Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Kangen Ra


__ADS_3

**********


Pagi ini suasana di keluarga Dian sedikit lebih tenang karena anak-anak mereka sedang ada acara camping di kebun belakang mansion keluarga Kusuma. Dian masih bergelung selimut karena tubuhnya polos setelah pergulatan panas pagi tadi.


Gerry masuk membawa nampan berisi sarapan pagi dan susu untuk Dian. Dia duduk di samping Dian dan meletakkan nampan nya di atas nakas.


"Sini aku bantu kamu mandi." Gerry membuka selimut yang menggulung tubuh istrinya. Tanpa sungkan Gerry memakaikan bathrobe ke tubuh Dian, dan membawa gadis itu ke dalam kamar mandi. Dengan lembut dan hati-hati Gerry mulai menggosok dan menyabuni tubuh istrinya. Wanita mana yang tak kan jatuh hatinya jika diperlakukan seperti itu. Setelah selesai Gerry kembali membopong tubuh Dian dan meletakkannya diatas ranjang.


"Mas, aku bisa ambil dan pakai bajuku sendiri, jangan terlalu memanjakan aku." Gerry hanya mengulas senyum tipis. Rasanya semua yang ia lakukan tidak lebih dari cukup untuk membalas kebaikan Dian, tanpa Dian mungkin saja Zafa hanya tinggal sebuah nama. Tanpa Dian dia tak akan memiliki anak semanis Zayn dan Zayana. Bahkan saat dia mengingat perlakuannya dulu, hingga sekarang rasanya dia begitu menyesalinya.


Dian sudah memakai baju dan sudah menghabiskan sarapannya. Gerry membelai wajah Dian dan menatapnya dengan intens.


"Sayang aku harus pergi melihat kondisi mama Sekar. Tadi orang suruhanku mengatakan mama Sekar dibawa ke rumah sakit, sepertinya mama Sekar terkena DB."


"Boleh aku ikut? aku juga ingin lihat kondisi mama Sekar." ---- Dian


"Perjalanannya cukup jauh. Aku takut kau kelelahan. Mengertilah dengan kekhawatiranku. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu." Kata Gerry, Dian akhirnya mengangguk. Ia juga mengerti bagaimana Gerry sangat mengharapkan kehadiran bayi yang ada didalam kandungannya saat ini.


"Kamu mau ketemu siapa Ger?" Suara seseorang memecah perhatian Gerry dan Dian. Wajah Dian pias. Gerry menarik nafasnya panjang, mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan semua pada mamanya. Ya seseorang yang menyela percakapan mereka adalah Mama Arini. Karena beliau memang sudah 2 hari tinggal di mansion Gerry karena kangen dengan cucu-cucunya terlebih Zafrina yang sejak kecil selalu mendapat perhatian dari mama Arini. Karena mama Arini merasa bersalah pada gadis kecil itu.


"Mama .. " Gerry mendekat ke arah sang mama dan membawa wanita itu untuk masuk ke kamar mereka dan mengunci kamar.


Gerry mendudukkan mama Arini di samping Dian.


"Mama, Gerry minta maaf."


"Maaf ..? untuk apa Ger ..?"


"Maaf karena selama ini tanpa sepengetahuan mama, Gerry menemui mama Sekar mantan istri papa."


"Mama masih ga maksud sama omongan kamu Ger. Bukankah dari dulu kamu membenci wanita itu? Bahkan wanita itu ninggalin papa disaat papa kamu terpuruk sakit, jatuh miskin dan kritis. Kamu gimana sih Ger?" Wajah mama Arini sedikit kecewa Gerry tahu itu. Tapi kenyataan harus tetap Gerry sampaikan agar kesalahpahaman antara mereka terurai.


"Mama, mama Sekar tidak meninggalkan Papa. Mereka berpisah ma, papa yang ninggalin mama Sekar. Papa memilih menjaga posisi mama dan Gerry agar tidak tergantikan dengan siapapun."


Wajah mama Arini semakin terlihat bingung.


"Gerry jangan mengada-ada kamu." Kata mama Arini tidak terima.


"Kalau mama ga percaya dengan ucapanku, mama bisa tanya sama papa langsung. Disini siapa yang meninggalkan siapa?"

__ADS_1


"Terus sekarang kamu mau nemuin dia? buat apa Gerry?"


"Karena hanya Gerry keluarga mama Sekar satu-satunya." Tiba-tiba suasana menjadi hening.


