Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Pemakaman Abah


__ADS_3

*******


Semua wajah tampak tegang menunggu dokter yang menangani abah Usman keluar. Gerry terpaksa meninggalkan Dian dan menitipkan wanita itu pada sangat ayah. Karena Gerry harus menghadiri rapat tahunan seluruh direksi dan pemegang saham.


Ara sudah jauh lebih tenang namun wajahnya masih pucat. Arsen baru kembali dari minimarket dan kafetaria untuk membeli kopi, roti dan susu untuk Dian dan Ara. Setelah menyerahkan kopi pada tuan Hanafi, Arsen menyerahkan susu kotak pada Dian, Wanita itu tersenyum tipis dan mengucapkan terimakasih. Arsen menusukkan sedotan pada satu kotak susu dan menyerahkannya pada Ara.


"Minumlah, kau juga butuh tenaga untuk menjaga abah bukan." Ujar Arsen seraya berjongkok di depan Ara. Ara menerima kotak susu itu dan meminumnya.


"Ini enak .. Terima kasih." Kata Ara, meskipun matanya sembab dan bola matanya hampir tak nampak tapi senyumnya mampu membuat hati Arsen menghangat.


"Aku tidak bisa menemanimu saat ini karena aku ada pekerjaan sebentar nanti aku akan kemari lagi." Kata Arsen. Ara langsung menatap Arsen sendu. Namun tetap saja Ara menampilkan senyum meskipun hanya segaris.


"Aa tidak usah merasa memiliki tanggung jawab pada Ara karena kita kan hanya berteman. Ara tidak mau menjadi teman yang membebani." Kata Ara, Arsen sedikit kecewa dengan perkataan Ara, namun ia tau sifat gadis itu. Sehingga Arsen memilih mengiyakan ucapan Ara.


Kenapa aku berharap dia mengatakan hubungan lebih dari teman. --- Arsen


Setelah berpamitan dengan Dian dan tuan Hanafi, Arsen pergi. Tak lama pintu ruangan abah Usman terbuka. Tampak wajah dokter Arya dan dokter Zaki sangat sulit diartikan. Bibir Ara mendadak kelu, ia tak berani menanyakan apapun pada dokter. Akhirnya tuan Hanafi yang berinisiatif mendekat dan menanyakan kondisi abah. Arya menatap Ara sesaat lalu menggeleng. Seketika itu pandangan Ara kembali gelap dan jatuh pingsan. Tuan Hanafi menahan Ara, dokter Arya dengan sigap membawa Ara kembali ke ruangan yang tadi digunakan oleh Ara.


Dian hanya menangis melihat kondisi Ara. Sejak dulu ia mengenal gadis itu Ara adalah sosok yang menjadi idola Dian. Karena di usia yang masih belia Ara sering membantu abah berjualan hingga malam. Dan saat senggang Ara menggunakan waktunya untuk belajar.


Ara tidak pernah malu ikut abah Usman berjualan martabak. Gadis itu tipe gadis pekerja keras.


Arsen yang mendapat kabar dari Arya memutar mobilnya kembali ke rumah sakit. Ia menghubungi asistennya untuk menjadwalkan ulang pertemuannya dengan investor dari luar negeri. Beruntung investor itu mau mengerti saat di beritahu jika ada kerabat Arsen yang meninggal.


Sesampainya dirumah sakit, Arsen langsung masuk ke lift dan menuju ruang perawatan Abah, Tuan Hanafi mengurus semuanya. Karena Ara dalam kondisi terpuruk sehingga tuan Hanafi membantu Ara mengurus jenazah abah Usman.


Ara masih ditangani seorang dokter wanita, kondisinya benar-benar drop. Tekanan darahnya sangat rendah.

__ADS_1


"Abah .. abah." Lirih Ara.


Dian merasa iba melihat kondisi Ara, Arsen masuk ke ruangan itu saat dokter keluar. Bisakah kau menjaga Ara sebentar aku akan mengurus kepulangan jenazah abah dulu.


Dian keluar ruangan itu. Saat matanya menemukan sangat ayah Dian memeluk sang ayah dan terisak.


"Sudah sayang, ingat kau sedang mengandung. Jangan larut dalam kesedihan." Kata tuan Hanafi.


"Jenazahnya kita bawa ke rumah baru mereka saja bagaimana yah?" Dari sana baru ke pemakaman."


