Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Extra Bab 4


__ADS_3

Dian membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa tak nyaman mendera perutnya sejak tadi siang. Ia berpikir mungkin karena dia terlalu mencemaskan Zafa.


Tapi semakin lama rasa tak nyaman itu semakin mengusiknya. Ia akhirnya bangun dari tidurnya dan berlari kearah kamar mandi. Dian memuntahkan seluruh isi perutnya, hingga tubuhnya terasa lemas. Ini jarang sekali terjadi. Kecuali saat dia hamil twins dulu.


Ia mengusap perutnya yang datar. Lalu kembali mengingat kapan terakhir dia mendapat tamu bulanannya. Dian menyalakan air di wastafel untuk membersihkan wajahnya.


Gerry masih tertidur pulas saat tangannya terulur untuk memeluk tubuh istrinya. Tapi ranjang itu kosong. Gerry langsung membuka mata. Ia mendengar sayup-sayup suara Dian yang muntah. Gerry memakai bajunya, ia berjalan tergesa-gesa dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gerry terus mengetuk pintu. Dian membuka pintu dengan tubuh yang sedikit lemas. Gerry segera mendekap tubuh Dian yang terasa dingin.


"Kamu sakit?" tanyanya lagi, Dian menggeleng. Ia pun juga belum yakin apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Ia takut memberi harapan kosong pada Gerry, jika ternyata prediksinya tak tepat.


Dian mengalungkan tangannya ke leher Gerry saat pria itu mengangkat tubuhnya yang mungil itu. Kepalanya yang terasa berdenyut dia sandarkan ke dada bidang Gerry.


Dengan hati-hati Gerry meletakkan tubuh Dian diatas pembaringan. Ia menata bantal agar Dian bisa menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.


"Aku akan buatkan minuman hangat untukmu dulu. Kau tunggu disini." Ujar Gerry membelai rambut Dian. Wanita itu mengangguk pasrah. Toh tubuhnya benar-benar terasa lemas saat ini.


Gerry ke dapur untuk membuat minuman hangat untuk Dian. Dia membuat teh dengan campuran lemon. Saat ia sibuk mempersiapkan minuman untuk Dian, Zafa keluar kamar untuk mengambil air minum. Gerry memperhatikan putranya lalu berjongkok memegang pundak Putra pertamanya.


"Kenapa keluar kamar?" tanya Gerry.


"Zafa mau ambil air untuk adik-adik. Mama tadi lupa tidak menyiapkan air minum dikamar." Kata Zafa. Gerry tersenyum, meski putra pertamanya itu memiliki fisik yang lemah. Ia terlihat sangat bertanggung jawab kepada adik-adiknya.

__ADS_1


"Papa yang akan bawakan kesana. Sekarang Zafa ke kamar dulu ya nak." Kata Gerry, putranya mengangguk patuh.


Sesampainya di kamar anak-anaknya Gerry meletakkan teko air dan gelas. Ia melihat Zayn masih sibuk dengan bukunya dan Zafa sibuk dengan lukisannya. Anak pertamanya memang suka melukis. Entah bakat dari mana tapi Gerry menyukainya, setidaknya anak itu memiliki hal yang di gemari.


"Kalian jangan tidur terlalu larut. Papa akan lihat kondisi mama dulu. Nanti papa kesini lagi untuk menemani kalian tidur." Ujar Gerry, kedua pria kecil itu langsung meletakkan apa yang sedang mereka pegang dan menatap Gerry dengan wajah cemas.


"Mama sakit?" tanya mereka serentak.


"Mama hanya kelelahan. Jadi papa harus lihat kondisi mama dulu sebentar." Kata Gerry. Namun Zayn dan Zafa justru langsung berdiri hendak mengikuti Gerry.


"Aku mau lihat mama juga." Kata Zayn, mata anak itu berkaca-kaca. Dia selalu berlebihan jika mencemaskan ibunya.


"Ya sudah ayo. " Gerry berjalan mendahului putra-putranya. Ia membuka pintu dengan hati-hati. Ia melihat Dian sedang melamun. Entah apa lagi yang sedang dipikirkan istrinya itu.


"Kenapa kalian belum tidur sayang?" tanya Dian. Zayn dan Zafa mendekat ke arah Dian lalu menghambur memeluk tubuh ibunya.


"Mama jangan sakit." Kata Zafa.


"Mama baik-baik saja sayang," kata Dian mengelus kepala kedua anaknya. Dian menatap Gerry. Pria itu hanya mengangkat bahunya. Ia menyerahkan minuman hangat itu pada Dian.


Dian melepas rangkulannya dan menerima cangkir yang Gerry berikan.


"Terimakasih mas." Kata Dian lalu meminum minumannya hingga separuh cangkir.

__ADS_1


"Ayo, sekarang kalian tidur, papa antar kalian ke kamar." Ujar Gerry pada kedua putranya.


Zayn masih berat meninggalkan ibunya, ia menatap wajah ibunya yang masih pucat. Dian tau putranya sangat mencemaskan dirinya. Dan itu membuat Dian merasa bersalah.


"Apa kalian mau tidur di dekat mama?" tanya Dian, kedua putranya mengangguk antusias.


Akhirnya malam ini Dian dan Gerry berbagi ranjang dengan kedua putranya.


.


.


.


.


Siang ini di Singapura, Aldo dan Veni bersiap untuk kepulangan mereka ke tanah air. Sudah lama mereka tak menginjakkan kakinya ke sana. Kondisi Veni sudah sepenuhnya pulih. Bahkan sekarang dia sedang mengikuti program kehamilan. Keduanya tampak bahagia, mereka meninggalkan apartemen yang bertahun-tahun mereka tempati untuk berbagi kehangatan.


Aldo dan Veni berpamitan kepada orangtua Aldo. Sebenarnya mereka berat melepas putra dan menantunya. Tetapi mau bagaimana lagi, apapun keputusan Aldo dan Veni mereka tidak bisa ikut campur.


Mereka tiba di bandara Changi Singapura. Satu jam lagi pesawat mereka akan segera mengudara. Aldo tersenyum melihat wajah bahagia istrinya yang sebentar lagi akan bertemu dengan keluarga angkatnya.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅

__ADS_1


Maafin othor y, lagi masuk angin jadi up nya ga tertib


__ADS_2