"Dan kamu sebenarnya tau ini sejak lama Dian?" tanya mama Arini dan Dian mengangguk. ---- "Mama ga nyangka kamu seperti itu sama mama Dian."


"Jangan mengkambinghitamkan Dian mah, semua ini urusan Gerry dan kalian. Jangan sangkut pautkan istriku dalam masalah ini.


" Tapi kenapa? mama benar-benar kecewa sama kalian." Nyonya Arini langsung berjalan tanpa menoleh lagi.


"Mas ... " Dian tampak berkaca-kaca. Gerry memeluk tubuh istrinya.


"Sudah kamu tenang saja. Mas yakin mama cuma terkejut dengan semua ini.


.


.


.


Ara dan anak-anak yang remaja sedang membereskan semua furniture yang datang hari ini.


Ponsel Ara berdering saat dirinya sedang mendorong sofa. Nafas Ara terengah-engah.


"Waalaikumsalam sayang, Kamu habis ngapain Ra? kok nafasnya putus-putus gitu?" tanya Arsen begitu sambungan terhubung.


"Beres-beres panti Aa .. "


"Kangen Ra .. " Desis Arsen. Ara tertawa renyah mendengar suara Arsen yang terdengar seperti gombalan receh.


"Sama Ara juga kangen .. " Jawab gadis itu,


"Kamu cuma mau nyenengin hati aku aja kan Ra, ngomongnya ga tulus." Ujar Arsen merajuk.


"Ya udah kalo ga percaya. Ara tutup aja ya teleponnya."


"Eh jangan Ra .. Iya iya aku percaya kamu." ---- Arsen.


"Nah gitu dong. Aa sudah makan siang?" ---- Ara.

__ADS_1


"Belum Ra, ini telepon istri dulu biar ada semangat"


"Huu .. dasar Aa tu makin kesini sering banget gombal."


"Serius Ra, kamu itu mood booster buat aku. Kalo belum denger suara kamu rasanya tubuh lemes ra."


"Heleh ... ya udah aa buruan makan Ara mau lanjut. Assalamu'alaikum."


"waalaikumsalam."


Arsen memejamkan matanya. Ini benar-benar gila, dirinya benar-benar tidak bisa jauh dari Ara rasanya rindu yang dia miliki sedikit berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi. Inilah yang memang saat ini Arsen rasakan. Merindukan istri yang belum genap sebulan dia nikahi itu.


"Sementara Arsen galau dengan perasaannya yang tak bisa jauh dari Ara. Ara justru sedang tertawa bersama anak-anak panti lainnya. Kebahagiaan jelas tergambar di wajah gadis itu dan anak-anak.


"Kak Ara, terimakasih sudah membawa kami kemari." Kata Ayu dan diangguki oleh anak-anak yang lain.


"Sama-sama sayang, tapi kalian harusnya berterimakasih dengan om Arsen." Ujar Ara.


"Iya kak .. " Jawab mereka bersamaan.


.


.


.


Ara sudah selesai membersihkan diri setelah seharian berkeringat. Kini dia hanya memakai bathrobe dan handuk kecil yang melingkar di kepalanya. Tiba-tiba dari arah belakang ada tangan kokoh melingkar di perutnya.


"Aku benar-benar merindukanmu Ra, kau bahkan membuat aku tak bisa fokus pada pekerjaanku." Ujar Arsen tangannya menyelinap masuk kedalam bathrobe dan merem_as dua bukit kembar Ara dengan lembut.


"Aargh .. pelan Aa." Rancau Ara. Arsen sudah membenamkan wajahnya di ceruk leher Ara, menjil_at dan menghi_sapnya kuat. Aroma tubuh Ara benar-benar membuat Arsen terbuai.


"Aa .. " Suara Ara terdengar lirih dan bergetar.


"Ssshh .. aku mau kamu Ra" Bisik Arsen tepat di cuping telinga Ara. Membuat tubuh Ara menegang dengan gelenyar aneh yang mulai menggelitik inti tubuhnya. Ara membalikkan tubuhnya, menyentuh rahang kokoh pria itu dan mulai memagut lembut bibir Arsen, Arsen menekan tengkuk Ara dan memperdalam ciumannya.


๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Pokoknya gitu lah ya... ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

__ADS_1


Jempol tolong dibirukan dan di merahkan


Giftnya mohon di tekan aja sepunya nya kalian


__ADS_2