
⛅ Selamat membaca ⛅
"Kenapa kau membangunkanku?" gumam Aldo kesal, merasa tidurnya telah terganggu.
"Tuan, nona Veni merintih dan mengeluhkan sakit di perutnya. Tapi saya tidak berani mendekat karena nona tidak mengenakan apapun." Ujar pengawal itu dengan takut. Aldo bergegas meraih kaos yang ia letakkan di sandaran sofa, lalu memakainya sembari berlari. Saat dibuka pintu kamar Veni. Gadis itu sudah terbaring tak sadarkan diri.
Semua pengawal berjaga di depan pintu tak ada yang berani masuk ke kamar Veni. Mereka merasa bosnya sungguh aneh. Setiap Veni mendapat bokingan dari tamu, setiap malam itu juga Aldo terus menghajarnya habis habisan di atas ranjang, seolah sedang cemburu. Tapi jika benar begitu, lalu kenapa bosnya menyewakan Veni pada pelanggan? itulah yang jadi pertanyaan para bawahan Aldo.
Setelah Aldo memakaikan bathrobe ke tubuh Veni, Aldo mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah. Dan membawanya masuk ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
Dalam perjalanan jantung Aldo berdetak kencang. Ia tak menyangka perbuatannya akan membuat Veni seperti ini. Ia sebenarnya juga tak mengerti dengan perasaannya akhir² ini. Padahal selama ini dia sudah banyak mendapat perawan. Namun Veni lain dari mereka yang pernah Aldo tiduri. Kebanyakan mereka selalu meminta ini dan itu, semuanya tak lepas dari jiwa materialis wanita wanita itu. Yang rela menjual keperawanannya. Namun Veni dengan rela hati menyerahkan mahkota berharganya tanpa meminta imbalan apapun padanya.
Sesampainya di rumah sakit. Aldo mengangkat tubuh Veni ala bridal style, dan meletakkan gadis itu diatas brankar.
Veni dibawa masuk ke ruang tindakan oleh suster, Aldo menunggu dengan was was. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Veni?" Aldo menyugar rambutnya dengan kasar.
.
..
...
Gerry dan Dian sudah sampai di kantor milik Gerry. Perusahaan yang begitu megah, dan tinggi. Gerry masuk lewat lobi utama. Semua mata karyawan menatap takjub dengan pemandangan yang tampak lain hari ini. Gerry yang biasanya dingin dan cuek kini tersenyum dan menggandeng sang istri yang sedang berbadan dua.
Setibanya di lantai 20 Dian dan Gerry sama sama keluar dari lift dengan terus bergandengan tangan. Sigit hanya menyambut keduanya dengan menunduk hormat.
"Apa kau yakin mau disitu saja? tak ingin masuk kamar dan istirahat?" tanya Gerry sebelum benar-benar memulai kesibukannya.
"Iya mas, udah mas mendingan segera mulai bekerja aku mau lihat mas kerja." Gerry hanya geleng-geleng kepala dengan permintaan absurd Dian.
Disaat Gerry sibuk bekerja Dian langsung mengeluarkan ponselnya, dan mulai mengambil gambar Gerry yang sibuk dengan berkas berkasnya. Namun saat tau dirinya menjadi pusat perhatian Dian, Gerry mendongak dan tersenyum pada Dian dengan manis. Hati Dian berdetak tak karuan.
__ADS_1
"Mas ..!"
"Iya sayang, apa kau butuh sesuatu?" tanya Gerry.
"Lain kali kalo ga lagi sama aku, jangan pernah senyum seperti itu pada wanita lain." Ujar Dian, Gerry semakin melebarkan senyumnya. Lagi lagi istrinya begitu posesif.
"Iya .. iya senyum aku cuma buat kamu aja." jawab Gerry. Ia pun kembali pada kesibukannya.
Dian lama kelamaan merasa jenuh. Ia terus merubah posisi duduknya. Hingga terdengar bunyi pintu Gerry diketuk muncullah Didi dengan penampilan layaknya pria kantoran.
"Hai Dian .." sapa Didi. Ia pun duduk di sofa samping.
"Ga bawa berkas tapi Lo masuk keruangan gue?" Gerry memicingkan mata menatap Didi.
"Ada yang mau gue omongin ma Lo dan bini Lo." Ujar Didi memasang wajah serius.
"Dian, apa kamu kenal wajah ini?" tanya Didi, menunjukkan foto Veni. Dian mengangguk namun sorot matanya nampak begitu cemas.
"Sudah tidak lagi. Sejak kejadian dia hampir mencelakai dirimu, aku sudah memecatnya. Dan lagi gadis itu menghilang tepat disaat aku sedang mencarinya." Kata Gerry. Dian menutup mulutnya tak percaya.
"Maksud mas?"
"Begini Dian, kamu ingat kejadian di pelataran resto mama waktu kamu akan tertabrak mobil? Dia dalang dibalik semuanya." Terang Didi, Dian tak mampu membendung air matanya yang seketika meluncur deras membasahi pipinya.
