Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
New Season 12. Mau Pulang


__ADS_3

*********


Zafa menunggu di depan ruang Emergency. Hatinya gundah antara ingin memberitahu Rian atau tidak. Karena jika dilihat dari gerak gerik Zafrina sepertinya dia kabur dari rumah. Tapi mengapa? pertanyaan itu terus berpendar di pikiran Zafa. Hingga tiba-tiba ia di datangi oleh seorang perawat.


"Apa anda saudara gadis itu?"


"Iya aku saudaranya, bagaimana kondisi adik saya? " Ujar Zafa, ia berharap semoga saja Zafrina baik-baik saja.


"Dokter akan menjelaskan kondisi adik anda. Jadi ikutlah bersamaku." Ujar perawat itu dan Zafa akhirnya mengikuti langkah kaki perawat itu untuk masuk ke ruang tindakan.


"Selamat malam, perkenalkan saya dokter Robert. Saya dokter yang bertanggung jawab untuk memeriksa kondisi saudari anda. Dia mengalami hipotermia, tapi beruntung anda sigap membawanya kemari. Jika nanti infus di tangannya sudah habis anda bisa membawanya pulang." Ucap dokter Robert seraya tersenyum tulus pada Zafa. Dia juga menepuk pundak pria itu untuk memberikan semangat pada Zafa.


Zafa dengan setia duduk di samping brankar adik sepersusuannya. Sesekali jarinya membelai wajah cantik Zafrina.


"Kau tetap akan menjadi saudara kembarku meskipun kita berasal dari bibit yang berbeda. Aku akan selalu menyayangimu dan menjadi kakakmu." Gumam Zafa, ia tersenyum miris dengan fakta yang beberapa jam lalu ia dengar. Ibunya tak menghendaki kehadirannya. Namun nasibnya tak jauh berbeda dengan Zafrina yang di awal tidak pernah diinginkan kehadirannya oleh ayah kandungnya. Zafa dapat melihat wajah pucat Zafrina juga terlihat sembab.


"Apa yang terjadi padamu? kenapa kau terlihat habis menangis Ina?"


"Mama .. " Lagi-lagi Zafrina mengigau memanggil ibunya.


*


*


*


"Mas, kenapa perasaanku semakin tidak nyaman? apa terjadi sesuatu pada Zafrina?" ujar Dian di sela makan siang mereka.


"Zafrina bersama ayah kandungnya apa yang kau takutkan sayang?"


"Entahlah mas, tapi aku merasa terjadi sesuatu hal yang buruk padanya."


"Berpikirlah positif, Jika sekarang aku menghubungi Rian aku takut mengganggu waktu istirahat mereka." Kata Gerry.


Dian akhirnya menghela nafas pasrah. Semoga saja putrinya baik-baik saja. Selera makan Dian mendadak hilang setelah membicarakan Zafrina. Gerry bisa melihat piring istrinya yang masih utuh hanya tampilannya saja yang berantakan karena sedari tadi tangan Dian tak henti-hentinya mengaduk.


"Apa kau ingin aku suapi?" tawar Gerry, Dian menggeleng lemah.


"Kau harus bersemangat, sebentar lagi putramu akan menikah melangkahi kedua kakaknya. Bahkan kedua kakaknya pun tidak tahu jika mereka di langkahi oleh Zayn." Kata Gerry, ia harap usaha mengalihkan perhatian Dian berhasil.

__ADS_1


Dian melirik Gerry sekilas lalu melempar senyum getir. "Aku sebenarnya juga tidak berharap akan secepat ini. Tapi ini adalah keputusan terbaik. Aku tidak mau Zayn merusak putrinya Selin."


"Hei .. anakku adalah pria yang tahu aturan." Kata Gerry, Dian hanya tersenyum miring menanggapinya, tanpa sadar tangannya bergerak mengangkat sendok dan memasukkan makanannya kedalam mulut.


Gerry tersenyum samar, akhirnya istrinya mau makan juga.


"Kau tahu kenapa aku ingin menikahkan mereka secepat ini?" Gerry kembali bertanya, Dian tanpa sadar tertarik dengan apa yang Gerry bicarakan, ia dengan semangat menyendokkan sesuap demi sesuap makanan yang ada di atas piringnya seraya menggeleng.


