
*******
Judy memilih mengurung dirinya di apartemen dan mematikan ponselnya. Ia sedang tidak ingin di ganggu saat ini. Judy duduk di sofa yang ada balkon kamarnya. Wajahnya pucat dan lingkar matanya terlihat menghitam, berulangkali Judy menarik nafasnya panjang, ada kegetiran dari sorot matanya. Ia lelah dengan semua kebekuan Zayn, ia mengingat kebersamaan mereka waktu kecil yang terasa begitu manis. Apakah Zayn sudah mulai bosan bersamaku? tanpa terasa bulir air mata menetes dari sudut matanya.
Judy sekarang tinggal sendirian di Indonesia. Didi dan Selin juga anak kedua mereka tinggal di negara T. Judy bersikukuh ingin di Indonesia karena Zayn, tapi sepertinya kini semuanya terasa percuma saja.
"Apa aku pulang saja kenm negara T dan mencoba melupakan Zayn?" Lirih Judy, namun sedetik kemudian ia menangis tersedu-sedu dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang di tekuk sejajar dengan dadanya.
Sementara itu di ruang makan keluarga Dian suasananya mendadak dingin karena Zayana masih enggan berbicara dengan Zayn.
"Kenapa sudah hampir siang Judy tidak kemari sayang? apa kau bertengkar dengannya?" Dian mengintrogasi Zayn.
"Biarkan saja mah, biar Judy mencari pria lain yang lebih bisa menghargai keberadaannya." Ketus Zayana.
"Ada apa sebenarnya sayang?"
"Tidak apa-apa mah jangan hiraukan Ana mah. Aku yang akan ke apartemen Judy menjemputnya." Kata Zayn, ia pun segera menghabiskan makanannya dan setelah mencium pipi mamanya Zayn pergi namun sebelum itu dia melemparkan tatapan tajam kearah Zayana.
*
*
*
Zayn tiba di apartemen Judy, ia juga hapal pin masuk ke apartemen itu. Tapi ia memilih menekan bel pintu apartemen kekasihnya itu. Namun sampai beberapa saat pintu Judy tak kunjung terbuka, dan karena penasaran Zayn mencoba menekan kode pin pintu Judy. Saat didalam ruangan apartemen mewah Judy, Zayn semakin percaya jika kekasihnya masih ada di dalam apartemennya karena AC dan lampu yang sampai sekarang tidak di matikan. Zayn mencoba membuka pintu kamar Judy, namun Zayn tak mendapati Judy di atas ranjangnya, Zayn masuk semakin dalam ia melihat Judy bersandar di sofa, Zayn tersenyum tipis ia bergegas mendekati Judy. Namun mata Zayn tampak terkejut karena melihat wajah pucat Judy. Ia segera menghampiri tubuh Judy dan memeriksanya. Zayn buru-buru mengangkat tubuh Judy dan membawanya ke ranjang saat ia merasakan tubuh gadisnya begitu panas. Zayn segera menghubungi dokter Arya untuk datang ke apartemen Judy. Zayn merasa bersalah pada Judy. Ia mengambil baskon lalu mengisinya dengan air hangat dan meraih handuk kecil yang ada di lemari persediaan.
Kelopak mata Judy terbuka perlahan, matanya menatap siluet wajah pria yang sudah belasan tahun menghuni hatinya. Tangan Judy terulur dan mengusap rahang tegas Zayn, seulas senyum terbit di bibir Judy yang terlihat pucat dan kering.
__ADS_1
"Kenapa kau disini? Pergilah .. Aku akan belajar melupakanmu mulai sekarang." Lirih Judy dan lagi-lagi sudut matanya meneteskan air mata.
Deg ..!!
Sudut hati Zayn terasa nyeri saat kata-kata itu keluar dari mulut Judy. Apalagi melihat air mata gadis itu rasanya meminta maaf pun tetap akan butuh perjuangan
"Maafkan aku yang belum bisa mengimbangi besarnya rasa cintamu padaku. Tapi percayalah aku juga mencintaimu Judy." Bisik Zayn.
Arya tiba setelah 30 menit perjalanan. Ia segera mengeluarkan alat-alat dan memeriksa kondisi keponakannya. Arya menggeleng melihat wajah lemah Judy, Ia segera mengambil botol infus dan memasang jarum infus di punggung tangan Judy.
