
********
Didi dan Selin berada diruang kerja raja Aaron. Mereka saling menggenggam jemari satu sama lain. Keringat dingin membasahi kening Didi. Bahkan tangannya sudah basah karena keringat.
"Jadi kau? orang yang sudah menghamili putriku?" tatapan tajam raja Aaron seakan membelah tubuh Didi. Didi sudah kepalang tanggung tak bisa mundur lagi.
"Maafkan saya yang mulia." Kata Didi.
"Ayah, ini semua salahku. Aku yang memaksanya." Bela Selin, cintanya untuk Didi bukanlah cinta yang biasa. Ia bahkan rela diasingkan agar pria itu selamat dari amukan keluarganya.
"Putri Selina Kyle jangan menyela pembicaraan kami." Geram raja Aaron.
"Aku tidak menyela ayah, aku hanya memberi tahu kebenaran pada ayah, Jangan menuduhnya. Dia pria baik-baik."
"Putri Selina, sebaiknya kamu keluar dari ruangan ini." Desis raja Aaron.
Selina tak mau beranjak sedikitpun dari ruangan itu. Dia memilih duduk di sofa, sedangkan Didi masih berdiri tegak.
"Apa yang bisa kau berikan untuk putriku."
"Aku hanya memiliki cinta untuk putrimu. Aku berjanji akan membahagiakan Selin dan Judy dengan segenap hati dan jiwa. Aku akan pertaruhkan nyawaku untuk melindungi mereka." Kata Didi, ada senyum samar yang tersungging di bibir Raja Aaron.
"Apa cinta saja sudah cukup?" tanya raja Aaron lagi.
"Bagi saya cukup. Asalkan saya mencintai Selin dan begitu juga sebaliknya, setelah itu kami akan berjuang bersama." Jawab Didi
"Baiklah jika kau berkata demikian, aku akan memberikan ujian cinta untukmu." Ujar raja Aaron menyeringai.
"Apa itu yang mulia?" tanya Didi, semoga saja tidak terlalu sulit untuk membuktikan kesungguhan dirinya.
"Rahasia, kau akan mengetahuinya besok." Kata raja Aaron.
.
.
.
Raja Aaron berlalu dengan seulas senyum tipis. Rupanya Didi masih belum mengingat dirinya.
Sesampainya di kamar pribadi raja langsung di sambut dengan pertanyaan ratu Rakila.
"Bagaimana yang mulia? Apa dia mengingat kita?" Raja Aaron menggeleng.
Awalnya ia dan ratu Rakila masih belum yakin apakah pria ini sama seperti pria kecil yang mereka kenal. Dan untuk memastikan semuanya raja Aaron menghubungi nenek Soraya, dan jawabannya benar-benar membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Aku kira, kita tak akan bertemu dengan anak itu lagi." Kata raja Aaron.
"Iya kau benar, dan dulu sepertinya dia sangat tidak menyukai Selin. Tapi sekarang malah jadi saling mencintai." Kata ratu Rakila. Mengingat masa-masa dulu.
.
.
Flashback on
"Ardi kemarilah .." Panggil nenek Soraya. Pada seorang anak laki-laki yang berumur 13 tahun.
"Ada apa nenek, kau menggangguku saja." Kata Ardian (atau Didi kecil) mendengus kesal.
"Sini sayang ..! Ini nenek mendapatkan tamu dari luar negri." Didi pun mendekat dan menatap ketiga orang itu dengan seksama.
Selin saat itu bersembunyi di belakang tubuh sang ayah.
"Nenek, apa gadis itu takut padaku?" tanya Didi penasaran melihat Selin yang bersembunyi sambil memeluk boneka tedy kesayangannya.
"Dia hanya malu." Jawab raja Aaron tertawa melihat tingkah Didi.
"Mau main bersama?" tawar Didi, sejenak Selin kecil menatap kedua orangtuanya, mereka serentak mengangguk. Selin menerima uluran tangan Didi.
Keduanya berjalan bergandengan menuju kebun strawberry.
"Tentu saja bibi Soraya tau apa tujuan kami datang kemari." Jawab raja Aaron.
"Apakah ibumu masih belum menyerah permaisuri?" tanya nenek Soraya pada ratu Rakila.
"Bagaimana lagi bibi Soraya, lahan yang disana tidak seperti di perkebunan ini. Dan ibuku menginginkan disini untuk menghabiskan masa tuanya."
