
⛅ Selamat membaca ⛅
Aldo berjongkok di depan ranjang Veni, ia pandangi wajah pucat itu.
"Maukah kau memaafkanku?" Veni belum bereaksi sama sekali. Ia masih terdiam memandang langit sore.
"Aku tahu kesalahanku sangat besar padamu dan tak termaafkan. Tapi bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi? Beri aku satu kesempatan lagi." Pinta Aldo.
"Pergilah, jangan mengasihani diriku. Aku hanya wanita penyakitan. Untuk apa kau meminta kesempatan padaku. Kau masih muda, dan mapan. Kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau mau. Jangan buang waktumu untuk wanita penyakitan sepertiku." Kata Veni, tak urung air matanya mengalir dengan deras. Kenapa baru sekarang pria ini bersikap baik padanya? Kenapa setelah ia menderita sakit seperti ini, baru pria ini mau berkata lembut padanya.
"Aku tidak mengasihani dirimu. Aku hanya terlambat menyadari perasaanku padamu." Elak Aldo.
"Perasaan kasihan?"
"Bukan, aku benar-benar telah jatuh cinta padamu." Kata Aldo, Veni tertawa.
"Cinta ..? aku bahkan lupa bagaimana rasanya. Kau sudah menyakitiku sedalam ini dan sekarang kau bicara tentang cinta? jangan omong kosong."
"Maka dari itu beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan menutup luka yang telah ku buat." Aldo menggenggam jemari Veni.
"Kita lihat saja nanti." Gumam Veni lelah menanggapi Aldo. Ia memejamkan matanya untuk menghindari berbicara dengan Aldo.
Tanpa di sangka Didi masuk ke ruang perawatan Veni.
"Bagaimana kondisinya." Tanya Didi.
"Sejauh ini masih observasi. Kemungkinan Lisa aku akan bawa dia ke Singapura untuk berobat sekaligus aku ingin menikahinya dan menetap disana." Kata Aldo.
"Apa wanita ini setuju?" tanya Didi.
"Setuju atau tidak aku akan tetap membawanya. Aku tidak ingin dia sama seperti ayahnya. Aku akan merubahnya sedikit demi sedikit. Aku tak mau Rian Al Fares ataupun Gerry menyakiti Veni." Kata Aldo. Veni yang sebenarnya tak tidur memilih tetap terpejam untuk mendengarkan percakapan kedua pria itu.
"Aku tak menyangka kau akan jatuh cinta dengan tawananmu." Ledek Didi.
"Aku pun tak pernah menyangka akan jatuh cinta lagi. Ku pikir cintaku mentok pada mendiang adikmu. Tapi nyatanya Veni lebih bisa membuatku marah dan sedih dalam waktu bersamaan. Dia bisa membuat hatiku bergetar hanya melihat senyumnya. Meskipun awalnya aku ragu. Tapi kini aku yakin, aku mencintainya."
Didi hanya tersenyum menanggapi sahabatnya itu. Sahabat yang begitu mencintai mendiang adiknya Gita. Aldo bahkan rela keluar dari pekerjaannya dan membuka usaha sendiri agar bisa menyesuaikan jadwal Gita yang waktu itu masih sekolah. Namun siapa sangka usia gadis itu hanya sampai 18 tahun. Waktu ulang tahunnya menjadi hari kematian gadis itu. Aldo begitu terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri. Andaikan waktu itu dia mengantar Gita ke pantai. Pasti sekarang gadis itu masih hidup. Gita nekat berangkat ke pantai untuk merayakan ulangtahunnya. Gita yang baru bisa membawa mobil nekat membawa mobil sendiri. Hingga kejadian nahas itu terjadi. Gita tak dapat mengontrol laju mobilnya karena berpapasan dengan bus pariwisata di jalan yang sempit hingga mobilnya jatuh ke jurang. Dan Gita tewas di tempat.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga hatiku."
__ADS_1
"Kau ini bicara apa? Semua ini sudah rencana Tuhan untukmu. Jadi terima saja. Lagipula adikku sudah tenang disana." Kata Didi -- "Lagipula jika kau merasa bersalah pada adikku harusnya sejak dulu. Bukannya baru sekarang."
.
..
...
"Mas, mama mana? ko dari tadi ga kelihatan?" Tanya Dian. Gerry mengangkat bahunya. Ia pun tak mengerti kenapa akhir akhir ini ibunya sering menghilang.
