. Papa ada?" tanya Didi, jujur saja saat ini dia sangat gugup. Bahkan tangannya berkeringat dingin. Namun Didi tak ingin Selin dan Judy mengetahuinya.
Seorang pria paruh baya yang masih sangat tampan masuk ke ruangan itu. Langkahnya terhenti saat melihat Didi, Selin dan Judy.
Didi berdiri dari duduknya diikuti oleh Selin dan Judy. Rasanya benar-benar canggung setelah sekian lama tak bertemu.
Tuan Arman berjalan mendekat dan memeluk tubuh tegap Didi. Pria paruh baya itu menitikkan air matanya. Ia merindukan putranya. Setelah pelukannya terurai dia menatap Selin dan Judy bergantian.
"Siapa mereka Ardi?"
"Dia calon istriku. Dan ini putri kami." Kata Didi memperkenalkan Selin dan Judy. Alis tuan Arman bertaut. Ia sedikit bingung mendengar penjelasan Didi.
"Ini Selin, gadis yang membuatku hampir gila 5 tahun yang lalu." Ujar Didi, akhirnya tuan Arman mengerti karena dulu Arya pernah menceritakan soal Didi padanya.
"Cantiknya cucu opa." Ujar tuan Arman membelai wajah Judy. Gadis kecil itu mendekat dan mencium punggung tangan tuan Arman.
"3 hari lagi aku akan menikahi Selin. Datanglah jika memiliki waktu luang." Ujar Didi.
Saat Didi berbicara dengan papanya, muncul seorang pria tampan dan tinggi menghampiri mereka.
Didi dan pria itu saling menatap tajam. Ada aura permusuhan yang kental dari tatapan mata keduanya.
"Wah, ada reuni." Ujar pria itu dingin.
__ADS_1
"Arsen .. !" tegur tuan Arman.
"Kenapa ayah? apa aku salah menyapa adikku?"
"Datanglah jika kau memiliki waktu luang. Tempatnya di perkebunan nenek Eli." Kata Didi berdiri menarik tangan Selin.
"Wow .. tunggu dulu adikku. Apa kau kemari ingin ayah menyumbang di pernikahanmu?" Sarkas Arsen.
Didi tersenyum miring inilah yang tidak Didi sukai jika bertemu dengan sang ayah. Pasti kakaknya akan menghina dirinya.
"Inilah alasanku selalu malas bertemu dengan ayah. Selalu saja ada pengganggu."
"Ardi .." tegur Arman.
"See .. ayah selalu membelanya. Bahkan ketika dia menghinaku ayah memilih diam saja."
"Kita pergi dari sini Selin." Ujar Didi menggandeng tangan Selin. Sedang Judy sudah bersembunyi di balik kaki Didi.
"Hai, daripada kau bersama pria kere itu lebih baik kau bersama denganku." Kata Arsen. Kali ini Didi tak bisa lagi diam. Dia melepas genggaman tangan Selin dan berjalan dengan cepat menghampiri Arsen lalu melepaskan satu pukulan di pipi Arsen. Hingga sudut bibir pria itu berdarah.
"Daddy .." Teriak Judy histeris. Selin memeluk Judy dan menyembunyikan wajah Judy karena Didi terus memukul Arsen.
"Ardi cukup .." Suara tuan Arman menggelegar. Selin menatap nanar kearah Didi.
Didi tertawa miris. Sampai kapanpun ayahnya akan seperti itu terus menerus membela Putra pertamanya dari pernikahannya dengan istri pertamanya.
"Selin ayo .." Suara Didi terdengar datar dan dingin. Selin membungkuk sebentar kearah Arman. lalu ia mengikuti Langkah panjang kaki Didi.
Air mata Selin tiba² turun. Ia sedih melihat Didi seperti itu. Didalam mobil Didi masih diam dan meletakkan kepalanya di atas stir mobilnya. Saat ia mendengar isakan Judy, Didi langsung menegakkan badannya.
"Sayang .. " Didi membelai kepala Judy. Ia juga melihat mata sembab Selin. Didi merasa bersalah karena tak bisa menahan emosinya.
"Daddy, Judy mau pulang." Lirih Judy. Didi mengangguk lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan mansion tuan Arman.
Sementara itu Arman terlihat kecewa dengan putranya Arsen. Arman pergi meninggalkan putra tunggalnya bersama istri pertamanya dulu.
"Apa ayah menyesal telah membelaku?" Mata Arsen menatap tajam kearah sang ayah.
"Ayah hanya kecewa dengan sikapmu. Ayah hanya ingin menghabiskan waktu tua ayah bersama keluarga kita.
"Mereka keluarga ayah, bukan keluargaku." Ujar Arsen berlalu dan pergi meninggalkan mansion.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Budayakan Like komen dan Vote atau kasih hadiah juga boleh deh
__ADS_1