Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Ara Kerja?


__ADS_3

*******


Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Arsen melihat Ara tertidur dengan buku menutupi sebagian wajahnya lucu sekali. Ia melirik kearah meja Wanda dimana wanita itu masih menunggu dirinya jika lembur. Sebenarnya Arsen enggan mencampur adukkan masalah pribadi dan kantor. Tapi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan maka Arsen akan mengubah pola kerjanya.


"Kau bisa pulang Wanda." Ujar Arsen, Wanda yang sedang mengetik jurnal kerja Arsen berhenti sesaat.


"Memangnya kenapa saya harus pulang pak?"


"Ya karena jam kerja kamu sudah selesai." Kata Arsen santai.


"Bukan karena ada dia, kamu ngusir aku?" Wanda langsung mengubah gaya bicara formal menjadi santai setelah Arsen mengatakan jam kerjanya telah selesai.


"Kalau iya, masalah buat kamu." Jawab Arsen datar. Dia jadi mengerti apa yang mama Clara maksudkan tadi sebelum dia benar-benar meninggalkan Ara.


Flashback


Setelah selesai makan Arsen mengantar mama Clara turun ke bawah. Disaat keduanya berada di lift mama Clara menatap serius kearah Arsen.


"Sen, mama sebenarnya ga mau ikut campur urusan pekerjaan kamu. Tapi ada hal yang ingin mama ingatkan sama kamu di awal. Mama harap kamu pikirkan baik-baik.


"Ara itu gadis yang polos. Dia juga sepertinya memiliki hati yang terlalu lembut mudah kasihan dan mudah memaafkan. Mama khawatir suatu saat ada orang memanfaatkan sifat Ara. Kau tahu mama hanya dengan sekali lihat sekertarismu itu mama tahu sifatnya. Dia wanita yang keras hati dan ambisius. Dan mama melihat dia sepertinya menyukaimu. Jika kau benar-benar menyayangi Ara perlakukan dia dengan baik. Jauhkan dia dari wanita itu. Ara anak yatim piatu semakin kamu memuliakan dia maka mama percaya pintu rejekimu akan terbuka dengan sendirinya."


Flashback off


"Aku ga nyangka sejak ada perempuan itu kamu jadi ga profesional Sen." Ketus Wanda.


"Lalu apa hal itu mengganggumu? kau hanya cukup datang kemari untuk bekerja. Bukan mengurusi urusan pribadiku."


"Kenapa kau tidak pernah menganggapku Sen. Selama ini aku selalu memberimu perhatian. Apa kau tak bisa merasakannya?" tanya Wanda dengan wajah memerah meledakan amarah yang sejak tadi ia tahan.


"Kau tau pasti siapa aku. Jadi jangan buang waktumu yang berharga itu. Pulanglah ..!"


"Aku membencimu Arsen."


"Itu lebih baik." Jawab Arsen acuh matanya melirik kearah Ara yang mulai terganggu dengan suara dirinya dan Wanda.

__ADS_1


Wanda meninggalkan ruangan dengan hati yang terasa panas. Ia membanting pintu ruangan dengan keras. Arsen hanya menghela nafas kasar. Dan benar saja, Ara terlonjak dari tidurnya. Arsen merasa kasihan sekaligus menatap lucu wajah kebingungan Ara.


"Aku ketiduran ya Aa? kenapa aku ga dibangunin atuh?" Ujar Ara cemberut, seraya merapikan rambutnya yang berantakan.


"Aku ga tega mau bangunin. Mana tidurnya mangap lagi." Ujar Arsen berbohong. Ia melipat bibirnya ke dalam melihat wajah Ara memerah.


"Hah, serius A' aku tidur sambil mangap?" tanya Ara.


"Iya, kamu kan tidur jadi ga ngrasa. Tapi aku lihat emang kamu tidurnya gitu." Sekali lagi sekuat tenaga Arsen menahan tawanya yang siap meledak melihat wajah Ara yang justru tampak linglung mengingat posisi tidurnya.


"Masa sih A' .. "


"Ga kok, aku bohong. Kamu tidurnya cantik." Ujar Arsen tak tega terus membohongi Ara. Sepertinya ucapan mama Clara tentang Ara yang polos benar adanya.


"Iissh .. Aa." Alis Ara bertaut, bibirnya mengerucut menggemaskan sekali.


"Aa masih lama ya?"


"Kenapa? kamu bosan?" Tanya Arsen, Ara hanya mengangguk.