"Kenapa dia tega berbuat seperti itu padaku mas? apa salah Dian padanya?" ujar Dian mulai terisak. Gerry menghampiri Dian lalu merengkuh tubuh Dian, menyembunyikan istrinya dalam pelukannya.
"Ssstt .. sudahlah. Semua sudah berlalu. Mas ga akan biarkan kamu terluka lagi."
"Tapi ada satu hal lagi Ger, kalian coba lihat!" Didi memperlihatkan foto seorang pria paruh baya yang sukses membuat tubuh Dian gemetaran.
"Di-dia .." Dian seketika kehilangan kesadaran. Tubuhnya terkulai lemas di dalam pelukan Gerry.
__ADS_1
"Sayang .." Gerry menggerakkan bahu Dian, namun tak ada respon. Seketika ia panik melihat istrinya tak sadarkan diri.
"Ini semua salah Lo, kenapa harus nunjukin foto itu pada Dian juga?" ujar Gerry dengan emosi. Didi mengacuhkan ucapan Gerry dan menghubungi Arya untuk segera datang ke perusahaan Gerry. Hatinya pun tak kalah cemas namun sebisa mungkin ia menahan semuanya. Jangan sampai sahabatnya tau jika dirinya masih sering mengkhawatirkan istrinya.
Gerry mengoleskan minyak kayu putih disekitar hidung Dian, namun istrinya masih belum menunjukkan pergerakan.
"Kalo sampai sesuatu hal yang buruk terjadi pada Dian dan anak anakku, kau akan ku habisi." Ujar Gerry. Tak lama Arya muncul dengan membawa perlengkapannya. Ia segera mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya dan mulai memeriksa Dian. Ia juga menyoroti mata Dian, untuk melihat respon dari ibu hamil yang sempat menjadi incarannya itu.
"Dia hanya syok. Sebaiknya kalian sedikit berhati-hati jika membicarakan sesuatu di depannya. Mentalnya pernah mengalami trauma. Sehingga mudah baginya untuk merasa cemas berlebihan hingga menyebabkan berkurangnya pasokan udara ke otaknya. Dan ini salah satu akibatnya." Terang Arya sembari memasukkan kembali peralatannya.
"Sebenarnya apa yang kalian bahas?" tanya Arya penasaran. Setelah sedikit mendengar penjelasan Didi ditelepon.
"Ini mengenai keluarga pria yang dianggap Dian sebagai paman." Ujar Gerry mulai ceritanya.
"Maksudmu mereka bukan saudara?" tanya Didi terkejut.
"Ya, mereka bukan saudara. Tidak ada darah yang mengikat mereka. Dian sejak kecil selalu dititipkan pada keluarga Veni. Karena kesibukan kedua orangtuanya merintis usaha. Namun siapa sangka Burhan iri dengan keberhasilan ayah mertuaku. Hingga dengan kejam Burhan mensabotase motor milik mertuaku hingga mengakibatkan kecelakaan. Namun sayangnya bukan mertuaku yang tewas saat itu, melainkan sepasang karyawan mereka yang kebetulan meminjam motor milik ayah untuk ke rumah sakit. Mereka dinyatakan tewas karena terpanggang karena begitu motor terjatuh langsung meledak. Dian yang tidak tau apa² langsung di tipu oleh Burhan. Keluarganya mengakui jika itu mayat kedua mertuaku. Dan menguburkannya. Bahkan mereka dengan tega menjual rumah orang tua Dian, lalu setelah uang mereka terima dengan sengaja mereka membakar rumah itu. Agar ketika ayah Dian mencari keberadaannya, mereka bisa mengatakan jika Dian sudah tiada. Jadi Dian percaya orang tuanya meninggal begitupun sebaliknya. Kau tau mereka mengelabuhi istriku dan keluarganya bertahun-tahun lamanya. Aku tak akan melepaskannya hidup hidup." Ujar Gerry penuh ambisi.
Namun ia terkejut saat tangannya dipegang oleh Dian. Ternyata istrinya telah tersadar. Bahkan air mata sudah menggenang di pelupuk mata Dian.
"Jangan jadi jahat. Biar Tuhan yang menghukum mereka." Gumam Dian lirih.
"Tapi aku tidak bisa memaafkan perbuatan mereka yang sudah membuatmu menderita sayang!" Gerry bersikeras.
"Jika mas seperti itu, apa bedanya mas dengan mereka? aku tidak ingin punya suami pembunuh." Dian terisak, Gerry langsung merengkuh tubuh ringkih Dian.
"Maaf .. maafkan mas! mas janji tidak akan berbuat macam-macam jika mereka tidak memulainya." Kata Gerry. Dian mengangguk lemah.
Sedangkan kedua kakak beradik itu hanya memandang perih ke arah Gerry dan Dian. Namun satu hal yang patut mereka syukuri. Mereka sama-sama jatuh hati pada gadis berhati tulus seperti Dian.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan Vote jika kalian masih punya tiket. Biar othor makin semangat. Kasih hadiah mawar, kopi atau apapun bakalan othor terima dengan senang hati.