
*******
Arsen mengetuk pintu kamarnya yang kini ditempati oleh Ara. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Ara membuka pintu dan melihat sosok Arsen yang langsung melempar senyum manisnya.
"Apa kau sudah mau tidur?"
"Belum aa, ada apa?"
"Temani aku berbincang sebentar." Ujar Arsen menyelonong masuk ke kamarnya. Arsen membuka pintu balkon dan mematikan AC di kamarnya.
"Aku ke bawah sebentar A' mau minum. Aa mau Ara buatin minum sekalian?" tawar gadis itu. Setelah dipermak oleh mama Clara kini kecantikan Ara semakin terpancar. Bahkan dengan penampilannya yang sekarang, siapa yang akan menyangka jika dia adalah gadis yang sederhana. Ara memakai piyama berbahan satin premium dan sedikit press bodi. Sehingga lekuk tubuhnya yang begitu indah terpampang jelas di hadapan Arsen.
"I-iya boleh .. " Arsen mendadak canggung setelah tanpa sadar ia menatap intens tubuh Ara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Ara tersenyum dan keluar meninggalkan Arsen sendirian. Pria itu memilih menatap gelapnya malam yang hanya berhias sinar rembulan. Arsen berusaha mengatur nafasnya berulang-ulang untuk menghilangkan kegugupannya.
.
.
.
Ara datang membawa nampan berisi dua cangkir coklat hangat. Senyumnya mengembang melihat Arsen yang justru sedang melamun.
"Dor ... " Ara menepuk pundak Arsen hingga pria itu tersentak.
"Ya Allah Ra, kamu bikin aku kaget aja." Ara justru tertawa melihat wajah terkejut Arsen.
"Makanya aa malam-malam jangan melamun. Nanti kalo mbak kunti datengin aa gimana?"
"Mbak kunti apa?" Arsen belum tanggap jika Ara sedang menakut-nakuti dirinya.
"Ck .. aa ga asik ah. Masa kunti aja ga ngerti."
"Ya karena aku sejak dulu jarang nonton TV jarang main diluar. Aku sibuk sekolah dan membaca buku."
__ADS_1
"Huh pantes .. " Ara tak melanjutkan perkataannya.
"Pantes apa?" Alis Arsen bertaut tak mengerti semakin kesini Ara semakin terlihat mulai tidak canggung lagi pada Arsen. Atau mungkin ini memang sifat asli Ara yang ceria.
"Pantes mukanya aa datar kaya pembatas." Ara tertawa setelah mengatakannya. Dan tawa gadis itu menular pada Arsen. Pria berlesung pipit itu tertawa sambil geleng-geleng kepala.
"Ra aku mau ngomong serius boleh?" Wajah Arsen langsung berubah mode serius.
"Boleh A' .. "
"Ra, aku tau mungkin apa yang aku omongin nanti terkesan buru-buru. Tapi semakin aku bertahan untuk tidak membicarakannya. Perasaanku semakin tak menentu."
"Aa mau ngomong apa sih? jangan bikin Ara penasaran deh ..!"
"Kamu emm .. kamu mau ga nikah sama aku?" Ujar Arsen. Sesaat ia langsung membuang nafas dari mulutnya.
Ara mengerjapkan matanya berkali-kali. Ini mimpi apa nyata? Kok mendadak banget aa ngomong gini. Syok? itu sudah pasti. Ara sangat syok karena belum genap seminggu mereka bertemu, ditanya soal nikah? Mimpi apa dia, dan sekarang dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aa serius, mau Ara jadi istri aa? Ini nikah lho kak bukan main rumah-rumahan." Kata Ara, ia sendiri sebenarnya masih tidak tahu harus menjawab apa. Memang diakuinya Arsen adalah pria pertama yang memberinya perhatian dan kasih sayang seperti selayaknya orang berpacaran. Tapi apa itu saja cukup menjadi bekal untuk berumah tangga. Sedangkan Ara sama sekali tidak tau sifat Arsen yang sebenarnya seperti apa.
"Ra, aku kan tadi bilang aku mau ngomong serius."
" Sukses tidak diukur dari seberapa tinggi sekolah kamu Ra."
