Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Kebahagiaan Keluarga Gerry


__ADS_3

********


Gerry duduk tidak tenang di luar ruang bersalin. Hatinya di selimuti ketakutan. Gerry takut kehilangan Dian. Ia merasa jarum jam bergerak sangat lambat. Dokter Arya menghampirinya, dia baru mendapat kabar jika istri Gerry melahirkan.


"Dian pasti baik-baik saja. Kau tau dia wanita yang kuat meskipun lemah lembut." Ujar Arya memberi semangat pada Gerry.


"Kau benar, dia pasti akan baik-baik saja." Kata Gerry namun raut kekhawatiran masih jelas tergambar di wajahnya.


Tak lama pintu ruang bersalin terbuka. Dian masih tergolek lemah di atas brankar didorong oleh dua orang perawat. Dokter Fany berjalan mendekati Gerry dan Arya.


"Bagaimana kondisi nyonya Dian?" tanya Arya pada Dokter Fany.


"Beruntung semua masih dapat di tangani dengan baik karena tadi sempat terjadi pendarahan tapi beruntung pendarahan dapat segera dihentikan. Kondisi nyonya sudah stabil, dan tadi sudah sempat sadar." Terang dokter Fany. Gerry mengusap wajahnya lega.


"Sekarang nyonya akan di pindahkan ke ruang perawatan. Dan bayinya juga sudah di bawa ke ruangan perawatan. Kondisi bayi perempuan anda juga sehat tidak ada masalah." Lanjut dokter Fany.


"Terima kasih .. " Hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Gerry karena ia segera berlalu mengikuti perawat yang mendorong brankar Dian. Arya dan dokter Fany geleng kepala melihat berapa bucin nya Gerry pada Dian.


.


.


.


"Ayo Nenek, ayo Oma kita ke rumah sakit." Rengek Zafrina, begitupun anak-anak Gerry yang lainnya. Mereka benar-benar tidak sabar untuk memastikan kondisi mamanya.


"Sabar sayang, tunggu kabar dari papa dulu." Ujar nyonya Arini yang baru saja datang setelah mendapat kabar dari Arimbi.


Zafrina mendengus kesal. Lagi-lagi dirinya disuruh bersabar. Ponsel nyonya Arini berdering dan nama Gerry tertera disana segera ia mengangkat panggilan dari putranya itu


Arini : "Halo Ger, kamu ko ga kasih kabar mama kalo Dian lahiran?


Gerry : "Ini juga mau kasih tau ma, tadi ga sempat begitu masuk ruang bersalin Gerry cuma fokus sama Dian, apalagi setelah bayi kami lahir Dian sempat pingsan dan pendarahan.


Arini : "Ya Ampun Ger, kenapa bisa begitu? tapi sekarang gimana kondisi istri kamu dia baik-baik saja kan? (Tanpa sadar nyonya Arini memekik, membuat wajah keempat anak Gerry pucat pasi, terlebih Zafa)


Gerry : "Sudah ditangani dengan baik ma, mama dimana sekarang?"


Arini : "Di mansion kamu Ger, nemenin mertua kamu jagain anak-anak. Mereka semua dari tadi khawatir sama Dian."


Gerry : "Nanti tolong bawa anak-anak kemari ya ma, mama sekalian ajak ibu Arimbi. Gerry nanti jam 2 ada meeting sebentar."

__ADS_1


Arini : "Ya sudah mama bersiap dulu. Oh iya masih butuh sesuatu dari rumah tidak? Perlengkapan Dian dan buat bayi kalian sudah semua kan?"


Gerry : "Ga ada ma, sudah semua. Ya sudah Gerry tutup dulu ma Gerry mau lihat kondisi Dian dulu."


Setelah mengakhiri panggilan telepon dari putranya mata nyonya Arini membulat melihat keempat anak-anak Gerry dengan mata berkaca-kaca mendekat ke arahnya.


"Mama kenapa oma?" tanya mereka hampir berbarengan. Wajah nyonya Arimbi pun tak kalah penasaran


"Mama kalian ga apa-apa sayang. Tadi oma hanya terkejut saja. Eh oma sampai lupa menanyakan adik kalian laki-laki atau perempuan." Ujar Nyonya Arini mengalihkan perhatian cucunya.


"Ayo oma, kita lihat ayo .. " Ujar Zayana bersemangat.


"Ya sudah ayo sekarang kalian bersiap." Kata nyonya Arini, dan para pengasuh anak-anak itu segera membawa keempat anak itu masuk kamar untuk bersiap.


"Dian tadi kenapa Jeng?" tanya Arimbi begitu cucu-cucunya pergi.


"Tadi setelah melahirkan Dian sempat pendarahan dan pingsan. Tapi tadi Gerry bilang sudah di tangani." Kata nyonya Arini menatap sahabatnya teduh. ---- "Gerry minta kita kesana karena nanti siang dia ada meeting di kantor.


