Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 34


__ADS_3

🌼Selamat membaca🌼


Hari ini Gerry bersiap berangkat ke kantor. Jadwal yang begitu padat membuatnya tak bisa menemani Dian di rumah.


Pagi tadi dokter Nisa datang ke rumah untuk mengecek kondisi Zafrina, beruntungnya demam Zafrina sudah reda. Bahkan pagi ini gadis kecil itu sudah berceloteh dengan riang.


Kondisi Dian juga sudah membaik meskipun wajahnya masih sedikit pucat.


Dengan cekatan Dian memasang dasi Gerry, namun laki² itu justru asik memandangi paras cantik istri mungilnya itu. Ia tak pernah bosan menatap wajah wanita yang beberapa bulan terakhir namanya selalu memenuhi sudut hatinya.


Ya Gerry sadar, ia telah jatuh cinta pada wanita yang awalnya hanya dipersiapkan untuk menjadi ibu susu anaknya. Namun siapa yang menyangka takdir menuntunnya untuk menikahi ibu susu baby Zafa.


Dian mengusap dasi yang sudah terpasang, menepuk halus jas suaminya, bibir tipisnya tersungging senyum cerah. Senyum yang selalu bisa membuat Gerry menahan nafasnya karena begitu terpukau.


"Sudah beres.."


"Terima kasih sayang.." Gerry mengecup kening Dian. Wanita itu hanya memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang merasuk ke dalam hatinya lewat ciuman itu.


"Ayo kita turun. Nanti mas terlambat ngantor." Dian menggandeng tangan Gerry, namun pria itu menahan tangan Dian hingga tubuh Dian berbalik dan membentur dada bidang Gerry.


"Maafkan kesalahanku kemarin. Aku tidak berniat menyakitimu. Aku hanya takut kehilanganmu." Ujar Gerry, Dian tersenyum mendengar permintaan maaf Gerry. Dari semalam pria itu terus menghujaninya dengan kata maaf.


"Aku tau mas, aku sudah memaafkanmu. Maafkan aku juga karena sifatku masih kekanak-kanakan." Kata Dian menyandarkan kepalanya di dada bidang Gerry.


Untuk sejenak keduanya larut dalam kehangatan. Cinta mampu menghangatkan kebekuan yang sempat tercipta karena rasa cemburu Gerry yang terlalu berlebihan.


Saat di ruang makan, Dian melayani Gerry dengan mengambilkan makanan untuknya. Pria itu terus memandang setiap gerakan Dian yang luwes. Berbeda dengan istri pertamanya yang selalu acuh, bahkan cenderung tidak bisa berbuat apa² selain berdandan dan menghabiskan uangnya.


Gerry menghela nafasnya kasar, menepis bayangan Selena dari ingatannya.


"Ada apa mas, apa ada yang kurang?" tanya Dian mendengar suaminya seolah merasa jengah.


"Ah.. tidak. Mas hanya merasa berat meninggalkanmu. Tapi kerjaan mas begitu banyak. Apa lagi sebentar lagi kita akan ke Amerika lagi untuk cek up kondisi Zafa." Ujar Gerry berkilah. Ia sebenarnya tak ingin membohongi Dian, tapi dia pun tak ingin Dian sakit hati mendengar jika dirinya masih mengingat mantan istrinya.


.


.


.

__ADS_1


Gerry saat ini sudah berkutat dengan laptop dan berkas² yang menumpuk. Hingga ketukan pintu terdengar.


"Maaf pak, dibawah ada nona Selena mencari bapak." Ucap Monika, Sigit yang ada di belakang Gerry mengetatkan rahangnya. Sedang Gerry merasa tak percaya Selena berani mendatanginya.


"Suruh seseorang mengantarkannya kemari." Ujar Gerry, Monika mengangguk lalu berlalu dari ruangan Gerry.


"Apa tuan yakin ingin menemuinya?" Sigit bertanya dengan nada ragu.


"Kita lihat, apa yang akan dilakukannya!" Sebenarnya sudut hati Gerry merasakan keresahan yang tak terjabarkan.


Saat Selena masuk, tatapan mata Gerry dan Selena bersiroboh ada kerinduan dari tatapan Selena, namun Gerry hanya menampilkan tatapan datarnya.


"Wah, ada angin apa yang membuat nona Selena mendatangiku?" sinis Gerry.


"Bisakah kita bicara berdua saja?" Ucap Selena penuh harap.


"Aku tidak bisa menyuruh Sigit keluar dari ruangan ini. Karena Sigit adalah telinga dan mataku." Kata Gerry, mendengar suara Gerry yang terkesan dingin padanya membuat hati Selena berdenyut nyeri. Sesakit inikah diacuhkan. Pria ini dulu begitu memujanya tapi kini sepertinya namanya sudah terlempar dari hati Gerry.


