Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
New Season 21. Kebahagiaan


__ADS_3

***********


Hari ini tiba dimana Zayn dan Judy tetap pada rencana awal menikah, meskipun Gerry dan Rian masih tetap berada di indonesia. Dian sudah di dandani dengan cantik, wajah pucat nya sudah tak terlihat lagi. Dokter juga sudah mengijinkan Dian untuk rawat jalan asalkan dia tidak terlalu banyak beraktifitas.


Zafa mendorong kursi roda Dian. Pemuda itu juga sudah terlihat rapih dengan memakai jas berwana navy yang pas di badan. Rumah Dian sudah mulai ramai karena keluarga besar mereka berkumpul. Namun Dian tampak duduk melamun tidak memperhatikan sekitarnya.


"Mama kenapa?" Zafa sudah berjongkok di depan kursi roda Dian. Dian tersenyum lalu menggeleng.


"Apa Ina akan datang?" tanya Dian pada Zafa. Pemuda itu mengangguk.


"Apa sekarang mama bahagia?" Tanya Zafa, Dian mengangguk seraya tersenyum.


Flashback


Semalam setelah pembicaraan Dian dengan Zafa, Zafrina datang. Beruntung gadis itu tak tahu tentang masalah sakitnya. Zafrina langsung menghampiri brankar Dian. Wanita itu tersenyum menatap putri nya.


"Dari mana sayang?" Tanya Dian.


"Hmm ... Ina habis ketemu papi. Apa mama keberatan jika Ina ketemu papi?" Wajah Zafrina tampak takut-takut menatap mamanya. Dian membelai rambut Zafrina dengan lembut.


"Mama tidak marah sayang, maafkan mama sudah membuat Ina takut. Mama memarahi papi Ina karena mama tidak suka ada orang yang membuat anak-anak mama bersedih. Bukankah setiap ibu di dunia seperti itu? mereka akan terusik jika anak-anaknya disakiti oleh siapapun." tutur Dian.


"Mama, Ina sayang mama."


"Mama juga sayang padamu."


"Mama bolehkah papi menjenguk mama lagi? Ina lihat papi sangat menyesal sudah membuat mama dan Ina menangis. Papi bahkan juga menangis saat meminta maaf pada Ina." Tanya Zafrina ragu.


"boleh sayang ... "


Zafrina mengetikkan sesuatu di ponselnya tak lama pintu ruangan Dian diketuk dari luar. Gerry dan Zafa sedang di kediaman Judy untuk memastikan acara besok tetap berjalan sesuai dengan janji mereka.

__ADS_1


Zafrina berjalan membuka pintu ruang perawatan itu. Rian tersenyum pada Zafrina. Gadis itu pun membalas senyuman papinya.


Rian masuk dan mendekati brankar Dian. Dian duduk bersandar menatap Rian. Pria itu menunduk di hadapan Dian. Seumur hidupnya dia tidak pernah seperti ini. Rasa bersalah di hati Rian seakan mampu menenggelamkannya hingga ia kesulitan hanya untuk sekedar menarik nafas.


"Papi ... katanya ingin bertemu mama mau minta maaf. Kenapa papi sekarang diam saja?" Protes Zafrina kesal.


Rian mengangkat kepalanya dan tersenyum kaku pada putrinya. Semua kata-kata yang tadi sudah dia siapkan seakan menguap begitu saja saat ia menatap mata teduh Dian.


"Aku sudah memaafkanmu mas, kedepannya aku harap kau tidak akan lagi menyakiti putriku. Aku membesarkannya dengan kasih sayang, bukan untuk kau sakiti." Kata Dian sebelum Rian mengucapkan kata maafnya.


"Papi .... " Zafrina sudah meninggikan alisnya menatap kesal pada Rian. Akhirnya dengan memantapkan hatinya Rian bersuara.


"Dian maafkan aku, tidak seharusnya aku menceritakan masa lalu kita." Ujar Rian. Dian tersenyum ada perasaan lega setelah ia memaafkan pria itu. Pria yang pertama menjamah dirinya. Pria yang mengenalkan dirinya dengan sebuah rasa sakitnya hidup sendirian tanpa keluarga.


Tak lama pintu di buka dari luar tampak Zafa dengan mata yang sembab menghampiri Dian dan memeluknya erat. Dian menatap Gerry seakan mencari jawaban mengapa putranya menangis.


"Kami baru saja pulang dari makam Selena." Ujar Gerry, Dian mengusap kepala putranya yang kini tubuhnya melebihi dirinya.


