
*******
Hari ini cuaca di ibukota mendung, begitupun suasana di kediaman tuan Kusuma. Semua anak cucu berkumpul karena kondisi tuan Kusuma yang semakin memburuk.
Semua yang ada di mansion itu tampak bersedih. Tuan Kusuma yang dulunya tampak gagah kini kian rapuh tergerus masa. Usianya yang tak lagi muda membuat tuan Kusuma sulit melawan penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhnya. Dian terus menangis di pelukan Gerry, tak ada lagi keceriaan yang ada hanya isak tangis dan air mata.
"Jangan seperti ini ...!! Kasihan kakek." Bisik Gerry. Meskipun kepala dian mengangguk tapi air matanya sulit di kendalikan.
Veni dan aldo juga turut mengambil peran disana. Meskipun Veni hanya keluarga angkat Hanafi namun kehadirannya selalu mendapat sambutan baik. Saat ini Selain keluarga ada pihak lain yang hadir di rumah mewah itu. Yaitu pengacara kakek Kusuma.
"Saya rasa kalian pasti tahu maksud kedatangan saya disini. Tanpa ingin buang waktu lagi saya selaku pengacara dam team saya akan membacakan surat wasiat yang kakek Kusuma buat beberapa bulan yang lalu. Ini bertujuan agar jika ada yang keberatan dengan pembagian ini, setidaknya tuan Kusuma selaku pemilik aset bisa melihat langsung semuanya." Kata pengacara itu, Namun tidak ada respon sama sekali dari anggota keluarga. Mereka hanya mengangguk lemah. Tanpa ada keinginan untuk menjawab.
"Baiklah, karena kalian semua sudah berada disini. Saya akan membacakan surat wasiat yang Tuan Kusuma buat." Lanjut pengacara itu.
Setelah pengacara membacakan beberapa wasiat yang tuan Kusuma bagi untuk anak cucu dan cicitnya. Dan penandatangan pengesahan surat wasiat itu telah berjalan lancar meskipun penuh haru. Pengacara dan teamnya meninggalkan mansion mewah tuan Kusuma yang menjadi milik Dian.
Semua keluarga menatap pria yang terbaring diranjang dengan berlinang air mata. Dian mendekat kearah sang kakek, dia menggenggam jemari lemah itu. Lalu dian mendekatkan bibirnya di telinga kakek Kusuma.
"Kalau kakek sudah tidak sanggup bertahan. Kami sudah ikhlas melepaskan kakek. Terimakasih sudah menyayangi kami selama ini." Bisikan Dian. Sekuat tenaga dia menahan kristal bening yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Tak lama setelah itu kakek Kusuma pergi untuk selama-lamanya. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Dian membetulkan letak tangan kakeknya. Lalu mencium dahi sang kakek. Semua terdiam dengan air mata yang mengalir deras. Terlebih Nino, ia begitu kehilangan sosok yang mengayomi hidupnya selama ini. Ia bersandar di pundak sang istri dan menangis dalam diam. Berbeda dengan yang muda, Hanafi dan Arimbi justru sedang berusaha menguatkan Dian yang tampak sangat rapuh. Bagaimana tidak, selama kehamilan si kembar tanpa Gerry kala itu membuat sang kakek begitu memanjakannya. Semua yang Dian inginkan selalu dituruti. Bahkan setiap Dian membuat kesal semua penghuni rumah, hanya kakek Kusuma yang selalu memasang badan untuknya.
.
.
.
Berita meninggalnya Kakek Kusuma menyebar dengan sangat cepat. Meskipun beliau seorang pensiunan tapi tetap saja proses pemakamannya secara pemakaman militer. Banyak kenalan dari alm papa Nino dan juga bawahan sang kakek dulu yang kini memiliki pangkat tinggi di Angkatan Militer.
Semua begitu khidmat mengikuti proses demi proses hingga kakek Kusuma di kebumikan. Sahabat Gerry, keluarga dan juga keluarga sahabatnya nampak ikut melawat. Rian dan Veli juga terlihat ikut datang ke pemakaman ditemani tuan Anggara dan nyonya Santika.
__ADS_1
.
.
.
"Makan dulu ya ..! Jangan seperti ini. Kakek tidak akan suka." Bujuk Gerry pada Dian.
Air mata Dian kembali menetes. Wanita ini tidak bisa terlalu sedih. Gerry memeluk Dian dengan erat.
