
⛅ Selamat membaca ⛅
Dian terus melamun sepanjang perjalanan pulang hingga membuat Gerry merasa cemas dengan kondisi istrinya.
"Sayang ..!" Dian menoleh ke arah Gerry lalu melempar senyum.
"Aku tidak apa apa mas."
"Lalu kenapa dari tadi diam .. hemb?" Gerry mengusap pipi Dian lembut.
"Aku hanya khawatir jika sampai om Burhan berbuat nekat. Bisa saja dia menyakiti keluarga kita." Ujar Dian, Gerry menarik tubuh Dian agar bersandar di dadanya.
"Mas janji, ga akan biarkan satu orang pun menyakiti keluarga kita, apalagi anak anak kita." Kata Gerry, Dian hanya mengangguk berharap tak akan ada kejadian buruk yang menimpa keluarganya.
Sesampainya di depan mansion baru Gerry, Dian melihat ada keributan yang terjadi di depan gerbang masuk mansion.
"Mas itu ada apa?" tanya Dian.
"Mas akan keluar untuk melihat. Kau tetap di dalam mobil ok!"
"Tapi aku takut mas," Dian menggenggam pergelangan tangan Gerry dengan erat.
"Kamu harus percaya pada suamimu ini." Kata Gerry berusaha menghilangkan kekhawatiran istrinya. Akhirnya dengan terpaksa Dian mengangguk.
Ia menatap cemas dari balik kaca mobil. Namun justru sekarang tak ada lagi keributan, dan Gerry tampak sedang merangkul seseorang.
Dian akhirnya memilih keluar dari mobil untuk memastikan siapa yang tadi membuat keributan di rumahnya.
"Mas .."
"Sayang, lihat! ini si biang keributan tadi." Ujar Gerry mengapit leher Aldo dengan lengannya.
"Ya ampun mas Aldo .." Dian langsung membekap mulutnya sendiri. Ia hampir saja meledakkan tawanya melihat suaminya bertingkah seperti anak remaja.
"Hai Dian .." Sapa Aldo kikuk.
"Kenapa sampai bikin keributan mas?" tanya Dian, Aldo mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung.
"Maafkan aku Di, bisakah kau ikut aku ke rumah sakit sekarang?" ujar Aldo menyampaikan maksud kedatangannya.
"Untuk apa kau mengajak istriku ke rumah sakit?" Gerry tampak bersungut menahan emosinya.
"Ini berhubungan dengan Veni." Jawab Aldo seraya menunduk, ada kekhawatiran terpancar dari sorot mata pria itu, Dian yang sedikit terkejut mendengar nama Veni di sebut langsung melebarkan matanya.
"Ve-veni .. ada apa dengannya?"
Gerry menatap tajam Aldo, baru tadi Dian pingsan mendengar nama keluarga itu di sebut sekarang Aldo datang membawa nama wanita itu lagi. Sebenarnya apa yang sahabatnya sembunyikan darinya? apa yang tak ia ketahui selama ini? bahkan dirinya sudah jarang bertemu kedua sahabatnya karena sibuk mencari Dian.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku? kenapa kau dan Didi hari ini membahas wanita itu?" Gerry menatap curiga pada Aldo.
"Eh .. itu sebenarnya selama ini Veni ada di tempatku. Maafkan aku Ger. Aku tak ingin membuatmu salah sangka padaku. Aku tau kau sedang memburu gadis itu. Bahkan Rian Al Fares pun terus mencarinya karena dia .."
Gerry mendekati Aldo lalu memukul keras rahang pria itu. Aldo yang tak siap mendapat serangan dari Gerry jatuh tersungkur. Dian menjerit. Gerry terus menghajar Aldo hingga babak belur.
__ADS_1
"Mas sudah .. " Dian berusaha menarik suaminya yang tak kunjung melepas Aldo. Emosi Gerry benar benar memuncak. Bisa bisanya sahabatnya itu menyembunyikan gadis yang sudah berusaha mencelakai istrinya.
"Bangun kau breng*sek ..!"
"Mas .. su - aawh" Dian merasakan sakit di perutnya. Mendengar rintihan Dian, Gerry melepaskan kerah baju Aldo, dan langsung mengangkat tubuh Dian masuk ke dalam rumah dan mengacuhkan Aldo.
"Ma .." Gerry berteriak memanggil ibunya.
"Dori, dimana mama?" tanya Gerry melihat kepala pelayan itu mendekat.
"Nyonya sedang keluar bersama nyonya Arimbi tuan." Dori mendekat seraya memberikan segelas air putih hangat pada Dian. Gerry membantu Dian meminumkan air itu. Setelah minum Dian mencoba mengatur nafasnya hingga perlahan rasa sakit di perutnya menghilang.