"Tapi aku tetap harus selesaikan kuliahku. Karena Ara ga mau abah kecewa sama Ara. Aa tau kan gimana abah rela jual rumah satu-satunya agar Ara tidak dipandang rendah orang. Agar Ara jadi orang sukses. Masa iya Ara tega memupus mimpi abah."
Arsen memegang kedua pundak Ara dengan lembut. Sebelah tangannya terulur mengusap puncak kepala Ara.
"Aku akan bimbing kamu untuk menjadi sukses meskipun kuliahmu belum selesai. Tidak perlu menunggu selesai kuliah untuk menjadi sukses."
Ara menatap netra Arsen lekat, ia melihat keseriusan dalam tatapan mata Arsen.
"Jadi gimana?" tanya Arsen.
"Gimana apanya?"
"Lamaran aku diterima ga?" Desah Arsen mulai kesal. Ia sudah memberanikan diri mengungkap perasaannya. Masa iya sekalinya jatuh cinta langsung patah hati.
__ADS_1
"Gimana ya A' Ara bingung."
Pegangan tangan Arsen dipundak Ara langsung terjatuh menggantung diudara. Wajahnya langsung berubah murung. Ara yang menyadarinya langsung melanjutkan ucapannya.
"Ara perlu ngomong ini dulu sama teh Dian. Bahkan sejak kepergian abah Ara belum kasih kabar apa-apa sama teteh. Beri Ara waktu untuk mempertimbangkannya." Ujar Ara mengenggam lengan Arsen. Arsen menatap Ara sebentar lalu mengangguk. Sepertinya memang Ara butuh waktu apalagi dia masih dalam suasana berkabung.
"Ya sudah kamu istirahat ya." Arsen meraih kepala Ara dan mencium kening gadis itu.
"Ihh .. Aa mah kebiasaan banget cium-cium ga permisi sama Ara dulu." Gerutu Ara.
Arsen hanya tersenyum hingga lesung pipinya terlihat jelas. Ia berjalan melangkah masuk.
"Aa gitu doang ngomongnya? terus ini Ara sediain minuman buat apa dong?" Arsen langsung berbalik dan menyedot habis coklat hangat spesial buatan Ara.
"Makasih ya. Sekarang kamu tidur. Besok aku antar kamu ke kampus. Aku mau kasih pelajaran sama temen-temen kamu."
"Eh, ga usah. Aa apa-apaan sih." Kesal Ara.
"Ya biar mereka tau kalo kamu calon istrinya Arsen Banu Hutapea." Jawab Arsen asal. Ia sudah mencapai pintu dan menutupnya. Ara mendengus kesal.
.
.
.
Pagi ini Dian menerima telepon dari Ara. Siang nanti gadis manis itu ingin mengajaknya bertemu. Dan Dian memberikan alamat mansionnya pada Ara.
Pagi di kediaman keluarga Arman tampak ramai karena Didi menginap disana bersama Judy dan Selin. Sejak hamil yang kedua Selin merasa selalu mudah lelah dan mengantuk makanya Didi membawa selin ke mansion papa Arman agar ada yang mengawasinya dan membantu Selin jika memerlukan sesuatu.
"Wah lihat, calon pengantin turun berdua dengan kostum yang serasi." Ujar Selin, Semua menatap keduanya dengan tatapan lembut dan senyum hangat tergambar jelas dibibir mereka.
"Nanti aku akan antar kamu ke kampus. Pulangnya kamu di jemput supir. Supir kamu namanya pak Dul. Nanti alamat Dian kamu kasih ke pak Dul saja." Kata Arsen. Ara hanya bengong, mengundang gelak tawa anggota keluarga yang lain.
"Jangan kaget, calon suamimu memang seperti itu. Dia selalu merencanakan apapun dengan rapi. Kamu hanya perlu menurut. Mobilitas dan Fasilitasmu akan di tanggung Arsen mulai sekarang!" Kata mama Clara. Ara hanya tersenyum canggung. Ia tak pernah sekalipun bermimpi bisa berada di tengah-tengah keluarga Arsen seperti saat ini."
๐ด๐ด๐ด๐ด๐ด๐ด๐ด๐ด
__ADS_1
Maaf ya guys malem banget bisanya Up.
Beri aku kopi, agar kuat membuka mata lanjut ke part 3. 2 jam dari sekarang