
*********
Rian menatap putrinya dengan tatapan yang teduh. Zafrina membuang muka. Bukan karena dia tak merindukan papinya. Jujur saja meskipun dia kecewa papinya menyakiti ibunya. Tapi ada hal lain yang membuat Zafrina tidak betah lama-lama menatap mata papinya. Dia rasanya ingin menangis dan memeluk papinya saat ini juga. Tapi gengsi jika sampai dia terlihat lebay di depan saudaranya yang lain. Apalagi di ruangan itu tak hanya ada keluarga mereka melainkan ada keluarga Judy juga.
Rian tampak kecewa saat putrinya memilih membuang muka. Rian mendekat ke brankar Dian, Zafia masih duduk di sebelah ibunya. Wanita itu menatap datar kehadiran mantan suaminya. Dian memang bukan pendendam tapi untuk melupakan apa yang telah Rian lakukan ia butuh waktu.
.
.
.
"Dian, aku ... " Suara Rian tercekat di kerongkongan saat melihat begitu banyak pasang mata menatapnya. Gerry yang menyadari kecanggungan Rian segera mengajak yang lain keluar dari ruangan terlebih dahulu, Zafia mau tak mau ikut keluar dari ruangan Dian setelah sebelumnya ia mengecup kening Dian. Semuanya keluar dan menyisakan Dian, Zafa dan Zafrina. Sementara Gerry ikut keluar karena ia sudah tahu apa yang akan Rian bicarakan.
"Dian, aku kemari khusus ingin meminta maaf padamu atas kelancanganku. Aku tau aku salah tak seharusnya aku menceritakan sesuatu yang bukan hakku. Tapi aku juga melakukan semua itu agar Zafa tidak memandang salah dirimu." Kata Rian, Dian menitikkan air matanya. Entah air mata apalagi hanya Dian yang tahu.
"Apa kau pernah berpikir sebelum mengatakan semua itu? kenapa kau selalu bertindak semaumu sendiri? Kurang mengalah apa aku padamu? Kenapa kau harus mengungkit kepahitanku di depan anak-anakku?"
"Aku hanya ingin membuat mereka tau jika kau sudah banyak berkorban untuk mereka."
"Untuk apa? agar mereka mengasihaniku?" Dian mulai meninggikan suaranya. Emosinya masih belum reda. Meskipun Dian bisa melihat jelas raut penyesalan di wajah Rian. Namun hal itu tak bisa meredam rasa marah dan kecewanya. Dian hanya tidak ingin Zafa atau Zafrina merasa pernah tidak diharapkan oleh orangtua mereka sendiri.
Dian mulai terengah-engah, Zafrina dan Zafa segera mendekati Dian dan mengusap bahu Dian.
"Mama ... " Zafrina terisak.
"Papi keluar sekarang, kalo sampai terjadi sesuatu pada mama Ina ga akan mau bicara lagi pada papi." Mendengar ancaman putrinya mau tak mau Rian berjalan gontai meninggalkan Dian, Ina dan Zafa.
.
.
__ADS_1
.
Zafa menekan tombol emergency. Tak lama dokter dan beberapa perawat jalan mendekat ke ruangan Gerry, Gerry langsung membuka pintu ruangan Dian mendahului dokter. Jantungnya seakan dipompa sangat cepat, disaat bersamaan Rian keluar dari ruangan Dian dengan wajah tertunduk. Hatinya hancur mendengar ucapan putrinya.
Tanpa memperdulikan Rian Gerry masuk ke ruangan Dian, disusul oleh dokter Dzaki dan beberapa perawat. Perawat segera memasang selang oksigen ke hidung Dian. Dokter mengambil stetoskop nya dan memeriksa kondisi Dian. Seorang perawat yang bertugas menyiapkan peralatan dan obat langsung mengangguk saat dokter Dzaki memberi perintah untuk menyiapkan obat tidur. Dokter Dzaki menyuntikkan obat tidur di lengan Dian dan tak lama Dian memejamkan mata. Dokter Dzaki menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Apa yang terjadi pada istriku?"
"Istri anda hanya masih memerlukan waktu untuk menormalkan kembali tubuhnya. Saya harap kalian bisa bekerjasama. Jangan terlalu banyaemberikan tekanan atau beban pikiran karena semua itu akan menghambat proses penyembuhannya." Kata dokter Dzaki.
"Papa, bolehkah Ina berbicara pada papi?"