"Tapi itu tidak bisa sayang, kau tau perkebunan ini peninggalan suamiku. Dan banyak kenangan kami disini." Jika ibumu mau aku masih memiliki satu tempat lagi namun sedikit jauh dari tempat ini. Tempat itu dulunya juga dikelola oleh suamiku." Tawar nenek Soraya.
"Baiklah bibi, katakan dimana tempatnya kami akan kesana. Karena ibuku selalu menangis jika berada di negara T. Dan dia menginginkan tinggal di perkebunan seperti saat menyewa villa itu." Rakila menunjuk villa di samping kebun teh milik nenek Soraya yang memang disewakan.
Raja Aaron berniat membeli area perkebunan milik nenek Soraya untuk ibu mertuanya. Raja Aaron tak ingin hanya menyewa karena semua demi kenyamanan ibu mertuanya. Namun nenek Soraya benar-benar tidak mau melepas perkebunan ini.
"Apa Eliana tidak mau kembali ke kampung halamannya?" tanya Soraya.
"Kami sedang merenovasi ulang rumah ibu, itulah kenapa ibu ngotot ingin menempati perkebunan ini." Kata Rakila.
Disaat semua sedang sibuk membahas perihal perkebunan, Didi datang menggendong Selin di punggungnya, dan gadis itu dengan tenangnya memeluk leher Didi dan kepalanya bersandar di pundak pria kecil itu.
"Nenek gadis ini menyebalkan sekali." Kata Didi kesal.
__ADS_1
"Ardi, jaga bicaramu!"
"Ratu Rakila tertawa mendengar gerutuan Didi. Karena kedua kakak Selin pun juga merasa adiknya begitu menyebalkan.
"Memangnya ada apa sayang?" tanya ratu Rakila halus.
"Dia meminta gendong dari kebun apel sampai disini, dan lihatlah dia justru malah tertidur." Wajah kesal Didi membuat raja Aaron tertawa.
"Lain kali aku tidak mau main lagi dengannya." Kata Didi.
"Jangan terlalu benci Boy, bagaimana jika kelak kalian justru berjodoh." Celetuk raja Aaron.
"Huh .. aku tidak mau menikahi gadis menyebalkan ini." Kata Didi, ia menurunkan Selin ke pangkuan ibunya.
Flashback Off
.
.
.
Raja Aaron masih mengingat jelas wajah Didi. Pria yang sejak kecil menolak putrinya. Tapi kini dia dihadapkan dengan pria itu lagi. Bagaimana jika raja Aaron mengingatkan Didi akan kejadian yang lampau. Pasti akan sangat menyenangkan menggoda pria itu. Bahkan raja Aaron masih menyimpan foto Didi yang terlihat kesal saat mereka akan berpamitan pulang.
"Kenapa anda tersenyum yang mulia?" tanya ratu Rakila.
"Aku hanya membayangkan wajah pria itu jika kesal. Pasti sangat menyenangkan. Awalnya aku memang kecewa dengan perbuatan Selin. Tapi melihat jika Ardian lah yang akhirnya berjodoh dengan Selin, aku tidak akan menghalangi mereka." Tutur raja Aaron.
"Aku juga menyukai anak itu sejak kecil. Meskipun mulutnya berkata tidak suka, atau kesal terhadap Selin. Namun tindakannya berkata yang sebaliknya. Bahkan aku masih ingat saat itu bisa saja dia membangunkan Selin dengan kasar. Tapi justru anak itu meletakkan Selin dengan hati² agar tidak terbangun." Ujar ratu Rakila.
Kini kedua paruh baya itu tertidur karena lelah, sedangkan obyek yang mereka bicarakan sedang asyik melakukan video call dengan sang anak.
"Dady, kenapa baru menghubungi ku?" gerutu Judy.
"Maaf sayang tadi banyak hal yang harus Dady urus." Kata Didi mengulas senyum.
"Apa kakek memarahi Dady? "
"Tidak sayang .." Jawab Didi, Selin masuk ke kamar Didi, dia duduk diatas pangkuan pria itu lalu mengobrol dengan putrinya. Setelah puas berbicara Didi mematikan sambungan teleponnya karena Judy harus istirahat.
"Apa kau yakin menerima tantangan ayah?" tanya Selin matanya menatap ragu kepada Didi.
Didi membelai wajah Selin lalu menyematkan ciuman yang begitu dalam di bibir Selin.
"Kau hanya perlu mempercayai ku. Akan ku buktikan jika aku benar-benar mencintaimu." Bisik Didi. Nafas keduanya kini terasa semakin memburu. Selin memiringkan wajahnya dan melu*mat bibir Didi yang bervolum.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Ardian." Desis Selin disela ciumannya.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