Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Daddy, Aku Takut


__ADS_3

**********


Wajah didi memucat seakan darah berhenti mengalir. Selin langsung terlonjak bangun dari tidurnya begitu mendengar bunyi nyaring dari alat EKG itu.


"Daddy ....... " Jerit Judy.


Didi mendekati brankar Judy, ia langsung memeluk tubuh putrinya yang menggigil gemetaran.


"Dady, aku takut."


Didi mengusap punggung Judy. Tak lama dokter memeriksa kondisi Judy dengan teliti.


"Judy .. apa yang Judy rasakan? Apa ada yang sakit?" tanya dokter, Judy hanya menggeleng.


"Sayang, Judy. Ngomong sama daddy apa yang Judy rasakan?" Tanya Didi.


"I'm afraid dad." (Aku takut dad) --- Judy.


"Hei .. don't afraid! Daddy disini." Ujar Didi menenangkan Judy. Selin hanya terpaku melihat putrinya yang sangat ketakutan. Ini semua salah dirinya. Jika saja dulu dirinya tidak berbuat seenaknya memaksakan perasaannya mungkin sekarang tak kan ada yang terluka.


"Mommy ... " Lirih Judy.


"Yes darling .." Selin tersadar dari lamunannya dan mendekat ke brankar putrinya.


"Mommy ... "


Judy menghambur ke pelukan Selin dan menangis.


Aldo dan Veni menatap penuh haru keluarga kecil di depannya. Satu persatu sahabatnya menemukan kebahagiaan mereka.


.


.


.


Gerry membawa Zafa kembali ke mansion. Setelah menitipkan Dian pada suster jaga. Gerry memutuskan membawa Zafa pulang karena anak itu semalaman tidur di rumah sakit. Dan itu tidak cukup bagus untuk fisik Zafa. Setibanya di Mansion Gerry bertemu dengan Rian dan Veli. Pasalnya sejak semalam Zafrina enggan meninggalkan adik-adiknya. Karena gadis kecil itu merasa harus bisa menggantikan Zafa untuk menjaga Ana dan Zayn.


"Kalian mau pergi sekarang?" tanya Gerry pada Rian seraya mengusap kepala Zafrina.


"Iya papa. Maafkan Zafrina tidak bisa terus menemani Ana dan Zayn." Sahut Zafrina, yang mengundang tawa ketiga orang dewasa itu.


Zafrina mengernyit tak suka. "Papa, apa yang kalian tertawakan?"


"Tidak apa-apa sayang. Papa senang kau jadi anak yang pintar yang peduli pada adik-adikmu. Terimakasih ya." Ujar Gerry melemparkan sedikit rayuannya.


"Tentu saja papa, aku harus berbuat baik, supaya lekas mendapat adik bayi. Kata oma kalau Ina mau cepat-cepat dapat adik bayi harus jadi anak baik." --- Zafrina.

__ADS_1


"Duh, anak papa benar-benar pintar."


Setelah berbasa basi sebentar, Rian, Veli dan juga Zafrina kembali ke mansion mereka. Gerry hanya menyapa anak-anaknya sebentar lalu kembali ke rumah sakit. Sungguh hal yang melelahkan bagi Gerry. Namun ia tak pernah sedikitpun merasa terbebani.


Sifat Gerry yang dulunya keras dan angkuh berubah menjadi sosok penyayang dan hangat. Seolah sifat Dian menular kepadanya.


Setibanya di rumah sakit, Gerry langsung ke kamar rawat Dian. Tapi dirinya terkejut mendapati kamar Dian kosong. Gerry mengedarkan pandangannya, mencari di kamar mandi dan juga balkon tapi sang pujaan hati tak terlihat batang hidungnya.


Gerry keluar ruangan, menanyakan pada siapa saja yang berpapasan dengannya. Dari jauh Dian dapat melihat kepanikan suaminya, ia meminta suster yang menemaninya untuk mendorong kursi roda lebih cepat.


"Mas ..... "


Gerry menoleh ke sumber suara, dengan mata yang sudah berkabut berlari menghampiri Dian dan membawanya kedalam pelukannya. Suster yang menemani Dian sampai membuang muka karena malu melihat adegan kemesraan mereka.


Dian mengusap punggung Gerry. Segaris senyum terbit di bibirnya.


"Kenapa keluar ruangan tak memberitahuku dulu?"


"Aku bosan mas. Tadi aku sudah ke kamar Judy dan Selin. Tapi karena Judy sedang beristirahat, aku meminta suster membawaku ke taman. Aku mau pulang mas." Ujar Dian.


Gerry membelai wajah Dian. Baru sebentar berpisah dengan istrinya saja rasanya sungguh sangat menyiksa sekali.


