Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 49


__ADS_3

⛅Selamat membaca ⛅


Dian masih tertidur pulas diatas kasur king size. Disinilah seharusnya tempatnya berada. Nyonya Arimbi masih setia berada di dekat putrinya, air matanya masih terus mengalir hingga membuat matanya sembab.


Putrinya benar benar tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Namun sayang nasibnya tak begitu baik. Mulai sekarang nyonya Arimbi akan lebih hati-hati lagi menjaga putri dan juga cucunya. Nyonya Arimbi juga sempat terkejut saat suaminya bilang saat ini Dian sedang hamil. Namun semuanya masih merahasiakan dari Dian, karena kondisinya pun sedang lemah.


"Bagaimana dengan ayah mertua mas?"


"Aku sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menjemputnya. Perawatan ayah kita pindahkan kesini. Agar tidak ada yang mencurigai kita." Ucap Hanafi masih memangku Zafrina yang kini asyik memasukkan jarinya ke mulut.


Tak berselang lama Dian terbangun dari tidurnya, ia langsung tersenyum lebar mendapati kedua orang tuanya duduk disebelahnya memandangi dirinya. Dengan rasa haru Dian menghambur memeluk kedua orang tuanya bersamaan.


Mereka bertiga saling berpelukan hingga tangis Zafrina menggema membuat ketiganya langsung mengurai pelukan mereka.


"Ah .. cucu opa kegencet ya?" kelekar Hanafi melihat Zafrina yang masih menangis.


"Sini ayah, biar Dian saja. Sepertinya dia lapar." Ujar Dian saat melihat Zafrina masih asik melu*mat tangannya.


"Tadi ibu sudah buatkan bubur Tim untuk Zafrina. Dia tidak alergi salmon kan?" tanya nyonya Arimbi dengan lembut.


Dian menggeleng, hatinya sungguh bahagia. Bahkan ia lupa jika sebelumnya ia pergi karena sakit hati dengan suaminya.


"Biar ibumu yang suapi putrimu, kau mandilah. Lalu ikut ayah ke bawah. Kau belum memperkenalkan dirimu pada kakekmu." ujar tuan Hanafi, Dian mengangguk patuh.


Ini seperti mimpi baginya. Jika ini hanya mimpi Dian berharap ia tak akan pernah terbangun dari tidurnya.


.


..


...


Didi sekarang berada di klub malam milik Aldo. Meskipun belum buka, tapi karena kondisi urgent Didi mendatangi Aldo. Namun matanya menangkap kehadiran seorang wanita di belakang Aldo yang sangat Didi kenali. Mungkin wanita itu tidak tau siapa Didi, tapi Didi yakin wanita itu yang hampir membuat Dian celaka.


"Hai bro .. long time no see." Aldo memeluk tubuh sahabatnya.


"Ya kau tau bisnis baruku sudah berjalan jadi aku sibuk mengurusnya." Ujar Didi matanya melirik ke arah gadis yang terus mengekor Aldo.

__ADS_1


"Bisakah kau tinggalkan kita berdua." Ujar Didi dingin pada Veni.


"Tapi .. sayang!" Veni merajuk pada Aldo. Beberapa waktu setelah pertemuan mereka Aldo memang memperlakukan dirinya lebih istimewa dari pada yang lain. Hal itu tentu saja membuat ia merasa di atas awan.


"Pergilah, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan sahabatku." sambung Aldo, Veni sudah tak bisa berbuat apa-apa jika Aldo yang meminta. Ia tak ingin Aldo memiliki kesan buruk padanya.


"Kenapa sepertinya kau membencinya?" tanya Aldo setelah Veni menjauh.


Didi mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rekaman detik detik sebelum Dian hampir tertabrak.


Mata Aldo hampir saja keluar, melihat dengan jelas wajah Veni memasuki mobil. Dan melajukan mobilnya dengan ugal²an ke arah Dian. Beruntung disana ada Rian yang menolong Dian. Mobil yang di pake Veni kebetulan parkir berhadapan dengan mobil yang di pake Didi. Dimana mobil Didi sudah dilengkapi dengan kamera canggih yang bisa melihat hingga jarak 10 meter dari mobilnya.


