Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 51


__ADS_3

Sore ini Dian sedang memandikan Zafrina, air matanya terus mengalir. Ia teringat dengan Zafa, putra Gerry yang sudah ia rawat selama 6 bulan lebih. Bagaimanapun kecewanya Dian pada Gerry, Dian tetap menyayangi Zafa.


"Maafkan ibu sayang." Gumam Dian.


Nyonya Arimbi masuk ke kamar putrinya ia melihat putrinya sedang memakaikan baju pada cucu perempuannya. Tapi yang menjadi fokus nyonya Arimbi adalah mata sembab Dian. Meskipun dari samping nyonya Arimbi sudah hafal jika putrinya pasti sedang menangisi anak tirinya.


"Sayang ..!" nyonya Arimbi mengusap bahu Dian. Wanita itu menoleh mendapati ibunya sedang tersenyum lembut padanya.


"Ibu .."


"Kenapa menangis lagi?" tanya nyonya Arimbi.


"Dian .. teringat Zafa Bu."


"Apa kamu merindukan Zafa?" tanya nyonya Arimbi, Dian pun mengangguk.


"Ibu dan ayah akan usahakan agar secepatnya kamu bisa bertemu putramu itu." Kata nyonya Arimbi. Dian menerbitkan senyum bahagia.


"Terimakasih ibu," Dian benar benar senang. Karena keluarganya selalu mendukung dirinya.


"Tapi berjanjilah, jangan terlalu sering menangis. Ingat sekarang kau sedang mengandung. Suasana hatimu bisa berpengaruh pada janinmu."


"Iya Bu, maafkan Dian."


.


..


"Katakan dimana kau sembunyikan istriku?"


Rian tersenyum remeh, lagiยฒ pria dihadapannya ini berbuat kesalahan lagi. Ia yakin sekarang ibu dari putrinya pasti kabur dari rumah pria ini.


"Ha .. ha .. ha lucu sekali kau ini, dia istrimu bagaimana bisa kau menanyakan keberadaan Dian padaku?"


"Aku tau kalian sering diam diam berhubungan di belakangku kan?" Ujar Gerry penuh emosi.


"Kau ini benar-benar pria breng*sek. Bagaimana bisa kau berpikiran picik pada istrimu sendiri? Kau boleh menjelekkan ku tapi jangan sekali kali kau menjelekkan ibu dari putriku." Rian mencengkeram kerah kemeja Gerry dengan geram. Bagaimana pria dihadapannya ini bisa bisanya menuduh istrinya sendiri berbuat hal sehina itu.

__ADS_1


"Hah .. lucu sekali kau seolah membelanya. Kau sudah membuangnya seperti sampah kau ingat itu tuan Al Farez."


"Ya aku akui memang aku pernah berbuat kesalahan padanya. Tapi nyatanya kau tidak lebih baik dari ku dalam hal menjaganya. Jika kau berbuat baik padanya tidak mungkin dia akan kabur darimu." Ujar Rian sarkas. Ia menghempaskan cengkeramannya lalu meninggalkan Gerry di ruang kerja Rian, Rian terlalu malas mengurusi rival bisnisnya itu.


Rian segera menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Dian. Bagaimana pun Dian membawa putrinya. Jika sesuatu terjadi pada mereka berdua, Rian akan sangat merasa bersalah.


Gerry masih terdiam di ruangan Rian, matanya terasa panas, harus kemana lagi dirinya mencari Dian. Dengan langkah gontai Gerry meninggalkan perusahaan Rian.


Sigit membukakan pintu mobil dengan tatapan iba pada Gerry, pria itu tampah begitu rapuh. Namun ia akan semakin arogan jika berhubungan dengan orang luar.


.


..


"Aaakh .. sakit sayang" jerit Veni saat pusaka milik Aldo terbenam seluruhnya di inti tubuh Veni, Aldo langsung kembali me*lu*mat bibir Veni dengan rakus. Gadis itu membalas ciuman itu dengan kaku. Rasa sakit yang tadi ia rasakan berubah menjadi nikmat kala tubuh Aldo mulai bergerak dengan lembut. Pria satu ini benar benar maestro dalam hal menaklukkan wanita. Bahkan sudah tak terhitung berapa wanita yang sudah menyerahkan keperawanannya pada Aldo. Pria ini bagai mesin pemuas nafsu. Mereka terus bermain hingga keduanya terkulai lemas bermandikan peluh.