.


.


.


"Sayang .. " Gerry setengah berlari menghampiri Dian lalu mengecup kening wanita itu berkali-kali. Dian terkekeh melihat wajah suaminya.


"Mas sudah aku malu." Kata Dian melirik suster senior itu.


"Tidak apa-apa nyonya saya bisa maklum, apalagi tadi tuan muda sempat melihat anda pingsan." Ujar suster senior itu dengan tersenyum ramah. Dian menatap haru wajah Gerry.


"Maaf ya mas sudah bikin mas cemas." Ujar Dian, dia menyerahkan putrinya pada suster itu karena bayi mungil itu kembali terlelap. Suster membawa bayi Dian kembali ke ruang bayi. Dian mengusap lembut wajah Gerry lalu mengecup bibir seksinya dalam. Tatapan mata teduh Dian mampu membuat jantung Gerry berdetak keras.


Gerry menangkap tangan Dian dan mengecupnya. Ada perasaan hangat yang menelusup kedalam relung hati wanita itu. Perasaan begitu di puja dan di sayangi oleh suaminya.


"Udah, ini terakhir kamu hamil. Aku ga mau lihat kamu seperti tadi. Aku akan ngomong sama dokter Fany untuk memberikan KB terbaik untuk kamu." Ujar Gerry masih tampak jelas sorot mata Gerry penuh kekhawatiran.


"Iya, kalo mas ga sering minta itu juga ga akan ngisi akunya." Kata Dian menimpali, Gerry tersenyum smirk.


"Justru setelah kamu KB aku akan sering-sering memintanya." Kata Gerry, Dian menggeleng dengan kelakuan suami mesumnya.


Pintu ruangan tanpa diketuk langsung dibuka dengan kasar oleh Zafrina. Gadis kecil itu berlari menghambur ke brankar Dian.

__ADS_1


"Mama .. " Zafrina meletakkan kepalanya di kaki Dian yang tertutup selimut. Zafa, Zayn dan Zayana juga melakukan hal yang sama.


"Duh ada apa ini anak-anak mama kok manja banget sih?" Ujar Dian seraya tersenyum hangat pada keempat anaknya yang mengangkat kepala mereka dari kaki Dian.


"Mama baik-baik saja?" tanya Zafrina, Dian mengangguk.


"Lihat mama ga apa-apa kan ..?"


"Mama jangan sakit, Zafa takut mama ninggalin kami." Ujar putra pertama Gerry. Gerry dan Dian saling menatap dalam lalu tersenyum. Dian mengusap kepala Zafa dengan lembut.


"Iya mama ga akan sakit sayang. Maaf ya sudah buat kalian kepikiran." Ujar Dian lembut. Zafa memeluk perut Dian.


Kebahagiaan terpancar jelas saat keempat anak itu melihat saudari mereka wajah mungil dengan hidung mancung dan bibir semerah cherry.


"Nama adik kita siapa ma?" tanya Zafa ia seakan tersihir dengan mata berwarna coklat terang milik adik kecilnya yang baru lahir.


"Mama terserah saja, mau papa atau kalian yang beri nama. Karena adik kalian belum memiliki nama." Kata Dian.


"Bolehkah aku yang memberinya nama?" Tanya Zafa dengan tatapan penuh harap.


"Boleh ... " Jawab Gerry.


"Aku ingin memberi nama adik perempuan kita dengan nama Zafia yang berati cantik." Ujar Zafa dengan senyum cerah. Dian menyukai nama pilihan Zafa.


"Bagaimana? Apakah ada yang keberatan jika nama adik bayinya Zafia?" tanya Dian pada anak-anaknya yang lain.


Zafrina, Zayana dan Gerry mengangguk setuju. Tapi Zayn justru terus menciumi pipi adiknya dengan gemas tanpa mendengarkan pertanyaan sang mama.


"Zayn bagaimana apa kau setuju?"


"Aku tidak keberatan ma, karena dia memang cantik." Ujar Zayn.


Gerry sudah bersiap dengan jasnya namun sebelum ke kantor dia meminta seorang fotografer yang ada dirumah sakit yang biasanya memang sering ketiban job mengambil gambar bayi-bayi yang terlahir di rumah sakit Gerry.


Mereka bersiap bahkan Arini membawakan dress cantik untuk Dian. Mereka bertujuh akhirnya mengambil gambar pertama mereka dengan tambahan anggota keluarga baru yaitu Zafia.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Akhirnya keluarga Dian dan Gerry sudah beneran happy ya. Maaf banget kehidupan nyataku beneran lagi sibuk jadi othor up sesempetnya anak bontot udah ga bisa di sambi.


Thanks banget yang udah bantu melindungi karya othor. Othor bersyukur memiliki readers yang luar biasa seperti kalian.

__ADS_1


__ADS_2