Dian memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Ada rasa enggan untuk menatap wajah suaminya. Gerry diliputi rasa bersalah yang teramat sangat.
"Apa masih sakit? apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Gerry cemas melihat Dian yang terpejam dan terus mengusap perutnya.
Dian menggeleng tanpa membuka matanya. Setitik air mata lolos dari sudut matanya. Gerry menghapus air mata Dian.
"Apa aku menyakitimu lagi sayang? jika aku menyakitimu maka pukul-lah aku, atau tampar aku. Jangan diamkan aku seperti ini." Gerry menggenggam jemari Dian.
Dian akhirnya membuka mata, ia menatap wajah Gerry dengan sendu. Tangannya terangkat lalu perlahan ia mengusap pipi Gerry dan melempar senyuman.
"Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Jangan menghakimi siapapun, itu bukan hak kita mas. Mas harus dengarkan alasan Aldo melakukan semua ini. Jangan selalu mengambil kesimpulan yang akan membuat hubungan persahabatan kalian menjadi retak."
"Maafkan mas, sayang!"
"Sekarang bawa Aldo masuk. Kita butuh penjelasan darinya." Gerry mengangguk, ia bergegas keluar mencari keberadaan Aldo. Beruntung sahabatnya itu masih duduk di kursi satpam karena sedang diobati.
"Sudah tuan .."
"Lo sekarang ikut gue." Aldo hanya pasrah mengikuti langkah sahabatnya itu.
.
..
...
"Dimana Aldo?" tanya Arya pada Veni. Gadis itu menggelengkan kepala.
"Apa hasilnya sudah keluar?" tanya Veni.
"Apa dari dulu kau sering merasakan sakit dibagian itu?" Arya berbalik menanyai Veni, dan gadis itu mengangguk.
"Apa ada masalah serius?" tanya Veni mulai cemas. Dilihat dari wajah Arya memang sepertinya ini sesuatu yang serius.
"Katakan saja padaku! aku berhak tau kondisiku." ucap Veni mulai gusar.
"Kau menderita kanker ovarium stadium 3." Ujar Arya.
Duaarr ..!!
Dunia Veni seakan runtuh seketika, air matanya luruh membasahi wajahnya yang pucat. Apa ini karma untuk dirinya? Ia terus menangis, tak memperdulikan tatapan iba Arya.
__ADS_1
"Apa aku masih bisa sembuh?" tanya Veni.
"Ada kemungkinan kau masih bisa sembuh. Tapi untuk bisa memiliki anak kemungkinannya hanya 10%. Aku harus mengobservasi dulu apakah kanker itu telah menyebar ke bagian lain atau tidak. Jika tidak, kita bisa langsung melakukan operasi pengangkatan." Tutur Arya.
Veni hanya bisa pasrah. Mungkin ini memang karma untuknya yang selalu berbuat buruk.
.
..
...
"Bagaimana kondisi Veni bro?" tanya Didi pada kakaknya.
"Sejauh ini menurut pemeriksaan dia menderita kanker ovarium. Dan sudah terbilang parah. Tapi aku juga merasa tidak tega melihat wajahnya yang putus asa itu."
"Apa kau sudah menghubungi Aldo?" tanya Didi.
"Ponselnya bahkan tidak aktif." Ujar Arya.
.
..
...
"Ma .. Zafrina mana?" tanya Dian melihat ibu mertuanya masuk ke rumah hanya membawa Zafa.
"Biasa, putrimu diculik oleh ibumu. Sekarang bersiap siaplah. Kita akan makan malam di rumah kakek Kusuma." Ujar nyonya Arini. Yang tak memperhatikan jika disana ada Aldo dan Gerry.
"Sore tante .." Aldo menyapa nyonya Arini.
"Lho ada Aldo. Maafkan tante ya yang tidak melihatmu."
"Ga apa apa tante."
"Lho itu muka kamu kenapa babak belur gitu?" nyonya Arini mendekat menyentuh wajah Aldo. Namun Aldo hanya diam melirik Gerry. Sedang Gerry masih enggan bersuara.
"Itu mah, anak mama mau jadi petinju." Jawab Dian enteng. Gerry dan Aldo berbarengan menoleh ke arah Dian.
Nyonya Arini yang kesal langsung memukuli lengan Gerry.
"Kamu ya, berasa jadi jagoan?" ujar nyonya Arini geram dengan sifat Gerry yang susah mengendalikan emosi.
"Aduh .. aduh mah. Udah dong badan Gerry sakit semua." Rajuk Gerry.
"Makanya jangan jadi sok jagoan. Kan kasian wajah Aldo jadi kaya gini." Nyonya Arini kembali mengusap wajah Aldo.
Dian hanya terkekeh melihat suaminya dimarahi ibu mertuanya.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa like komen dan Vote ya. See you 😘😘
__ADS_1