Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Bertemu Yudha


__ADS_3

********


"Kau kira siapa dirimu bisa berbuat seenaknya di perusahaan ini?" Hardik Wanda.


"Aku ..?" Ara menunjuk dirinya sendiri di hadapan Wanda. ---- "Kamu pasti tahu betul siapa saya. Jadi untuk apa kamu bertanya lagi." Ujar Ara tak acuh.


"Breng_sek dasar wanita penggoda." Geram Wanda hendak maju meraih rambut Ara, namun secepat kilat Ara menangkap tangan Wanda dan menguncinya di belakang tubuh wanita itu. Hingga Wanda menjerit.


"Aarrgh ... "


OG yang bertugas di lantai itu pun panik saat mendengar suara teriakan Wanda. Dia berjalan mondar mandir. Disaat bersamaan Billy dan Arsen keluar. Arsen sedikit terkejut karena Ara tiba-tiba menghilang. Dia berniat mencari istrinya hingga netranya melihat sosok OG yang terlihat panik itu.


"Ada apa di dalam kenapa kamu panik?"


Sementara itu.


"Jangan kamu pikir saya diam, terus kamu bisa berbuat seenaknya sendiri. Saya memang perempuan miskin yang sampai kapanpun tidak akan bisa selevel dengan kamu. Tapi jangan harap saya akan terus diam dengan kelakuan kamu yang seperti ini." Ujar Ara seraya menekan tangan Wanda hingga gadis itu semakin menjerit kesakitan.


Arsen membuka pintu begitu mendengar suara jeritan dari dalam pantri. Dan matanya menatap tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini begitupun Billy.


Ara seketika melepas kuncian nya. Wanda menangis menghampiri Arsen berharap mendapat simpati dari pria itu.


"Aku hanya minta maaf padanya, tapi lihatlah yang dia lakukan padaku." Wanda menangis dan terus memegang lengan Arsen.


Ara tersenyum miris melihat tingkah wanita itu. Ditambah respon suaminya yang diam saja saat di sentuh oleh Wanda.


"Ya teruslah mengadu dan jika perlu larilah ke pelukannya." Ujar Ara dia berjalan melewati Arsen dan menyenggol kan sedikit bahunya pada tubuh pria itu hingga Arsen tersentak. Dia melihat lengannya di gelayuti oleh Wanda seketika Arsen menghempaskannya dengan sangat keras. Dia bergegas menyusul Ara. Disaat yang bersamaan, Saat Ara sedang menunggu lift naik, dia terus meneteskan air matanya. Jika dulu dirinya dibuli dan di hina dia akan diam karena Ara tak ingin menambah beban hidup abahnya dengan semua masalahnya. Tapi sekarang dia bukan Ara yang dulu mudah di tindas. Dia akan lawan siapapun yang menginjak harga dirinya.


"Ra, kamu mau kemana?" Arsen menarik tangan Ara.


"Lepas .. Hibur saja sekertarismu itu." Desis Ara kesal.


"Jangan seperti ini Ra, bentar lagi aku meeting lho. Kalo kamu pergi dalam keadaan marah itu ga baik buat kamu."


"Terserah, yang jelas ga usah ganggu Ara ..! Ara mau sendiri dulu."

__ADS_1


Ting ...!


Pintu lift berdenting. Saat pintu terbuka Ara tertegun menatap pria yang ada di dalam lift. Begitupun sebaliknya. Dan tanpa di duga oleh semuanya pria dalam lift itu menarik tangan Ara dan memeluk nya. Lalu pintu lift kembali tertutup. Arsen hanya terpaku menyaksikan istrinya dibawa pria lain.


.


.


.


Dian, Gerry, Selin dan Didi duduk berhadapan. Setelah berbincang-bincang Didi memutuskan menitipkan Judy di mansion Gerry, setelah ia mendapat persetujuan dari pemilik mansion.


"Apa istrimu sudah diperbolehkan melakukan penerbangan?"


"Sejauh ini kata dokter boleh asal kondisi Selin dan janinnya sehat. Maka dari itu aku dan Selin akan sedikit lebih lama. Tidak bisa langsung buru-buru pulang."