"Terima kasih Sus. Silahkan kembali lanjutkan tugas mu, biar saya yang membawa istri saya. Gerry membawa Dian berjalan menyusuri lorong. Tapi bukannya kembali ke kamar dia membawa Dian masuk ke dalam lift dan menekan lantai paling bawah.


"Temani aku makan ya!"


"Iya mas ... "


"Bunga yang cantik untuk wanita tercantik." ---- Gerry menyimpan bunga itu di pangkuan Dian, Dian menutup mulutnya tak percaya. Gerry benar-benar memberi kejutan yang tak ia duga.


"Makasih suamiku ... " Dian mencium bunga itu. Rasanya sudah lama Gerry tidak memberinya bunga karena kesibukannya akhir-akhir ini.


"Kembali kasih sayangku." --- Gerry.


Makanan yang Gerry pesan pun sudah tersedia di meja. Gerry memesan rawon dan juga soto ayam lengkap dengan nasi dan dua gelas jeruk hangat.


"Kamu pilih yang mana?" Tanya Gerry.


Dian menatap soto yang Gerry pesan penuh minat.


"Aku mau soto itu." Tunjuk Dian. Gerry langsung meletakkan mangkuk soto itu kehadapan istrinya.


Keduanya makan tanpa bersuara. Hanya denting sendok yang terdengar. Gerry begitu lapar karena sejak pagi tadi dirinya belum sempat sarapan.


.


.

__ADS_1


.


Didi menyuapi Selin dengan telaten, namun sepertinya istrinya itu sedang tidak berselera makan.


"Ayo kamu harus banyak makan. Ingat baby kita butuh nutrisi dan hanya kamu yang bisa memenuhinya." Ujar Didi, tapi tampaknya Selin sangat tidak berselera menghabiskan makanannya.


"Aku mual, aku ingin makanan lain." Kata Selin memelas.


"Baiklah, kau ingin makan apa?" Tanya Didi.


Selin menggigit bibir bawahnya. Ia tak yakin apakah Didi bisa mencari apa yang dia inginkan atau tidak. Tapi dirinya tak bisa berlama-lama menahan keinginannya.


"Apa kau yakin mau membelikannya untukku?" tanya Selin ragu.


"Demi baby kita. Aku akan mencarinya. Kau sebutkan saja. Mumpung Judy masih tidur."


"Aku ingin Tod man pla." Ujar Selin lirih.


Didi tersenyum, untuk seorang yang berkecimpung di dunia bisnis kuliner dia tentu tahu makanan khas yang berasal dari negara lain. Seperti yang sekarang istrinya inginkan.


Tod man pla adalah sejenis lauk tapi lebih sering dijadikan camilan yang terbuat dari daging ayam atau ikan yang dagingnya berwarna putih dicampur dengan pasta kari berwarna merah yang pedas.


"Kau bisa sabar menunggunya?" Tanya Didi. Selin mengangguk rasanya dia benar-benar ingin memakan makanan khas negaranya itu.


Didi bangkit dari duduknya dan mengecup puncak kepala istrinya, dan mencium bibir tipis Selin sekilas. Ia keluar dari ruangan itu dan menghubungi salah satu Chef yang bekerja di resto miliknya.


"Baiklah, aku akan kesana sebentar lagi. Pastikan begitu aku tiba makanan itu sudah jadi." Kata didi mengakhiri sambungannya.


Didi mendial nomor lain. Yaitu nomor Arya untuk menanyakan kabar papa dan mamanya. Sejak kemarin karena terlalu syok melihat kondisi Selin dan Judy dia melupakan papa dan mamanya.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilan pada sangat kakak tersambung.


"Bagaimana kondisi papa kak?"


"Sejauh ini papa sudah stabil, hanya menunggu dokter yang menanganinya saja. Karena papa harus menjalani operasi pemandangan ring."


"Maaf aku belum bisa bergantian menjaga papa."


"Jangan khawatir. Fokus saja pada anak dan istrimu. Bagaimana kondisi mereka?" ---- Arya


"Sejauh ini perkembangannya sudah lebih baik. Aku harap mereka bisa segera pulang."


"Baiklah. Aku harus menyuapi papa dulu. Jika ada apa-apa jangan lupa kabari kakak."


Didi menatap nanar ponselnya yang telah mati. Ada kesedihan yang tak pernah dia perlihatkan kepada siapapun. Selain saat dirinya sedang sendiri. Didi langsung masuk ke mobilnya menuju ke resto miliknya. Mengambil pesanan Selin tentunya.


๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya.


Giftnya ditunggu juga. Love you guys


__ADS_2