"Aku juga tidak tahu. Palingan arisan seperti biasanya." Kata Gerry. Keduanya kini sedang bersiap untuk menghadiri acara siraman Nino.
"Ayo .." Gerry menarik Dian Perlahan dan merangkulnya menuju rumah kakek Kusuma yang sudah dipenuhi oleh kerabat dari mendiang ibu Nino. Dan juga sahabat dan rekan bisnis Nino.
Di acara itu tanpa di duga sebelumnya, Soni yang merupakan sahabat Burhan sekaligus Hanafi. Ternyata diundang oleh Nino karena mereka berdua adalah rekan bisnis.
"Hanafi .." Gumam Soni. Karena setahu Soni Hanafi sudah mati karena kecelakaan.
"Kau benar Hanafi kan?" Ujar Soni masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Soni ..!" Seru Hanafi senang. Ia pun memeluk sahabatnya itu dengan erat. Mereka saling melepas rindu.
"Bukankah kau sudah .."
"Jika aku menceritakan sesuatu apa kau akan mempercayai ku?" tanya Hanafi.
"Tentu saja. Kau sahabatku. Aku senang kau masih hidup." Kata Soni.
"Kematianku adalah rekayasa Burhan."
"A-apa .. kenapa bisa begitu?" Tanya Soni setengah tak percaya.
"Dia ingin menguasai rumahku. Makanya dia berniat membunuhku dengan mensabotase motor milikku. Tapi sayang, bukan aku yang jadi korban tapi karyawan ku. --- Karena waktu itu aku sibuk mengurus pemakaman, dan lain lain. Aku pikir Dian aman di tangan Burhan. Tapi aku salah. Mereka justru menyiksa Dian. Mereka menjual rumahku dan membakarnya. Bahkan saat aku kerumahku Burhan berkata jika putriku meninggal dalam kebakaran itu." Soni semakin tak menyangka sahabatnya tega berbuat hal seperti itu..
"Tapi kenapa Burhan berbuat seperti itu?"
"Aku juga tak tau alasannya. Bahkan dia menjual putriku pada keluarga Al Fares untuk menutupi hutang judinya. Menjadikan putriku sebagai rahim sewaan." Kata Hanafi. Soni langsung kehilangan kata-kata. Ini benar-benar keterlaluan. Mereka semua bersahabat. Tapi bagaiman mungkin Burhan tega berbuat seperti itu.
"Aku tak tau harus berkata apa." Ucap Soni.
__ADS_1
"Kau tak perlu berkata apa apa. Kau bisa mencari tau sendiri. Dirumah ini banyak saksi hidup. Putriku, Rian Al Fares. Kau bisa tanyakan pada mereka, tentang apa yang terjadi. Aku pun tak menyangka, padahal selama ini aku sudah sering membantunya."
"Maafkan aku Hanafi bukan maksudku meragukan dirimu. Aku hanya masih tak menyangka Burhan bisa berbuat hal keji seperti itu."
"Aku pun juga sama." Jawab tuan Hanafi..
"Ayah .." Dian datang mendekat memeluk ayahnya dengan erat seolah sudah lama mereka tak bertemu.
"Hati hati dengan perutmu sayang." Ujar tuan Hanafi sambil tersenyum --- " Oh iya, kenalkan ini paman Soni sahabat ayah." Lanjut Tuan Hanafi.
"Dian .."
"Senang berkenalan denganmu nak." Kata Soni mengusap puncak kepala Dian.
"Aku juga senang bertemu paman. Silahkan nikmati pestanya paman. -- Ayah aku kesana dulu."
"Putrimu sangat cantik." Ujar Tuan Soni.
"Ya dia sangat mirip dengan istriku."
.
..
...
"Gerry, apa kau marah pada ibu?" tanya nyonya Arimbi.
"Tentu tidak Bu, saya sadar selama ini belum bisa mengontrol emosi saya." Jawab Gerry.
"Ibu hanya ingin berdamai dengan masa lalu. Agar dimasa depan tak ada lagi penyesalan. Bukan berati ibu melupakan dengan apa yang mereka lakukan pada Dian."
"Gerry mengerti Bu .. !"
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Sekuntum mawar merah,
bolehkah aku minta...
__ADS_1
Sebagai hadiah aku udah Up.
Jangan lupa like dan koment