
⛅ Selamat membaca ⛅
Flashback
Gerry masih kepikiran dengan box yang dibawa oleh ibunya, ia pun mengendap² mengikuti nyonya Arini menuju kamar Zafa.
Gerry langsung bersembunyi di balik pintu yang tak tertutup rapat itu, sayup sayup ia mendengar suara pengasuh Zafa
"Ini dari non Dian lagi nyah?"
Alis Gerry bertaut, "Dian? lagi? apa maksudnya? apakah sebelumnya Dian pernah mengirim sesuatu untuk putranya?" batin Gerry.
Setelah sang ibu keluar, Gerry ke kamarnya dan segera membuka pintu penghubung kamar Zafa, disana ada bi Yuni yang sedang menata kulkas penyimpanan ASI Zafa. Dan bi Esih sedang menyuapi makan putranya.
"Bi Yun, apa Asi sisa Dian kemarin masih ada atau sudah habis?" tanya Gerry basa basi.
"En .. anu tuan, ini tadi nyonya bawa ASI buat hari ini." Jawab bi Yuni gelagapan.
"Mama dapat ASI dari mana bi?" tanya Gerry lagi, dirinya semakin curiga ada yang ibunya sembunyikan darinya.
"Sa-saya ga tau tuan. Katanya nyonya pesan di bank ASI." bi Yuni semakin menunduk tak berani menatap wajah majikannya itu.
"Ya sudah kalo begitu." Gerry meninggalkan kamar putranya dengan rasa penasarannya.
Entah mengapa feelingnya mengatakan bahwa itu ASI kiriman dari Dian. Gerry duduk termenung di sudut ranjang miliknya. ia memeluk bantal yang biasa Dian gunakan untuk tidur. Ia membuka laci nakas dan mengambil surat dari Dian. Lalu membacanya kembali.
__ADS_1
Untuk mas Gerry,
Maafkan aku yang pergi tanpa sepengetahuanmu mas. Aku tidak ingin merasa berat untuk mengucapkan kata perpisahan padamu.
Mas, jika memang kembalinya mbak Selena bisa membuat kebahagiaan keluarga kalian kembali utuh maka Dian rela jika mas Gerry menceraikan Dian dan kembali pada ibunya Zafa.
Terimakasih selama ini mas sudah baik padaku dan Zafrina. Segera urus surat perceraian kita agar kau bisa secepatnya menikahi mbak Selena.
Hati Gerry terasa berdenyut nyeri, ketika membaca kembali surat yang Dian tinggalkan untuknya. Bagaimana bisa dirinya melepaskan berlian berharga seperti Dian hanya untuk Selena yang jelas-jelas telah meninggalkan dirinya dan Zafa.
Gerry kembali merutuki kebodohannya, yang membawa Selena ke rumah ini tanpa seizin Dian. Air mata Gerry kembali menetes menginggat saat ini Dian sedang mengandung buah cintanya.
"Harus kemana lagi aku mencarimu sayang?" gumam Gerry lirih.
.
..
Hari ini genap 2 bulan Dian meninggalkan rumah Gerry, nyonya Arini meminta ijin Gerry untuk pergi ke Kafe milik nyonya Clara dengan membawa Zafa. Tanpa curiga Gerry mengijinkan nyonya Arini membawa Zafa. Dia terlalu sibuk mencari keberadaan Dian hingga tak punya waktu untuk memperdulikan ibu dan Zafa.
Di dalam kafe di ruang VIP Dian dan nyonya Arimbi sedang melepas kangen mertua sekaligus anak tirinya. Begitupun dengan nyonya Arini yang merindukan bayi Zafrina.
"Aku ga nyangka kita bisa jadi besan beneran Rin!" ujar nyonya Arimbi bahagia, ternyata mertua putrinya adalah sahabatnya sendiri. Dulu Arini dan Arimbi bagai anak kembar yang selalu berdua kemana-mana. Hingga saat SMA mereka bertemu dengan Clara dan menjadi sahabat hingga lulus dan berpisah.
"Mama sahabatan sama ibu?" tanya Dian penasaran.
__ADS_1
"Iya sayang. Kita bertiga dengan Tante Clara dulu sahabatan." Jawab nyonya Arimbi lembut. Mata wanita paruh baya itu tampak berkaca-kaca melihat kondisi Zafa, ia tak mengira keadaan Zafa ternyata lebih dari yang ia duga.
"Ada apa, Rim?" tanya nyonya Arini yang menangkap wajah sendu sahabatnya itu.
"Tidak, aku hanya tidak menduga jika keadaan cucuku akan seperti ini." nyonya Arini tersenyum, ia lega ternyata sahabatnya mau menerima cucunya.
"Dia sudah jauh lebih baik Rim, Sejak Dian merawatnya."
Mereka asik bercengkrama hingga petang tiba, akhirnya dengan berat hati mereka harus berpisah. Di sudut ruangan seorang pria menatap tajam sosok yang baru saja keluar dari ruang VIP.
"Dian .." Desis pria itu yang tak lain adalah Gerry. Pria itu berniat menjemput ibu dan putranya, namun ia justru malah terpaku dengan sosok Dian.
Gerry langsung berlari mengikuti mobil yang di tumpangi Dian, namun di persimpangan ia kehilangan jejak mobil itu. Gerry memukul stir mobilnya berkali kali.
"Ah .. sial!"
Namun Gerry yakin jika ibunya tadi pergi menemui Dian. Sejak saat itu Gerry selalu mengikuti ibunya jika meminta ijin pergi mengajak putranya.
Flashback end
"Mas .." lirih Dian.
"Jangan tinggalkan aku lagi, aku benar-benar tersiksa karena merindukanmu." ucapan Gerry seperti oase di padang gurun bagi Dian.
"Tapi bagaimana dengan mbak Selena mas?"
__ADS_1
"Dia hanya masa laluku sayang. Aku tidak akan membiarkan dia hadir lagi diantara kita." Ujar Gerry.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