Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Jangan Tinggalin Aku


__ADS_3

*********


Mama Arini datang disaat semua keluarga Kusuma sedang berkumpul di mansion Dian minus Gerry karena harus mengurus pemakaman Mama Sekar. Dian masih terduduk lemas bersandar di bahu sang ayah.


"Lho .. lho .. lho ada apa ini? tumben semua ngumpul disini." Ujar mama Arini. Semua hanya saling melempar pandangan karena mereka sendiri pun tak tahu apa yang sedang terjadi pada Dian. Mereka hanya datang atas laporan bi Esih yang mengatakan jika Dian terus menangis sejak tadi. Bi Esih khawatir terjadi sesuatu pada Gerry makanya Dian menangis.


"Mama tadi telepon papa. Tapi ga lama mama nangis." Terang si kecil Zayana.


"Memang Ana dengar papa bilang apa?" tanya Arini mencoba menginterogasi cucu perempuannya. Zayana menatap Dian sejenak. Ada keraguan dari wajah cantik Zayana karena mamanya masih terus bungkam.


"Sayang .. " Nyonya Arimbi mencoba memanggil cucunya.


"Tadi ada orang bilang sama papa, kalau mama Sekar tidak dapat diselamatkan." Ujar Zayana dengan ragu. Mata mama Arini membulat dan ia menutup mulutnya tak percaya.


Mata semua orang membulat, "Maksud kamu oma Sekar?" tanya Zayn tak percaya.


"Mungkin saja kak, karena habis itu HP mama sampai jatuh dan mama terus menangis." Dian masih berlarut dalam kesedihannya. Semua orang menatap khawatir. Apalagi ibu dari 4 anak itu pernah mengalami sesuatu yang mengganggu mental dan kejiwaannya.


Mama Arini mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Gerry namun selalu saja operator yang menjawabnya.


.


.


.


Singapura


Veni terlelap di dalam pelukan Aldo. Pria itu tersenyum lembut mengingat pergulatan panas mereka. Akhirnya Veni sudah mulai bisa membuka hatinya. Semoga saja tidak lama lagi dirinya bisa menjadi pemilik hati wanitanya lagi.


"Maafkan aku yang pernah menyakitimu. Aku berjanji mulai sekarang aku akan menjagamu." Bisik Aldo yang justru membuat Veni bergerak gelisah. Aldo kembali mengusap kepala Veni hingga wanita itu kembali terlelap.


Aldo mengangkat tubuh Veni masuk kedalam kamar. Ia tak ingin gara-gara tidur di sofa membuat tubuh istrinya sakit.


"Baby ... jangan tinggalin aku." Lirih Veni mengigau.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang. Maafkan aku yang dulu." Bisik Aldo dan sudut matanya tiba-tiba terasa basah oleh air mata.


Aldo membersihkan dirinya di kamar mandi lalu setelah itu ia membawa sebaskom air hangat untuk menyeka tubuh Veni. Agar wanita itu bisa tidur lebih nyaman.


.


.

__ADS_1


.


Selin, Didi dan Judy saat ini sedang berada di bandara menunggu kedatangan kedua orang tua Selin. Mereka membatalkan kepulangannya ke Pattani karena Kehamilan Selin yang masih rawan. Tak hanya kedua orang tua Selin saja yang datang, tapi juga kakaknya Kao dan Araya serta keponakannya.


Wajah Selin tampak sumringah saat raja Aaron berjalan mengarah kepadanya. Selin sedikit berlari menyambut kedatangan sang ayah.


"Honey perhatikan langkahmu, kau sedang hamil." Ujar Didi mencemaskan Selin.


"Iya honey momy jangan lari." Kini giliran Judy ikut-ikutan memanggil Selin dengan sebutan honey.


Selin hanya tertawa lalu menghentikan langkahnya. Sang ayah kini justru mendekat dan langsung memeluk Selin dengan erat.


"Sayang apa kabarmu?" tanya Raja Aaron.


"Aku baik-baik saja Ayah." Kini Selin mengurai pelukannya dan berganti memeluk sang Ibu.


"Senang bisa melihatmu lagi putri Selina." --- Ratu Rakila.


"Aku juga ibunda .. "


Setelah saling berpelukan dan melepas rindu akhirnya keluarga besar itu meninggalkan bandara dan bergerak menuju kediaman Didi.