"Aku mencintaimu sayang" Lirih Veni namun Aldo hanya tersenyum miring. Ini awal kehancuran Veni. Wanita itu sama sekali tak tau sedang berhadapan dengan siapa.


.


..


Malam ini keluarga Prawira berkumpul di ruang makan. Zafrina di letakkan di stroller di samping Dian, nyonya Arimbi meembantu menyiapkan hidangan makan malam di meja. Dian tetap duduk menatap sang ibu yang bergerak dengan lincah di usianya yang tak lagi muda.


"Bagaimana kehamilanmu Dian?" tanya tuan Kusuma.


"Baik kakek. Cicitmu ini tahu jika ibunya masih harus mengurus dua kakaknya. Sehingga dia sama sekali tak menyulitkan ku.


"Kenapa kau harus repot-repot seperti itu?"


"Kakek, bagaimanapun Zafa juga putraku, meskipun dia tidak terlahir dari rahimku. Lagi pula Dian sangat menyayangi Zafa kek. Dian tidak mungkin berpura pura menutup mata tak memikirkan dia.


"Ayah, sebaiknya kita mulai makan!" Sela nyonya Arimbi. Ia tak ingin Dian kembali bersedih mengingat putra tirinya.


Akhirnya keluarga Prawira makan dengan hening, hanya suara denting sendok yang saling bersahutan.


Setelah selesai acara makan malamnya keluarga itupun berkumpul di ruang keluarga.

__ADS_1


Nyonya Arimbi membawa teh dan cemilan untuk ketiga pria beda generasi itu, dan membawa susu hamil untuk Dian.


"Minum dulu susumu sayang!"


"Tapi Dian masih kenyang ibu." Ujar Dian dengan cemberut. Tuan Hanafi dan yang lain geleng kepala melihat tingkah Dian.


"Bagaimana kalo besok kita liburan ke Villa?" tanya Nino antusias. Pria itu terlihat seperti pengangguran sukses bagi Dian. Karena selama pertemuan mereka, Dian tak pernah sekalipun melihat Nino berangkat ke kantor. Ia selalu berada di rumah dengan menghadap laptopnya.


"Kau tau sepupumu sedang hamil muda bukan?" tanya tuan Kusuma, Nino hanya mengusap tengkuknya, ia sebenarnya bosan setiap hari di rumah tak melakukan kegiatan apapun.


"Nino, bagaimana hubunganmu dengan Sasa?" tanya Dian, semua yang ada di ruangan itu menatap Nino penuh tanya.


"Sasa? apa dia pacar Nino sayang?" tanya nyonya Arimbi, tuan Kusuma dan tuan Hanafi hanya diam menunggu jawaban Nino.


"Kami hanya berteman jangan berlebihan." Ujar Nino was was, dirinya takut jika nanti kakeknya kembali menyuruhnya menikah. Ia belum siap untuk itu.


"Tapi bukankah ..?" Dian langsung terdiam saat telapak tangan Nino yang besar membungkam mulutnya, Lalu Nino sudah bersiap menarik tangan Dian namun terhenti karena kakeknya.


"Nino, jaga sikapmu. Dian sedang hamil!" gertak tuan Kusuma, sebenarnya ia penasaran siapa gadis yang sedang dibicarakan oleh kedua cucunya,


Nino mendesah kalah, sepertinya dia harus melewati malam panjang dengan ceritanya.


"Tuan Gunawan terus mendesakku untuk segera melamar Sasa." Ujar Nino lagi lagi ia menghela nafas berat.


"Apa kau tidak menyukainya sehingga paman Gunawan harus memaksamu?" tanya Dian penasaran. Namun Nino menggeleng lemah. Dia benar-benar jatuh hati pada Sasa. Namun apa daya, ia tak bisa jauh dari kakeknya.


"Masalahnya, aku belum siap."


"Kenapa?" Kali ini tuan Kusuma ikut berkomentar.


"Karena aku ingin menjaga kakek," Kata Nino.


"Gionino, kakek justru akan merasa senang jika kau memiliki istri. Sehingga rumah ini akan penuh dengan keceriaan lagi. Katakan pada kakek dimana rumahnya mari kita kamar sekarang." Ucap tuan Kusuma dengan semangat.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Othor sebenarnya mau ga up hari ini. Othor lagi ga enak perutnya baru dapet tamu bulanan. Cm othor suka kepikiran ma yg sering stay nunggu lanjutan cerita ini.

__ADS_1


Terimakasih buat kalian yang masih sabar nungguin. love you all ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2