"Biarkan dia istirahat. Tadi aku juga membawa bubur buatan neneknya. Setelah dia bangun ajaklah dia makan dan suruh dia meminum obatnya. Kau tahu anak ini paling benci obat sejak dulu. Dia dehidrasi dan sepertinya sejak semalam dia tidak makan sehingga perutnya kosong." Ujar Arya.
"Baiklah uncle terimakasih." Zayn mengantar Arya hingga depan pintu. Setelah Arya pergi Zayn berbaring di samping Judy, perlahan-lahan tangannya membelai wajah cantik gadis yang selalu menjadi bayang-bayangnya. Zayn tersenyum tipis ia memeluk tubuh Judy dengan erat. Tak lama Zayn pun ikut terlelap.
Judy sudah merasa lebih baik, namun rasanya tubuhnya sulit untuk di gerakkan. Judy membuka matanya ia melihat Zayn tidur dan memeluknya dengan posesif. Judy bergerak menyamping kini ia berhadapan dengan wajah tenang kekasihnya. Tangan Judy terulur mengusap alis mata Zayn yang tebal, menyentuh hidungnya yang mancung dan jemarinya berhenti di bibir seksi Zayn, Meskipun mereka sudah lama berpacaran tapi mereka masih menjaga komitmen untuk tidak melakukan kontak fisik yang berlebihan tapi apa ini? Pria ini bahkan dengan santainya tidur seraya memeluk tubuhnya.
"Zayn, apa yang kau lakukan?" Tanya Judy, Zayn membuka mata dan menatap manik mata Judy dalam.
"Judy apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu? Aku sudah sering bilang jangan berpikiran yang bukan-bukan tentangku, tentang perasaanku. Percayalah hanya kamu yang selama ini ada di hatiku." Desis Zayn seraya membelai wajah Judy.
"Entahlah, aku lelah. Sepertinya memang kita perlu berpisah sementara waktu untuk mengoreksi perasaan kita masing-masing Zayn. Aku tidak yakin perasaan yang kau miliki untukku itu adalah cinta. Atau mungkin hanya perasaan nyaman saja karena selama ini hanya aku yang selalu ada di sampingmu." Lirih Judy, mata gadis itu kembali mengkristal.
"Kau meragukan perasaanku?" ujar Zayn kecewa.
"Aku hanya wanita biasa Zayn, aku butuh kepastian dan pengakuan aku juga ingin di perlakukan dengan penuh perhatian." Judy terisak seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Zayn merengkuh tubuh Judy dan memasukkan gadis itu kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Sshh .. sudahlah jangan menangis. Aku akan berusaha mengubah sikapku sedikit demi sedikit. Maaf jika sikapku melukaimu baby." Zayn mengecup puncak kepala Judy berulang kali. Gadis itu masih terus terisak dalam dekapan Zayn, hingga kemeja yang Zayn kenakan basah.
*
*
*
Di bandara John F Kennedy malam ini.
"Papa .. " Zafrina memeluk Gerry erat. Rasanya berat melihat kepulangan papanya kembali ke negaranya.
"Jaga dirimu baik-baik sayang, dan jangan lupa untuk selalu berkabar dengan Zafa." Ujar Gerry, ia masih terus memeluk putrinya. Di belakang mereka ada Rian dan Velia juga Zafa. Rasanya Gerry begitu berat meninggalkan putranya tapi bagaimana lagi ini adalah proses bagi Zafa untuk mendewasakan dirinya.
"Tentu saja papa, jika perlu aku akan sering menginap di apartemen kakak." Jawab Zafriba, meskipun tersenyum air mata gadis itu tak dapat di sembunyikan. Gerry mengusapnya dengan halus.
Zafa langsung mendekat ketika tatapan mata Gerry tertuju padanya. Anak itu pun memeluk Gerry erat.
"Papa tenang saja, disini ada uncle Rian yang menjagaku." Ujar Zafa hati Gerry semakin mencelos. Bagaimana jika semuanya benar-benar seperti yang ia duga. Sanggupkah dia menyerahkan putranya pada Rian? atau apakah Rian akan meminta paksa Zafa dari dirinya? Rian memeluk Gerry tanda perpisahan.
"Percayalah, putramu akan baik-baik saja. Aku akan menjaganya seperti Dian menjaga putriku." Ujar Rian, Gerry mengangguk ia mengecup kening Zafa dan Zafrina bergantian lalu ia segera berlalu untuk kembali ke Jakarta.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Kalem dulu ya guys. othor lagi banyak tugas negara
๐๐ vote dan giftnya jangan lupa di kasihkan othor.
__ADS_1
Love buat kalian semua ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