
********
"Ada banyak hal yang harus kau dengar tentang Dian agar kau bisa membuka mata hatimu. Kau pasti tau sentuhannya, kasih sayangnya semua begitu terasa tulus. Itu karena memang seperti itulah Dian. Bahkan ketika aku menikahinya dan berbuat kasar padanya tak pernah sedikit pun dia membalas memakiku atau menyakitiku. Semua keburukanku dibalas kebaikan olehnya." Kini mata Rian yang berkaca-kaca, Zafa dapat melihat sorot mata penuh penyesalan. Sama seperti dirinya saat ini.
"Kenapa kalian berpisah?" Tanya Zafa, Rian tersenyum getir seraya memainkan pulpen yang saat ini dia pegang.
"Dulu aku begitu cinta mati pada ibumu, tapi karena ibumu memilih menikah dengan papamu aku begitu terpuruk. Mamaku selalu memaksa ingin cucu. Akhirnya aku bertemu Dian dan menikah dengannya tapi itu bukan menikah untuk bahagia. Aku menikahi Dian hanya demi keturunan laki-laki. Percayalah hidup mamamu saat bersamaku sudah seperti di neraka. Aku juga dengan bodohnya membuat perjanjian dengan Dian, Aku berkata jika anak Dian kelak perempuan aku tak akan mau menerima kehadirannya. Sejak usia kandungan Dian menginjak bulan ke lima, hasil USG mengatakan jika dia benar-benar mengandung bayi perempuan. Seketika itu aku meninggalkannya. Tapi kau lihat, sekarang Ina diijinkan tinggal bersamaku yang jelas-jelas dulu menolak kehadiran Zafrina darah daging ku sendiri. Namun Dian tetaplah Dian, ia masih saja seperti dahulu. Ia akan melakukan apapun asalkan putrinya bahagia. Agar anak-anaknya bahagia meskipun dia yang akan menangung lukanya.
Sementara itu Zafrina yang masih terus menguping pembicaraan Rian semakin tak kuasa mendengar penderitaan mamanya yang tidak pernah ia ketahui. Zafrina bangun dari duduknya dengan tubuh lemah ia berjalan gontai menuju kamarnya, hal yang saat ini ia inginkan adalah mendengar suara Dian.
Zafrina merogoh ponsel dari tasnya dan menghubungi Dian. Tak sampai dua kali dering Dian mengangkat panggilan dari putrinya itu.
"Kenapa menangis sayang? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dian panik. Zafrina semakin terisak. Dian langsung menghampiri Gerry yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Mas, Ina kenapa ini?"
Gerry menatap Dian bingung, "Memang ada apa dengan Ina? apa dia terluka?" Suara Gerry pun tak kalah cemas dan semakin membuat Zafrina benar-benar merasa bersalah memilih tinggal bersama Rian.
"Papa .. " Suara Zafrina terdengar serak.
"Ada apa sayang? apa ada yang menyakitimu?" kini suara Gerry terdengar jelas. Dian menyalakan speaker ponselnya.
"Aku mau pulang .. " Ujar Zafrina.
"Ada apa sayang? jangan buat papa khawatir padamu." Kata Gerry lembut meskipun tetap saja rasanya ia begitu mengkhawatirkan putrinya.
"Mama dan papa akan ke sana seminggu lagi. Mama dan papa ingin mengunjungi kamu dan kakakmu." kata Dian.
Hening tak ada jawaban apa-apa dari putrinya hanya suara isak tangis Zafrina yang masih terus terdengar.
"Sayang, papa akan bicara pada papi Rian. Biar sementara masalahmu diselesaikan oleh papi kamu."
"Jangan .. Ina akan menunggu papa. Jangan katakan apa-apa tentang Ina. Ina tidur dulu mama, papa i love you." Kata Zafrina mengakhiri sambungan telepon nya. Setelah meletakkan ponselnya Zafrina merebahkan diri menatap langit-langit kamarnya. Hatinya sakit sekali mengetahui semua ini. Ternyata dia adalah anak yang tidak di harapkan oleh Rian.
__ADS_1
Karena lelah menangis Zafrina tertidur, sementara Zafa masih terus menangis di ruang kerja Rian. Kenapa dia bertindak bodoh menjauhi Dian tanpa bertanya pada wanita itu, wanita yang selama ini menyayanginya dengan tulus.