"Jika Gerry tau Lo nyimpen cewek itu, bisa habis semua bisnis lo. Secara sekarang bukan hanya Gerry yang dendam sama ni cewek. Tapi kau pun tau di situ tadi ada Rian Al Farez. Dia bisa lakuin apapun jika ketauan ada disini."


"Wah, sial bener hidup gue. Sekalinya mungut cewek. Eh doi banyak masalah. Ntar lah gue lepas. Kalo gue udah berhasil gituin dia ya!" tawar Aldo, sebagai seorang cassanova. Bisa² pamornya akan turun, jika ketahuan mengencani cewek bermasalah. Apalagi masalah yang dia buat dengan seorang Gerry dan Rian yang notabene adalah pengusaha yang sudah sangat terkenal kejam.


.


..


...


Bahkan belum ada sehari, rindunya pada Dian begitu menyiksa batinnya.


"Tuan, sebaiknya anda beristirahat. Biar saya dan Andre yang mencari nyonya Dian." Bujuk Sigit. Ia merasa tak tega melihat kondisi tuannya yang rapuh.


"Aku tidak apa-apa Sigit. Aku hanya ingin segera bertemu Dian." Desis Gerry.


Tanpa sepengetahuan Gerry, Sigit sudah menghubungi Arya untuk datang memeriksa kondisi Gerry.


"Jika tuan seperti ini, saya rasa pencarian nyonya akan semakin lama." Ujar Sigit lagi.


"Jangan mengaturku Sigit." Kata Gerry dengan nada suara naik satu oktaf.


"Saya hanya mengkhawatirkan anda. Karena sekarang jika anda lemah, bagaimana dengan Zafa dan nyonya Arini. Siapa yang akan menguatkan mereka?" Jawab Sigit. Meskipun ia seorang bawahan ia akan selalu mengatakan apa yang menurutnya benar dan salah.


Tak lama pintu diketuk muncul Arya dengan wajah tak kalah suram. Sigit merasa heran bagaimana bisa nyonya Dian bisa membuat 4 orang pria sekaligus jatuh cinta padanya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" tanya Arya ketus.


"Jika kau tidak berniat bekerja pergilah." Kata Gerry menekan pangkal hidungnya. Kepalanya rasanya akan pecah.


Gerry berjalan ke arah sofa menghampiri Arya.


"Bagaimana hasil penelusuran anak buahmu?" tanya Gerry, Arya hanya mendesah berat. Ia pun merasa janggal karena setelah sistem keamanan pulih tetap saja rekaman CCtv selama 3 hari menghilang dari monitor pengawasan.


"Aku juga tidak tahu. Bagaimana bisa rekaman itu hilang begitu saja."


Arya mengeluarkan peralatan medisnya. Ia segera memeriksa sahabat adiknya itu dengan seksama.


"Kau boleh merasa kehilangan Dian. Tapi tetap jaga kewarasan. Jangan menyiksa diri sendiri. Percayalah jika kalian berjodoh pasti akan bertemu kembali." Ujar Arya, ia langsung memasang jarum Infus pada Punggung tangan Gerry.


"Gue ga bisa bro .. belum ada sehari hati gue rasanya sesak. Belum lagi Zafa, dari pagi anak itu terus menangis."


"Gue tetap bakalan bantu Lo. Tenang aja ..!"


"Thanks ..!"


.


..


...


Setelah mandi Dian turun dari kamarnya ke arah ruang utama. Di sana ada Nino yang sibuk dengan komputernya.


Meskipun Nino memiliki banyak usaha namun semuanya hanya di pantau lewat laptopnya. Ia memang pria tergolong cerdas, sejak usianya 8 tahun dia sudah bisa memprogram aplikasi keamanan antivirus pada komputernya.


Bakatnya terus ia kembangkan dan ia asah, makanya dia memutuskan tinggal di luar negeri dan meninggalkan sang kakek seorang diri.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Hayo pada nungguin ya..!!


Sesuai janji othor ne othor tambah buat Up hari ini. Jangan lupa like, komen dan Jangan lupa otor suka hadiah. Kasih apa aja othor terima kok 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2