.


.


.


Kondisi Veni sudah jauh lebih baik, setelah berkali-kali mendapat petuah dari ibu Arimbi. Veni juga dilarang keluar dari mansion oleh Aldo. Wanita itu menurut. Namun Aldo akan mencari keberadaan ibu Veni untuk memastikan jika keselamatan istri dan anaknya terjamin. Jika tidak maka Aldo akan membawa Veni kembali ke Singapura. Tempat kedua orang tua Aldo menetap. Mereka juga pasti senang karena sebentar lagi akan memiliki cucu.


"Lo yakin mau cari nyokapnya Veni?" tanya Gerry, mereka berkumpul di klub milik Aldo yang sebentar lagi akan berpindah tangan menjadi milik anak buahnya Alex. Aldo menjual klub itu pada Alex dengan harga balik modal. Karena Aldo hanya ingin investasi uangnya kembali.


"Ya, gue yakin. Anak buah Alex sudah menemukan keberadaan Wanita itu. Jika dia benar-benar berniat mencelakai Veni, gue bakalan bawa Veni pulang ke Singapura." Kata Aldo.


"Ok gue dukung ide lo. Semoga saja dia sudah tobat. Jika tidak, gue juga ga akan segan-segan melubangi kepalanya jika dia memiliki rencana buruk pada Dian." Kata Gerry.


Sejak penculikan Judy yang melibatkan Dian membuat Gerry semakin waspada dengan keselamatan Dian.

__ADS_1


.


.


.


Ara masih terduduk di depan pusara Abah, air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. Hatinya sakit mengingat hingga sekarang belum bisa mewujudkan keinginan Abah.


"Maafin Ara bah, Ara janji secepatnya akan menyelesaikan kuliah Ara. Ara akan wujudkan cita-cita Abah. Ara akan jadi orang sukses. Agar ga ada yang bisa remehin Ara lagi. Abah pasti senang kan bisa ketemu sama anak dan menantu Abah. Salam ya bah buat mereka. Bilangin Ara disini kangen. Ara sekarang tinggal dirumah Aa Arsen bah. Tapi Ara janji sama Abah Ara akan jaga diri Ara baik-baik, Ara ga akan kecewain kepercayaan Abah."


Setelah berdoa sebentar dan menabur bunga Ara langsung berdiri dibantu Arsen untuk berdiri. Pria itu sejak tadi hanya berdiri dibelakang Ara tanpa berniat mengganggu gadis itu.


"Sekarang mau kemana?" tanya Arsen.


"Aa capek ga? Ara mau ambil buku-buku Ara dulu. Ya sudah kamu tunjukin jalannya. Ambil sekarang jangan ditunda-tunda. Kamu harus secepatnya menyelesaikan kuliahmu." Kata Arsen menjalankan mobilnya.


"Iya A' tapi sebelumnya Ara musti nyari kerja dulu yang bisa disambi kuliah." Kata Ara. Dahi Arsen berkerut.


"Kerja? kenapa harus kerja? aku akan bayari kuliah kamu Ra."


Ara menggeleng. Ia bukan istri Arsen kenapa harus Arsen yang menanggung biaya kuliahnya.


"A' Ara terimakasih sekali aa perhatian sama Ara, aa baik sama Ara, tapi Ara ga bisa meminta lebih. Karena kita tidak dalam ikatan apapun. Biarkan Ara berjuang sendiri untuk kehidupan Ara."


"Ikatan apa yang kamu bicarakan?"


"Ya aa kan bukan siapa-siapa aku. Aa bukan keluargaku, atau suamiku, atau ayahku. Jadi jangan membuat Ara terbiasa bergantung. Ara takut semua ini hanya semu dan tidak nyata."


"Jadi kamu meragukan keseriusan aku Ra?" tanya Arsen sedikit kecewa mendengar ucapan Ara.


"Aa, Ara sama sekali ga ada niatan buat meragukan keseriusan Aa, tapi aa jangan seperti Abah. Ara cuma pengen pembuktian diri bahwa Ara sanggup dan mampu mencari uang untuk diri Ara sendiri."


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Maaf ya othor kemaleman. Tadi dirumah repot banget ada tahlilan, dan lagi anak sulung othor lagi sakit manjanya luar biasa.

__ADS_1


Jangan lupa likenya. 3 jamlagi, part 3 othor bakalan rilis. Kalo kemaleman nunggu tinggal tidur aja dulu.


__ADS_2