"Tentu saja sayang, kau memang perlu berbicara dengan papimu." Kata Gerry mengusap kepala Zafrina. Sesaat Zafrina mengecup pipi Gerry dan Zafa bergantian setelah itu dia pamit pergi.
.
.
.
Zafa dapat melihat ketegangan di wajah papanya. Tapi dia pun tak bisa berbuat banyak untuk membantu apapun. Zafa duduk di ranjang pasien bawah kaki Dian.
"Papa ... "
"Ada apa sayang?"
"Apa yang harus aku lakukan agar mama lekas sembuh? aku sedih melihat mama seperti ini." Gerry tersenyum tipis, tidak hanya putranya saja yang sedih melihat kondisi Dian saat ini. Dirinya pun sama merasakan kesedihan itu dan mungkin anak-anaknya yang lain juga sama merasakan kesedihan itu.
"Kau hanya perlu selalu tersenyum saat berada di hadapan mama kamu. Kau dengar sendiri jika mama kamu bilang bahwa kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan mama. Jadi kamu hanya harus bahagia." Kata Gerry. Zafa mengangguk, tapi apakah hanya dengan begitu Dian akan bahagia.
"Kau tau Zafa, mungkin kau akan bilang papa tak punya perasaan. Tapi dulu saat papa melihat mama datang membawa Zafrina papa begitu terpesona pada mama. Ditambah saat itu mama langsung meletakkan Zafrina dan menggendong kamu yang menangis tanpa ragu mama langsung menyusui kamu. Jantung papa langsung berdebar melihat mama kamu tersenyum saat melihat kamu bersendawa setelah menyusu. Seketika itu papa sama sekali tak ingat jika papa masih harus mencari ibumu. Yang ada di pikiran papa saat itu bagaimana membuat mama tetap tinggal demi kamu." Gerry lagi-lagi tersenyum mengingat masa-masa dulu.
__ADS_1
"Lalu apa itu artinya papa tidak mencintai ibu Selena?" tanya Zafa hati-hati, ia takut menyinggung perasaan Gerry.
Mata Gerry menerawang kembali pada ingatan waktu itu.
"Papa bahkan rasanya hampir gila saat itu, saat papa tau ibumu pergi dengan papi Ina. Tapi entah mengapa melihat wajah mamamu yang lembut dan keibuan membuat papa jatuh hati."
.
.
.
Sementara itu Zafrina dan Rian ada di sebuah Cafe, Rian memesan privat room agar leluasa berbicara dengan putrinya. Rian terus menatap putrinya sendu.
"Apa kau tidak mau memaafkan papi sayang?"
"Apakah dengan maaf dari Ina, papi bisa mengembalikan semuanya seperti semula?" Zafrina lebih memilih menatap bulir air es yang mengalir di gelasnya daripada harus menatap Rian.
"Apa papi tau seberapa sakit hati Ina? Sekeras apapun Ina berusaha melupakan ucapan papi, tapi sakitnya tidak mau pergi dari hati Ina, lalu Ina harus berbuat apa papi?"
"Lalu sekarang papi harus apa agar Ina mau memaafkan papi?" wajah letih Rian terlihat putus asa. Bahkan putrinya menatap dirinya saja enggan.
Berbeda dengan pikiran Rian, Ina membuang wajahnya bukan karena tak ingin menatap wajah Rian melainkan Zafrina tidak sanggup menatap wajah ayahnya. Sesakit apapun rasa dihatinya ia sangat menyayangi Rian. Namun jika dia langsung memaafkan papinya, Zafrina takut hal itu akan melukai hati mamanya. Zafrina benar-benar dilema, hingga tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.
Rian tak kuasa melihat putrinya menangis ia pun menjatuhkan tubuhnya bersimpuh dihadapan Zafrina.
"Pukul papi, atau maki saja papi jangan diam seperti ini sayang."
"Ina harus bagaimana papi? Ina tidak mau menyakiti mama. Ina takut mama kenapa-kenapa." Isak Zafrina, Rian menarik tangan Zafrina dan memeluk putrinya erat. Gadis itu terus terisak di dada bidang papinya. Rian terus mengusap punggung Zafrina, semakin lama tangisan gadis itu mulai mereda seiring tubuhnya melemas dan ia jatuh ke alam mimpi.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Menuju ending ... (benar-benar ending tanpa extra part) ๐ ๐
Selamat membaca guys ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