Namun Selena tetap tak patah semangat. Ia akan mendapatkan Gerry apapun yang terjadi. Rian sudah membuangnya. Harapan satu²nya hanya pada mantan suaminya ini.


"Ijinkan aku bertemu putraku." Selena menatap Gerry dengan tatapan sendu. Tapi pria itu justru tersenyum miring mendengar permintaan konyol mantan istrinya.


"Aku hanya ingin memeluk dan menyentuh putraku. Putra yang lahir dari rahimku." lagi² ucapan Selena hanya mendapat tatapan remeh dari Gerry.


"Jangan buang waktuku dengan omong kosongmu Selena. Sampai kapanpun aku tak akan mengijinkan dirimu bertemu dengan putraku. Kau yang sudah meninggalkannya. Kau membuangnya disaat dia sangat memerlukan kehadiranmu. Jika sudah tidak ada yang kau perlukan lagi kau bisa pergi dari sini." Ujar Gerry menunjuk arah pintu keluar.


Selena mengepalkan tangannya, hingga buku² jarinya memutih. Ia bersumpah akan membuat Gerry kembali bertekuk lutut padanya.


Dengan kesal Selena keluar dari ruangan Gerry.


Setelah Selena keluar dari ruangan Gerry, pria itu menyambar hiasan kristal di mejanya dan melemparkannya ke dinding hingga menimbulkan bunyi nyaring. Tangan Gerry menyapu semua berkas yang ada di mejanya. bahkan laptopnya ikut terlempar. Amarahnya benar² memuncak.


Gerry menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sudut matanya basah. Tak dipungkiri meski dia sudah mengikhlaskan Selena, tapi tetap ia tak bisa menghilangkan kenangan yang pernah tercipta diantara mereka.


Apalagi mengingat Selena meninggalkan Zafa dalam keadaan yang sangat memprihatikan. Ia benar² tak bisa memaafkan perbuatan wanita itu.


Sigit hanya diam berdiri menyaksikan kemarahan tuannya itu. Pria itu memilih diam dan tidak menginterupsi gerry.


"Sigit, bereskan semua ini. Aku akan kembali ke rumah. Kau kirimkan ulang file yang tadi dan surel yang kemarin di kirim oleh D.A company ke emailku. Aku akan mengeceknya dirumah." Ucap Gerry.

__ADS_1


"Baik tuan..!" Jawab Sigit. Setelah Gerry berlalu Sigit membuang nafas kasar. Lagi² dia hanya kebagian imbasnya untuk membereskan kekacauan yang di sebabkan oleh bosnya itu.


Dengan kecepatan sedang, Gerry menuju ke kediamannya. Ia bergegas menaiki tangga, saat membuka pintu kamar ia melihat Dian berdiri di balkon, dengan langkah setengah berlari Gerry memeluk Dian dari belakang.


Ia menghirup aroma rambut Dian yang mampu menenangkan hatinya yang bergejolak sejak tadi.


Dian hendak berbalik namun pelukan Gerry semakin erat di perutnya.


"Biarkan aku seperti ini sebentar saja." Gerry memejamkan matanya. Mencoba menekan segala kegundahannya.


Dian merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada Gerry. Ia mengelus tangan Gerry yang melingkar di perutnya, memberikan kenyamanan tersendiri bagi Gerry.


"Apa terjadi sesuatu mas?"


Gerry menggeleng di pundak Dian. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Nafas pria itu memberat. Kini ada desakan dari tubuh bagian bawahnya. Gerry mengangkat tubuh Dian. Dan membawanya ke ranjang. Dian terkejut dengan gerakan Gerry yang begitu mendadak.


"Mas.. !" Dian tak dapat melanjutkan kalimatnya karena kini bibirnya dilu*mat dengan rakus oleh Gerry. Pria itu terus menggerakkan bibirnya menyusuri leher jenjang Dian, menggigitnya dan meninggalkan bekas kissmark.


"Aah.. mas!" Dian mendesah saat bibir Gerry bergerak turun ke arah dadanya yang sudah tersingkap kancingnya.


Saat situasi mulai memanas pintu kamar terbuka.


"Sayang, Zafa belum kamu susui." Nyonya Arini tertegun menatap ke arah Gerry dan Dian dalam posisi intim.


Menyadari kehadirannya diwaktu yang salah nyonya Arini bergegas keluar.


"Maaf, mamah ga lihat. Kalian silahkan lanjut." Ujar nyonya Arini menutup kembali pintu kamar mereka. Wajah Dian langsung memerah malu.


Gerry menggeram kesal "Mamah...!!"


(*ya ga jadi deh 😀😀) othor langsung mesem.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih sudah mampir. 😘😘


jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiah buat othor sebanyak²nya ya*

__ADS_1


__ADS_2