.


.


.


"Lihatlah sekarang dirimu, Kau hanya gadis miskin yang menyedihkan." Ara menatap pantulan cermin itu dengan tatapan marah, seakan sisi hatinya menertawakan dirinya.


"Percayalah Ara, Arsen mencintaimu. Dia tidak akan menertawakan kondisimu." Sisi hatinya yang lain berkata.


Ara yang tidak tahan mendengar bisikan-bisikan itu merasa frustasi. Tanpa sadar ia menarik rambutnya lalu memekik keras.


Arsen yang baru kembali merasa terkejut dan menatap brankar Ara yang kosong. Ia segera berjalan ke kamar mandi dan menggedor pintunya.


"Ra buka pintunya ..! Kamu kenapa?" Pintu kamar mandi terbuka, Ara lalu tersenyum tipis pada Arsen.


"Kamu ga apa-apa kan Ra?" tanya Arsen memindai seluruh tubuh Ara dari atas hingga bawah. Ara tersenyum seraya mengusap tengkuknya.


"Hihihi ... Ara ga apa-apa A' tadi Ara cuma kaget lihat rambut Ara hilang sebelah." Arsen dapat menangkap perubahan raut wajah Ara yang berubah sendu meskipun senyumnya tak surut dari bibir tipisnya yang sedikit pucat. Arsen menarik tubuh Ara perlahan dan memasukkan Ara kedalam pelukan nya.


"Aku kira kamu tadi kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Sementara Ara mau tinggal di rumah abah boleh A?"


"Sesuai keinginanmu kita akan tinggal disana."


"Maksud aku cuma Aku aja A', aa tetap tinggal di dekat panti." Kata Ara seraya menunduk.


"Aku ga bisa jauh dari kamu Ra. Please jangan seperti ini ..!" Ujar Arsen lembut.


Ara menatap manik mata Arsen yang begitu teduh dan membuai. Ara melihat pantulan dirinya di pelupuk mata Arsen. Ada rasa tak nyaman dalam hati Ara saat ini.


"Ra aku tau apa yang kau khawatirkan. Mama tadi kemari saat kau tidur. Ini hanya ideku saja jika kau mau melakukannya agar kau juga nyaman."


Arsen mengurai pelukannya dan menuju sudut sofa dimana disana ada 4 paper bagian besar.


Arsen membawa salah satunya dan menunjukkannya pada Ara. Mata Ara berbinar, apakah ini jawaban atas segala doa nya? Ia memang memiliki niat menutup auratnya setelah nanti menikah. Hanya saja ia tak menyangka akan menikah secepat ini.


"I-ini .. "


"Iya Ra .. itu semua pilihan mama." Kata Arsen.


Ara membentangkan dress panjang berbahan satin berwarna kuning kunyit itu, Dan juga pasmina berwarna senada namun dengan hiasan disekelilingnya hingga terlihat cantik dan elegan.


"Kamu mau kan pakai Hijab?" Tanya Arsen hati" sekali.


"Ya aku mau Aa. Tapi ..!"


"Tapi kenapa sayang?"


"Tapi Ara tetap pakai hijab saat bersama Aa ga apa-apa kan? Hanya sampai rambut Ara tumbuh kembali." Ujar Gadis itu. Dan Arsen mengangguk, tak masalah asal Ara tidak bersedih lagi.


Arsen mengangkat tubuh Ara dan meletakkan Ara di atas brankar.


"Aa tas dan ponselku mana?"


"Arsen menyerahkan tas Ara yang memang ada di laci nakas. Saat Ara melihat ponselnya mata Ara terbelalak lebar. Kenapa dia bisa melupakan sidang skripsinya.


"Aa .. sidang aku."


"Sidang kamu boleh diundur. Tadi saat kamu masih belum sadar ponselmu berbunyi terus. Lalu aku melihat nama pemanggilnya dan itu dosen kamu. Aku mengatakan kamu sedang di rawat. Bahkan aku mengirim foto kamu yang tadi pas belum sadarkan diri.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Maafin othor ye,, duh tadi serius malu banget sampai salah tempat mau enak-enak si Aldo ma Veni ampe nyasar ke mall. Padahal kan belum Vaksin mereka. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

__ADS_1


Jangan lupa di jempolin ya dan giftnya ditunggu juga deh. ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ


__ADS_2