"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau mau makan? bayi kita butuh nutrisi, apa kau tidak kasihan jika terus seperti ini." Ujar Gerry lembut, akhirnya Dian mau menurut dan memakan makanan yang Gerry bawakan.
"Maaf mas. Aku tidak bermaksud membuat si dedek kelaparan." Kata Dian lirih.
"Kau boleh bersedih tapi jangan berlarut²." Ujar Gerry, Dian mengangguk lalu berhambur di pelukan Gerry. ---- "Sekarang ayo bersiap, sebentar lagi acara tahlilan kakek akan digelar." Sambung Gerry. Dian beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Gerry dan Dian menuju mansion sebelah. Anak-anak mereka sejak tadi berada di sana menghibur Dino yang tampak sangat sedih seperti ayahnya Nino yang sangat kehilangan sosok sang kakek.
"Mereka di kamar Dino sedang menghibur anak itu." Kata nyonya Arimbi melemparkan pandangannya ke pintu berwarna biru langit di depannya.
"Apa Dino masih terus menangis?"
"Ya kau tahu. Tapi anak-anakmu sungguh hebat. Mereka bisa membuat Dino kembali tertawa." Kata nyonya Arimbi. Setelah berbincang sebentar Dian dan nyonya Arimbi dibantu ibu mertuanya yakni nyonya Arini menyiapkan keperluan untuk acara tahlilan kakek Kusuma. Selama 7 hari berturut-turut mereka akan mengundang anak-anak yatim piatu.
"Sayang bagaimana kondisimu?" tanya nyonya Arini begitu mereka selesai menata bingkisan untuk anak-anak yatim itu.
"Sejauh ini perkembangannya baik ma." Kata Dian.
"Kalian sudah tahu jenis kelaminnya?"
__ADS_1
Dian menggeleng. "Kami ingin dedek bayi ini biarlah menjadi kejutan untuk kami mah." Kata Dian seraya tersenyum. Nyonya Arini pun ikut merasa bahagia. Putranya telah menemukan kebahagiaannya.
"Semoga kelak diberi kemudahan dan kelancaran sampai proses lahiran nanti sayang." Doa tulus nyonya Arini mengalir untuk Dian.
"Aamiin ma ..."
Kediaman keluarga Kusuma tampak ramai dengan kehadiran anak-anak panti asuhan. Semua mendoakan kakek dengan khusyuk. Dian sesekali menyeka sudut matanya yang basah. Gerry hanya memandanginya dengan iba. Ia tahu Dian dekat dengan kakek Kusuma maka dari itu dirinya membiarkan Dian larut sebentar dalam suasana berkabung. Dia hanya harus memastikan istrinya tetap memperhatikan kondisi kehamilannya. Veni yang berada di samping Dian pun tak kuasa menahan air matanya.
Acara tahlilan pertama kakek Kusuma berjalan lancar. Gerry membawa Dian masuk ke dalam kamar Dian di mansion itu. Tampaknya sangat istri sudah terlalu lelah, hingga begitu Dian membaringkan tubuhnya ia langsung terlelap. Gerry membelai wajah Dian dengan lembut, lalu menyematkan ciuman di kening sang istri dengan begitu dalam.
Gerry meninggalkan Dian untuk memantau putra putrinya. Kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh Dian kini digantikan oleh Gerry.
"Kenapa papa yang kemari? mama mana?" Protes Zayana.
"Mama sedang lelah sayang. Jadi malam ini papa yang temani kalian." Kata Gerry lembut seraya membelai rambut panjang Zayana.
"Uhh .. tidak seru." Gadis kecil itu cemberut.
"Ana .. " Hardik Zayn. Gadis kecil itu langsung menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Gerry.
"Hargai papa." Kata Zayn. Ia segera merebahkan dirinya di kasur dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Selamat malam papa ... " Ujar Zayn lalu memejamkan matanya. Zafa pun melakukan hal yang sama seperti Zayn.
"Good night papa ... I love you." Kata Zafa menatap Gerry sekilas lalu memejamkan mata.
🌤🌤🌤🌤🌤🌤🌤🌤
Hayo kalo kasih like yang rapih masak iya yang bawah likenya lebih banyak dari yang diatas. Jangan di lewatin donk guys, like setiap babnya oke.
__ADS_1
Janji deh besok up 3 part lagi.