
⛅ Selamat membaca ⛅
Pagi ini mansion kakek Kusuma sudah mulai ramai berdatangan para pekerja yang memiliki kepentingan khusus untuk memasang dekorasi
Semua orang tampak sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Gionino Ataraska pemilik G enterprise. Usahanya dibidang entertainment sangatlah cemerlang. di usianya yang masih muda ia sudah memiliki studio sendiri, dan stasiun TV. Bahkan Gionino beberapa kali menyabet gelar men of the year. Dimana ia dinominasikan dalam kategori pria muda berbakat. Dan pengusaha inovatif.
Semua itu tak luput dari usaha dan kerja keras Nino selama ini. Meskipun dirinya jarang tersorot media karena sifat Nino yang tertutup. Namun prestasi yang diraihnya sudah begitu terkenal seantero negeri.
"Jadi acaranya dirubah disini?" tanya Dian tak percaya. Padahal sebelumnya sudah disepakati untuk memakai hotel milik Gerry. Namun tiba-tiba semua keputusan berubah.
"Iya sayang, kesehatan kakek jadi pertimbangan kami. Lagipula kamu juga sedang hamil besar, kalo di hotel nanti kamu pasti kecapekan." Terang nyonya Arimbi, saat ini dirinya dan Dian ada di taman belakang mansion yang luasnya hampir mencapai 2 hektar. Mereka sedang melihat pekerja yang sedang mendekorasi taman. Dian sedang menyuapi Zafrina sedang nyonya Arimbi menyuapi Zafa.
"Bagaimana perkembangan putra kalian?" tanya nyonya Arini memecah keheningan.
Wajah Dian berubah sendu, ada rasa sakit tersendiri melihat putranya tumbuh lain dari pada yang lain.
"Kata dokter selama ini belum ada metode untuk penyembuhan penyakit bawaan lahir Bu, Dian hanya bisa berharap cukup sampai disini saja jangan ada gejala lain yang nantinya timbul. Dokter juga berkata bersyukur Zafa masih bisa merespon suara kita, itu artinya tak ada masalah dengan pendengarannya." Tutur Dian sembari memainkan jemari Zafa.
"Ibu yakin, Zafa anak yang hebat. Dia pasti akan bisa melewati semuanya."
"Iya bu .."
"Mama, Ina nimum." Zafrina merengek ingin minum.
"Iya sayang ini .." Dian memberikan Zafrina botol minumnya. Namun Zafrina menyodorkan botol itu pada Zafa.
"Apha au?"
Dian tersenyum mengusap kepala Zafrina.
.
__ADS_1
..
...
"Bagaimana kondisinya?" tanya Arya, ia baru sadar jika wanita yang ditolongnya adalah mantan istri Gerry.
"Hasil lab menunjukkan pasien positif HIV. Selain itu dia juga mengkonsumsi narkoba."
Jleb ..!!
Arya begitu terkejut, HIV? bukankah .. ah sudahlah! yang terpenting sekarang siapa yang harus ia hubungi. Tak mungkin jika ia menghubungi Gerry. Ia tak ingin Dian terluka.
"Didi .." gumam Arya, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi adiknya. Didi yang sedang meeting dengan Gerry mau tak mau mengangkat panggilan itu.
Didi : "Ada apa menelepon ku?"
Arya : "Setelah pulang kerja, bisakah kau ke rumah sakit."
Didi : "Ada apa memangnya?"
Didi : "Lalu apa hubungannya denganku bod*h?"
Arya : "Aku tak mungkin menghubungi Gerry, aku tidak ingin Dian terluka lagi. Kau mengerti?"
Gerry : "Jangan sekali kali memikirkan istriku. Dian milikku."
Arya : "Sial, kau nyalakan loud speaker?"
Didi : "Maaf, aku kira kau akan membicarakan Veni."
Gerry : "Kau urus saja wanita itu, aku akan ganti semua uang yang kau keluarkan untuknya."
__ADS_1
Gerry langsung mematikan sambungan telepon Arya, wajahnya memerah menahan amarah.
"Apa maksudmu membiayai Selena? Apa kau ingin menyakiti Dian lagi hah ..?" Geram Didi, ia mencengkeram kerah jas Gerry. Namun dengan sigap Gerry segera menepis tangan Didi.
"Istriku akan menjadi urusanku. Jangan pernah sekalipun memikirkannya. Dia milikku."
"Sekali lagi kau membuat Dian menangis, aku tak akan segan-segan merebutnya darimu." Ujar Didi kesal, ia meninggalkan ruangan Gerry dengan membanting pintu. Hingga Sigit langsung menatap tajam pria itu, namun Didi sama sekali tak memperdulikan keberadaan Sigit.
"Sigit .." Teriak Gerry dari dalam ruangan.
"Cepat kau cari tahu kenapa Selena masuk rumah sakit? dan berikan aku apapun informasi yang kamu dapat." Ujar Gerry, Sigit pun segera undur diri dari ruangan bosnya itu.
Pantas saja tuan Didi begitu marah. Lagi lagi tuan berurusan dengan nyonya Selena. Semoga saja nyonya Dian tidak kabur lagi.
Sigit segera meninggalkan perusahaan Ardana menuju ke rumah sakit dimana Arya bekerja.
.
..
...
Gerry kembali berkutat dengan berkas-berkas yang ada di meja-nya. Namun sekarang fikiran Gerry benar benar tidak bisa fokus. Ia selalu kepikiran tentang Dian. Mengingat kata-kata sahabatnya membuat Gerry kembali dirundung emosi.
"Sial .." Gerry langsung menyambar jas dan tas kerjanya. Ia segera bergegas keluar dari ruangannya.
"Pak anda mau kemana? nanti jam 2 anda ada meeting dengan ..."
"Tunda saja. Mundurkan jadwalnya besok! saya sedang ada urusan penting." Sela Gerry sambil terus berjalan. Mona sang sekertaris langsung bengong saat atasannya secepat kilat menghilang dari pandangan.
"Huh .. dasar semaunya sendiri mentang mentang." Gerutu Mona.
__ADS_1
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Dikit dulu ya guys lagi repot yasinan saudara..