"Apa kau sudah senang melihat makam ibu kamu sayang?" Zafa mengangguk meskipun setelah mendengar cerita dari papanya bagaimana dulu Selena seakan tidak menginginkan dirinya membuatnya sangat terluka. Tapi Gerry bisa mengalihkan kesedihan Zafa menjadi rasa syukur karena memiliki ibu sambung seperti Dian.


Flashback off


Acara yang dinanti oleh kedua keluarga akhirnya terlaksana. Dalam satu tarikan nafas Zayn dapat mengucap ijab qabulnya dengan lancar. Wajah Dian terlihat bahagia tanpa terasa air matanya mengalir. Zafa yang sejak tadi duduk di dekat Dian mengusap lembut air mata ibu sambungnya itu.


"Akhirnya, mama tidak ada beban lagi. Mama berharap anak-anak mama bisa mendapatkan kebahagiaan yang kalian impi-impikan." Ujar Dian,


"Mama pasti akan baik-baik saja. Mama akan sehat kembali. Mama akan menemaniku meminang wanitaku nantinya. mama akan menggendong cucu pertama mama. Mama harus selalu optimis, mama pasti sembuh." Ujar Zafa seraya memeluk ibunya.


Dian pun tersenyum dan mengusap air mata Zafa.


"Jangan menangis sedih di hari bahagia adikmu." Kata Dian ---- "Mama akan berusaha agar mama bisa selalu ada di sisi kalian."

__ADS_1


Zafrina yang duduk bersama papinya merasa aneh dengan air mata Zafa. Kakaknya terlihat jelas menangis tapi itu bukan air mata kebahagiaan seperti yang terlihat dari wajah Zayana dan Zayn.


Setelah acara selesai semua keluarga berkumpul. Gerry menghela nafasnya panjang sebelum membuka percakapan.


"Mama dan papa akan pergi ke luar negeri. Papa harap kalian harus bisa saling menjaga satu sama lain. Jangan saling menyakiti sesama saudara. Terutama kalian yang lebih besar tolong jaga Zafia dengan baik selagi kami tidak ada di rumah." Ujar Gerry.


"Mama sama papa mau kemana?" tanya Zayn


"Singapura sayang. Kami ingin menjenguk tante Veni." Jawab Dian. Dia tak ingin anak-anak terlalu mencemaskan dirinya. Dia lebih tenang menjalani operasi jika anak-anaknya tidak banyak yang tahu.


"Kapan berangkat?" tanya Zayana.


"Nanti malam sayang."


"Apa tidak bisa di tunda dulu ma, kita baru saja berkumpul dengan kakak Ina dan kak Zafa." Ujar Zayn keberatan.


"Kakak kalian akan cuti kuliah dulu hingga kami kembali dari sana." Zayn dan Zayana hanya mendesah berat. Sementara Judy tidak berani bersuara karena dia anggota keluarga baru dirumah itu meskipun sebenarnya Dian sudah menganggap Judy sebagai putri nya sendiri.


.


.


.


Malam hari pun tiba, kelima anak Gerry berdiri di depan pintu. Dian mengecup satu per satu kening anaknya begitu dalam. Zafia menitikkan air matanya. Ia sebenarnya merasakan perasaan tak nyaman entah karena apa. Tapi semoga saja bukan pertanda buruk.


"Mama disana jangan terlalu lelah." Kata Zayana. Dian tersenyum dan mengusap rambut putri nya. Terbesit rasa bersalah di hatinya. Lagi-lagi dia hanya harus pura-pura baik-baik saja di hadapan anak-anaknya dan hal itu adalah keahlian Dian sejak dulu. Dia pandai menyembunyikan perasaannya di hadapan anak-anaknya.


Akhirnya mobil yang Dian dan Gerry berangkat menuju rumah sakit milik Gerry. Sepanjang perjalanan Dian menyandarkan kepalanya di dada bidang Gerry, Gerry memeluk erat tubuh istrinya. Rasanya saat ini ingin sekali dia bertukar posisi dengan wanita yang telah memberinya begitu banyak kebahagiaan. Gerry terus mengecup puncak kepala Dian. Dian hanya meresapi setiap detik waktu yang terlewatkan bersama Gerry sebelum dirinya operasi nanti malam


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Bismillah moga besok satu bab langsung kelar ya.


terimakasih untuk kalian yang selalu mengikuti hingga episode sepanjang ini Kalian benar-benar luar biasa. Maafkan aku yang sering bikin kalian menangis ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


__ADS_2