"Kuatlah, jadilah anak yang tangguh agar kau bisa melindungi hati Dian yang lembut dan rapuh. Setelah kau bisa menata hatimu tanyakan pada mereka alasan mereka merahasiakan semuanya darimu. Yang jelas aku yakin semua ini dilakukan demi kebahagiaanmu." Rian menepuk bahu Gerry.
"Apa aku boleh bertanya lagi satu hal padamu?"
"Tentu, selagi aku memiliki jawaban untuk pertanyaanmu aku akan menjawabnya." Kata Rian.
"Apa kau juga ayah kandungku?"
.
.
.
Setelah menerima telepon dari Zafrina perasaan Dian semakin tak menentu. Ada apa dengan anak-anaknya?
"Apa Ina bertengkar dengan Zafa mas?"
"Tapi perasaanku tidak enak mas." Ujar Dian. Gerry menarik tubuh Dian hingga jatuh ke pangkuan suaminya itu. Gerry memeluk perut Dian erat dan meletakkan dagunya di atas pundak wanita itu.
"Zafa dan Zafrina sedang dalam masa peralihan pubertas nya. Wajar saja jika saat ini emosinya mudah terpancing. Tapi percayalah berkat didikanmu aku yakin putra dan putri kita akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan. Ini saatnya mereka belajar mendewasakan diri, belajar menilai dan memahami arti sebuah masalah dalam hidup mereka." Kata Gerry bijak, Dian menatap wajah Gerry dari samping dan mencium pipi Gerry.
"Terimakasih mas."
"Kita ini partner sayang, tidak perlu berterima kasih. Atau kau punya cara lain untuk berterimakasih?" Goda Gerry. Sama halnya dengan Dian ia juga mencemaskan Zafrina dan Zafa. Tapi dia tetap harus terlihat tenang agar istrinya tidak kepikiran lagi.
.
.
.
__ADS_1
Zayana dan Judy sedang berada di ruang spa di mansion Gerry yang terletak di samping paviliun barat. Mereka berdua sedang melakukan treatment perawatan tubuh.
"Wah akhirnya mimpimu akan jadi kenyataan Judy."
"Iya .. " Ujar Judy seraya tersenyum. Dia akan mengikuti arus kehidupannya. Bagaimanapun jalannya ia akan menjalani semuanya dengan tulus ikhlas. --- "Aku akan menjalani semuanya dengan tulus ikhlas, mengikuti arus kehidupan yang menuntunku sama seperti mama Dian atau kisah cinta mamaku? tapi aku tidak mau terpisah lama dengan Zayn. Tidak menatap wajahnya beberapa menit saja rasanya hatiku sakit sekali." Kata Judy dengan wajah di buat sendu. Zayana langsung mengerucutkan bibirnya.
"Dasar bucin .. "
"Biarin .. wlee" jawab Judy. Mereka berdua sudah bagaikan saudara. Padahal dulu mereka sering sekali berebut perhatian Zayn.
Zayn sudah berada di kampus karena ada tugas yang harus ia serahkan pada dosen. Di lorong kampus Zayn berjalan dengan wajah khas dingin dan datar.
"Zayn .. " Seorang gadis berkacamata menghampiri Zayn.
"Ada apa?" tanya Zayn datar. Tidak ada satu pun lawan jenis yang dapat menarik perhatiannya selain Judy. Zayn benar-benar pria dingin dan tertutup.
"I-ini da-dari Vanya" Kata gadis itu dengan wajah pucat pasi.
"Dimana wanita itu?" Tanya Zayn tanpa berniat menerima kado yang gadis berkacamata itu bawa.
"Dia ada di sana. Ku mohon terimalah. Agar aku tak berurusan lagi dengannya." Dino yang melihat Zayn berbicara dengan seorang gadis cantik berkacamata langsung menghampiri?
"Ada apa Zayn? apa ada masalah?" tanya Dino penasaran.
"Nah kebetulan, bantulah dia. Dia sedang bermasalah dengan wanita-wanita itu." Tunjuk Zayn kearah dimana Vanya dan teman-temannya sedang menatap ke arah mereka.
"Serahkan padaku." Kata Dino dan Zayn langsung pergi dari hadapan kedua orang itu.
Glenca (gadis berkacamata)
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Selamat membaca. Maaf ya updatenya berantakan lagi waktunya. Karena sekarang suami kerja lebih dari 12 jam jadi ga ada yang bantu ganti jagain anak-anakku.