
********
Diego dan team terus mengawasi disekitaran sekolah itu. Ia melihat gerak gerik mencurigakan dari dua mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya namun berseberangan.
Sementara itu Didi dan Nino sedang menatap layar laptop dimana CCtv di sekolah itu sedang diretas oleh Nino. Mereka dapat melihat jika ada yang mengawasi sekolah anak mereka.
"Sebaiknya kau dan Gerry kesana." --- Nino.
"Aku rasa memang harus kesana. Perasaanku rasanya tidak nyaman." Ujar Didi.
"Jangan lupa, bawa senjatamu. Tembak saja kepalanya. Otak yang merencanakan kejahatan tidak layak untuk di beri maaf." Kata Nino masih mengawasi layar laptopnya. Didi mengangguk lalu pergi. Ia segera menghubungi Gerry untuk menyusulnya ke sekolah anak-anak mereka.
Dilain tempat Viona sudah menyamar, dia akan bertugas menculik anak Selin untuk mengalihkan perhatian. Agar Archel bisa menculik Selin dan Dian dengan mudah.
Rencana sudah di susun matang, tinggal menjalankannya saja. Viona turun dari mobil bersama seorang pria. Viona menggunakan Wig panjang berwarna kuning keemasan. Ia juga memakai kaca mata serta lensa kontak dengan warna lain.
Namin tetap saja Diego dapat mengenali wajah wanita itu.
"Apa wanita itu bodoh?" Gumam Diego. Apri menoleh melihat arah pandangan rekannya.
"Kau lihat bahkan wajahnya masih dengan mudah kita kenali. Jika dia berniat menyamar seharusnya totalitas. Beri gigi palsu dan lainnya." ---- Diego. Apri hanya terkekeh sedang dua rekan yang duduk di belakang mereka ikut melihat kearah Viona.
"Ck .. kenapa menunggu dia bergerak? langsung tembak saja dia." Ujar rekan Diego yang lain.
"Masalahnya ini dilingkungan sekolah Pablo." Diego dan yang lain mengamati Viona yang sedang berbicara dengan petugas penjaga.
.
.
.
"Saya bersumpah, jika memiliki janji dengan kepala sekolah." Ujar Viona.
"Maafkan kami nona, Kami hanya menjalankan perintah. Tanpa surat ijin masuk anda tidak boleh ke dalam." Ujar seorang penjaga.
Archel menatap geram, sepertinya ia salah mencari partner. Idenya memang cemerlang hanya saja, otak Viona kapasitasnya terbatas.
"Sepertinya kita salah mencari sekutu tuan." Ucap anak buah Archel. dan hanya dibalas dengusan oleh Archel.
Tak lama siswa-siswi di sekolah itu keluar bersama beberapa orang tua dan pengasuh.
Mata Viona tak lepas mencari Selin dan Judy. Ia terus menelisik setiap siapa saja yang keluar. Matanya berbinar terang saat ia melihat Selin menggandeng seorang gadis kecil dan seorang pria kecil. Lalu siapa yang akan dia tarik? otaknya harus berpikir keras.
"Kau sentuh putraku akan ku potong tanganmu." --- Desis Nino di depan layar laptopnya.
"Pergi dari sini, biarkan wanita bodoh itu tertangkap. Sia-sia aku mengeluarkan uang sebanyak itu untuknya." ---- Archel.
Mobil Archel meninggalkan Viona. Diego dan rekan-rekannya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ternyata lawan kita pengecut. Aku yakin jika team 2 pun sanggup menghadapi pria sepertinya." Ujar Diego.
Sementara itu Viona terlihat panik saat mobil Archel meninggalkan dirinya. Namun sudah kepalang tanggung. Dari pada pulang tak membawa hasil apa-apa. Akhirnya Viona berbalik ingin membalaskan dendamnya saja. Ia melihat Dian tak jauh dari Selin dan sedang berbicara dengan seorang gadis cilik. Gadis kecil itu adalah target Viona. Ia tak sadar jika Gerry sudah tiba disana dan sedang menatap kearah Viona. Gerry turun dari mobil. Ia memberi kode pada Pablo agar segera menghentikan Viona. Dia tak ingin trauma istrinya kembali terulang. Saat Viona hendak mendekat kearah Dian, Pablo menempelkan alat kejut listrik ke tubuh Viona. Viona seketika lemas. Sedangkan pria yang tadi bersama Viona, hendak melarikan diri namun dapat di tangkap oleh Apri.
Dian menatap sekilas kearah Viona. Tapi pekikan Zayana mengalihkan perhatiannya.
"Papa .." Teriak Zayana langsung menghambur memeluk sang papa. Gerry tersenyum mengusap kepala putrinya.
"Hampir saja .." --- Gerry.
Diego dan lainnya pergi membawa Viona yang pingsan dan anak buah Archel. Mereka membawa keduanya ke markas mereka untuk diintrogasi.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai? kenapa menjemput kami?" --- Dian.
"Aku hanya ingin mengajak istri dan anak-anakku yang untuk makan siang." Kata Gerry tersenyum hangat pada Dian. Dian membalas senyuman Gerry lalu menggandeng lengan suaminya.