"Sstt .. kau lihat, akhirnya momy menitipkan aku disini Zayn, aku senang sekali." Zayn menatap Judy lalu tersenyum lembut pada gadis itu.


"Iya .. "


"Dian bisakan aku menitipkan Gino, Aku dan Sasa harus ke rumah sakit karena papa Sasa kena serangan jantung." Kata Nino sudah meletakkan Gino di pangkuan Gerry,


"Tapi bagaimana dengan Asi nya?"


"Ada di kulkas kamar Gino. Tanya ibu Rimbi saja. Aku buru-buru Sasa dari tadi menangis."


"Ya, semoga lekas sembuh." Ujar Dian dan di amini oleh ketiga orang yang ada disana.


.


.


.


"Yudha .. "

__ADS_1


"Iya Sha .. ini aku Yudha." Ujar pria yang menarik tubuh Ara kedalam pelukannya.


Yudha Sadewa adalah sahabat satu-satunya yang pernah Ara miliki saat duduk di bangku SMP. Yudha adalah pelindung sekaligus penolong bagi Ara. Pria itu memiliki panggilan khusus untuk Ara. Yudha memilih memanggil Ara dengan nama tengahnya yakni Shakila.


"Kamu ngapain di kantor ini?" tanya Yudha. Seketika Ara tersadar jika dia meninggalkan suaminya.


"Ya ampun, Aa..!!" Seru Ara, namun sesaat wajah Ara berubah sendu mengingat terakhir kali melihat Arsen yang diam saja di gelayuti oleh Wanda.


"Aku ada meeting. Bisakah kita ketemu setelah ini?" tanya Yudha penuh harap.


"Mana kartu namamu aku akan hubungi kau nanti." Ujar Ara, setelah lift berdenting di lantai bawah Ara segera keluar. Dan Yudha kembali naik ke lantai atas.


Setibanya di ruang rapat aura disana terasa sangat mencekam. Wajah CEO perusahaan itu terlihat garang dan membesi.


"Anda terlalu banyak membuang waktu saya tuan Yudha." Sambutan yang begitu dingin terlontar dari bibir Arsen.


"Maafkan saya tuan Arsen. Karena saya juga tidak akan menyangka jika hari ini saya di pertemuan dengan wanita spesial yang selama ini saya cari."


DEG ..!!


Wajah Arsen semakin membesi dan terlihat dingin. Billy tak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya terjadi pada bosnya. Begitupun Wanda yang tampak masih takut karena tadi Arsen membentak nya.


"Saya rasa anda kurang profesional, anda tidak bisa memetakan mana yang harus didahulukan." Ketus Arsen. Yudha mengernyit heran, kenapa rekan bisnisnya ini selalu memancing emosinya.


"Tentu saja saya sudah memetakan semua dengan matang sehingga saya mau bekerja sama dengan anda. Tapi hal yang tidak di duga tadi melebihi dari semuanya. Bahkan saya rela kehilangan semua yang saya miliki demi bisa bertemu dengan wanita tadi." ---- Yudha.


Arsen mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sebenarnya apa hubungan antara rekan bisnisnya itu dengan Ara. Begitupun Wanda, alisnya bertaut mendengar penuturan Yudha yang rela kehilangan apapun demi Gadis kampungan itu.


"Apakah kita akan membahas masalah pekerjaan atau masalah pribadi tuan Arsen?" Yudha duduk di kursi samping Arsen. Akhirnya untuk sementara Yudha dan Arsen kembali membicarakan bisnis mereka.


Sementara itu Ara duduk di sebuah taman dekat kantor Arsen, matanya Menerawang jauh memikirkan nasib rumah tangganya kedepan.


"Apa yang harus aku lakukan Ya Allah." Ara menarik rambutnya kesal sendiri. Kenapa semua memperlakukan dirinya dengan rendah padahal dia tak pernah membuat masalah dengan siapa pun.


Ponsel Ara terus berdering, Ia memutuskan mematikan teleponnya karena dia butuh ketenangan saat ini tanpa ingin di ganggu oleh siapapun. Arsen kebakaran jenggot karena mendadak ponsel Ara dimatikan. Namun Arsen tak kehabisan cara. Dia membuka sebuah aplikasi untuk mencari ponsel yang hilang.

__ADS_1


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


__ADS_2