"Tunggu cucunya sadar dulu. Bagaimanapun cucunya yang lebih berhak menentukan bagaimana semestinya."


"Baiklah yah, aku tidak tega melihat Ara yah. Dulu saat aku melihat paman dan bibi keluar dari ambulans yang katanya membawa jenasah ayah dan ibu saja aku langsung pingsan."


"Sshh .. sudah. Tidak baik mengumbar aib orang yang sudah meninggal." Kata Hanafi. Dian hanya mengangguk.


Selesai meeting Gerry bergegas keluar ruangan. Ia tak tenang setelah mendengar kabar Abah Usman meninggal. Ia takut Dian terlalu sedih dan membuat kondisi kehamilannya bermasalah.


Sigit langsung menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran GA grup membelah jalanan ibukota. Gerry sibuk menghubungi Arya menanyakan kondisi istrinya, namun justru mendapat informasi mengenai Ara yang pingsan.


"Aku menanyakan istriku, bukan gebetan kakakmu itu." Geram Gerry. Tak lama ponselnya bergetar menerima foto Dian sedang duduk berdua bersama ayahnya. Dian bersandar di pundak ayahnya. Wajahnya tampak sekali lelah.


"Aku hanya memberikan informasi detail. Dan satu lagi jenazah Abah sudah di sucikan dari sini. Jadi nanti tinggal bagaimana cucunya."


"Baiklah .. " Gerry langsung mematikan sambungannya saat dia tiba di parkir basemen rumah sakit.


Sigit dengan setia mengikuti langkah kaki Gerry menapaki ruangan demi ruangan. Sigit memang tak tahu menahu tentang siapa yang saat ini sedang menjadi fokus bosnya. Dia menunduk sopan pada tuan Hanafi dan Dian.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan besar dan nyonya muda." Sapa Sigit.


Hanafi dan Dian mengangguk seraya mengumbar senyum tipis mereka.


"Bagaimana kondisi Ara yank?" tanya Gerry, Dian hanya menggeleng, memandang Gerry dengan sendu.


Gerry menghela nafas panjang, Namun suara jeritan Ara membuat semuanya panik dan langsung masuk ke ruangan gadis itu.


Saat keempat orang itu masuk, Ara sedang terisak dalam dekapan Arsen. Pria matang itu tampak sedang menenangkan tangisan Ara.


"Hu... Hu... Hu... Aku sendirian Aa, aku udah ga punya keluarga. Kenapa abah ninggalin Ara sendirian. Kenapa abah ga ngajak Ara sekalian." Isak gadis itu.


"Sshh .. kamu jangan ngomong seperti itu. Kasihan abah. Beliau akan sedih jika kamu terus menerus meratap seperti ini." Kata Arsen, mencoba membuat Ara lebih tenang.


"Sekarang, kita bawa abah ke rumah kamu dulu lalu ke pemakaman."


Ara mengusap air matanya. Ia sekarang justru malah bingung saat Arsen menyebut kata pulang. Bahkan tempat tinggalnya tak layak disebut rumah.


"Teh gimana?" tanya Ara bingung. Dia baru sadar jika dari tadi bersandar di dada Arsen.


"Gimana enaknya kamu saja Ra, apa kita sholatkan di mushola rumah sakit, terus langsung dimakamkan. Kebetulan tadi ayah teteh sudah menyiapkan makam disebelah kakek." Ujar Dian, Ara mengangguk setuju. Gerry segera memerintahkan orang rumah sakit menyiapkan jenazah kakek Usman di mushola.


Setelah serangkaian prosesi akhirnya abah Usman dimakamkan di dekat makam tuan Kusuma. Sahabat sejati sehidup semati. Ara masih terpaku di depan gundukan tanah basah bertabur bunga, nisan yang bertuliskan nama sang kakek, seolah mengingatkan dirinya jika sekarang dia sebatang kara di dunia ini.


Arsen masih setia menunggu Ara, ia tak ingin mengganggu kesedihan Ara. Meskipun tak dipungkiri hatinya cemas, karena mendung bergelayut seakan-akan siap menjatuhkan titik titik air.


"Aa pulang saja dulu. Ara masih mau disini nemenin abah." Kata Ara. Namun tak membuat Arsen bergeming. Ia tetap setia berdiri disamping Ara.

__ADS_1


๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ


Birukan jempol kalian .... Selamat beristirahat guys. Kita lanjut besok lagi ya.


__ADS_2