"Daddy .." Mata Judy membulat saat Didi juga mendekat kearah dirinya dan Selin.
"Hai putri Daddy. Apa kau senang bersekolah disini?" Tanya Didi mengangkat tubuh Judy. Meskipun hatinya masih resah karena Archel sudah kabur duluan sebelum ia sampai. Dan Didi sempat mengumpat kesal.
"Hmm .. ia Dady aku menyukainya." Kata Judy terkekeh.
"Apa kalian ingin ikut dengan kami?" tawar Gerry.
"Tidak, mereka harus pulang. Karena ada hal penting yang harus aku urus." Ucap Didi memberi isyarat pada Gerry.
"Baiklah .. semoga harimu menyenangkan." Gerry membawa Dian dan ketiga anaknya pergi.
Nino menggeleng dengan kecewa. "Huh sungguh endingnya benar-benar tak terduga. Ku kira akan keren seperti film action ternyata musuhnya hanya pria jadi-jadian."
Nino meletakkan laptopnya dan pergi mencari putra keduanya. Sepertinya lebih menyenangkan bermain dengan putra nya dari pada mengawasi musuh Didi.
.
.
.
Di apartemennya, Archel terus mengumpat dan memaki anak buahnya. Jika saja dulu Selin langsung mati saat ia tabrak, pasti sekarang dia sudah menikmati hidupnya.
Tapi kini dia harus kembali bersabar, dan sepertinya dia perlu pindah ke tempat lain karena Viona bisa saja mengatakan keberadaannya jika dia tertangkap.
"Rugi sekali, menebus wanita sialan itu." Gerutu Archel.
Sedangkan saat ini Viona sudah diikat di markas king devil. Mafia bentukan Rian, Diego mengguyur wajah Viona dengan seember air es. Hingga Viona gelagapan. Ia sudah akan mengumpat tetapi matanya tiba-tiba membulat saat melihat sekelompok pria sedang menatapnya.
"S-siapa kalian?" ujar Viona ketakutan.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang perlu kau ketahui, kau telah salah berurusan dengan seseorang." Jawab Pablo, mata Viona menatap Diego dan Apri.
__ADS_1
Apakah mereka orang suruhan Didi? matilah aku. --- Viona
"A-apa maksudmu?" tanya Viona suaranya bergetar.
"Kau tidak perlu tahu maksud kami. Yang perlu kau tau, nikmatilah hari-hari terakhirmu di dunia ini." Ujar Diego datar. Semua meninggalkan Viona sendirian diruang penyiksaan.
"Apa yang akan kita lakukan pada pria itu? tanya Pablo pada Diego.
"Entahlah, kita tunggu saja si tuan baik hati itu.
"Kenapa kau menjuluki tuan Didi dengan sebutan itu?" Tanya Apri.
Diego terkekeh, ia mengingat curahan hati Didi saat itu hingga ia menjulukinya tuan baik hati.
"Karena dia memang pria baik hati. Dia membiarkan hatinya terluka demi agar sahabatnya bahagia."
.
.
.
Didi membawa masuk anak dan istrinya kedalam mansion. Ia memerintahkan seorang pengasuh Ana untuk membawa Judy ke kamarnya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Selin menatap Didi dengan penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Jangan khawatir!" Ujar Didi mencium puncak kepala Selin.
"Aku melihat Viona di sekolah Judy tadi. Tapi aku pura-pura mengacuhkan dirinya. Apa Archel tadi juga disana?" rasa cemas tiba-tiba merayapi hati Selin.
"Percaya lah, aku akan lakukan apapun untuk melindungimu dan Judy. Nanti setelah semua masalah kita beres, aku ingin mengajakmu honeymoon berkeliling dunia memakai pesawat kita." Bisik Didi. Wajah Selin seketika memerah. Rasa cemas berubah menjadi rasa malu karena Didi mengatakan honey moon.
"Aku harus pergi sebentar, ada hal yang harus aku urus saat ini." Bisik Didi.
"Baiklah, tapi jangan melakukan sesuatu yang berbahaya. Karena aku tidak akan sanggup kehilanganmu." Desis Selin dengan suara parau. Didi mengangguk seraya mengusap wajah Selin, lalu mengecup bibir Selin sekilas.
"Setelah ini segeralah makan siang bersama Judy, jangan terlambat! Aku tidak mau kamu sakit." Didi langsung meninggalkan Selin sendirian. Selin mendes*h, ia berharap Didi selalu baik-baik saja dimana pun ia berada.
Lindungi suamiku dimana pun ia berada Ya Allah. --- Selin.
Didi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sedang berpikir cara menemukan Archel. Ia tak ingin terus-menerus merasa cemas.
Didi tiba di markas King Devil. Ia masuk dan semua anak buah Rian menunduk hormat padanya. Namun mata Didi langsung membulat saat masuk ke ruang penyiksaan.
"Apa yang kalian lakukan?" Pekik Didi.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Like vote dan komen ya guys. Hadiahnya juga boleh mampir buat othor.
__ADS_1
Moon maaf ya. Daring ini benar-benar bikin susah.