"Karna aku menyukai jika rumah ini ramai dengan suara tangis anak-anak. Jika mereka segera menikah kita akan segera punya cucu." Kelakar Gerry, Dian menatap suaminya tajam.


"kau ini pikiranmu tidak pernah jauh dari hal-hal mesum."


"Hei bukan mesumnya yang jadi prioritas ku tapi kehadiran cucu yang lucu yang aku inginkan."


"Didik putramu dengan benar dulu. Biarkan dia belajat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Baru pikiranmu mengarah ke sana." Decak Dian kesal.


"Kau jangan salah, putramu sudah bisa menghasilkan banyak uang tanpa kau ketahui. Dia bahkan sudah memenangkan proyek tender besar di cabang perusahaan Surabaya. Bahkan Zayn sendiri yang menghandle dan mengajukan proposal."


"Apa kau serius sayang?" tanya Dian tak percaya. Gerry mengangguk dengan senyum kepuasan.


"Tentu saja sayang." Jawab Gerry.


.


.


.


"Baby kau disini?" tanya Zayn pada Judy. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.


"Mama memintaku belajar memasak pada nenek Rimbi, Zayn." Kata Judy, Zayn mengusap rambut Judy dan tersenyum lembut.


"Jangan paksakan dirimu. Kau dan mama berbeda sayang, kita bisa bayar pelayan aku tidak ingin kau terlalu lelah." Kata Zayn.


Zayana yang ada di sana berdecak kesal. "Woi ada orang disini jangan asik mesra-mesraan aja."


"Aku tidak apa-apa Zayn. Justru aku ingin sama seperti mama Dian. Apa yang menjadi keperluanmu nanti harus dari tanganku sendiri." Ujar Judy seraya menyandarkan kepalanya di lengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


"Baiklah, terserah padamu. Aku ada perlu sebentar di belakang. Setelah ini selesai kembali ke kamarmu. Kau harus banyak beristirahat." Zayn mengecup kepala Judy, setelah itu beralih ke Zayana dan ia pun mengecup puncak kepala adiknya lalu berjalan ke paviliun khusus pengawal.

__ADS_1


"Ah .. tumben sekali kakakku bersikap manis padaku." Ujar Zayana.


"Itu tandanya dia sangat menyayangimu Anna meskipun kau sering mengganggunya." Sindiran Judy.


.


.


.


Sementara itu Zafrina membuka matanya setelah 2 jam tak sadarkan diri.


"kakak .. "


"Iya Ina kakak disini." Zafa mendekat, Zafrina langsung mendekap perut Zafa dan menangis sesenggukan.


"Ina kau kenapa? apa ada yang menyakitimu?" Zafrina menggelengkan kepalanya. Zafa hanya bisa mengusap punggung Zafrina agar adiknya tenang.


"Katakan ada apa?" Zafa kembali menanyai gadis itu.


"Kakak, a-aku mendengar semuanya .. " Lirih Zafrina. Zafa sempat terkejut tapi sebisa mungkin dia bersikap tenang.


"Apa yang kau dengar?" tanya Zafa.


"Semuanya kak, aku mau ke Indonesia. Aku mau ikut mama saja. Aku bersalah sama mama, aku sudah memilih tinggal bersama orang yang tidak menginginkan aku." Isak Zafrina. Zafa segera megusap sudut matanya. Rasa ingin tahunya bahkan kini melukai hati Zafrina. Tak hanya mamanya yang terluka, tapi adiknya juga ikut terluka.


"Ina maafkan kakak, semua ini salah kakak." Bisik Zafa. Memeluk erat adik sepersusuannya.


"Antar aku ke bandara kak. Aku mau pulang saja."


"Kita pulang bersama. Kakak juga ingin bertemu mama. Sesampainya di sana jangan pernah mengatakan apapun pada mama. Jangan mengatakan tentang apa yang kita tahu atau kita akan sangat menyakiti hati mama." Ujar Zafa, Zafrina mengangguk.


"Iya kak, Ina janji."


"Aku panggil perawat dulu agar infusmu di lepas. Dan kita bisa segera pulang."


Setelah mengurus administrasi rumah sakit. Zafa dan Zafrina pergi meninggalkan rumah sakit menuju ke bandara. Meskipun perjalanannya memakan waktu lumayan lama Zafa dan Zafrina tetap pada pendiriannya ingin kembali ke Indonesia.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Selamat membaca ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


senin guys vote nya bagi buat mereka ya


__ADS_2