Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 90


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


Setelah kepergian Gerald, tak menunggu waktu lama pihak rumah sakit tempat Gerald dirawat menghubungi Arya, jika donor jantung untuk tuan Gama telah tersedia.


Kabar tersebut sampai kepada nyonya Arini. Wanita paruh baya itu tampak senang mendengar kabar tersebut. Tanpa ia sadari di sudut tempat lain ada kesedihan yang tergambar jelas di raut wajah kedua orang itu.


Terlebih Gerry yang sangat terpukul, saat saudara satu-satunya yang ia miliki dan baru ia jumpai harus kembali menghadap sang khalik.


Sekar sudah tampak lebih tenang, dia merasa sedih sekaligus bahagia. Disatu sisi dirinya harus kehilangan anak yang paling dia cintai. Tapi di sisi lain nyawa pria yang ia cintai akan tertolong.


Paling tidak putranya terbebas dari rasa sakit yang menjeratnya selama ini.


"Setelah operasi transplantasi, aku akan membawa jenasah Gerald ke kampung halamanku." Kata Sekar.


"Kenapa tidak dimakamkan disini saja." Tanya Gerry.


"Aku tidak mau merusak kebahagiaan keluarga kalian. Cukup sekali aku menghancurkannya. Aku juga tidak ingin melihat orang yang aku cintai menderita hanya karena merasa bertanggung jawab padaku.


Deg ..!!


Mendengar wanita itu mengatakan cinta membuat hati Gerry semakin sesak.


"Apa selama ini ayahku tau, jika kau mencintainya?"


"Ya dia tau itu. Oleh sebab itu dia selalu menjaga jarak denganku. Percayalah, ayahmu benar-benar menjaga cintanya untuk ibumu. Dan jangan bebani dirinya dengan kamu mengatakan siapa pendonor jantungnya. Aku sudah cukup bahagia bisa mewujudkan keinginan Gerald. Ayahmu adalah pria yang baik. Maafkan aku yang hadir ditengah kebahagiaan kalian waktu itu.


Ya, Sekar sungguh merasa bersalah karena sudah menjadi perusak rumah tangga Gama. Mungkin dengan cara ini dia dapat menebus kesalahannya di waktu lalu.


Gerry menatap iba ke arah Sekar. Ia memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Sekarang aku akan menjadi putramu juga. Kau bisa mengandalkan ku." Kata Gerry. Sekar membalas pelukan Gerry dengan erat dan kembali menangis.


"Terimakasih, dan maafkan aku juga Gerald." Ujar Sekar sambil terisak.


.

__ADS_1


.


.


Jadwal operasi tuan Gama sudah ditentukan nanti pukul satu malam operasi akan dilaksanakan. Bahkan saat ini tuan Gama sudah diminta berpuasa.


Dian merasa cemas, suaminya belum juga kembali. Lagi-lagi wanita itu terlalu berlebihan.


"Ada apa sayang?" tanya nyonya Arimbi yang menemani Dian.


"Mas Gerry kok belum kesini ya Bu?" kata Dian, nyonya Arimbi geleng-geleng kepala dengan sifat Dian yang mudah cemas.


"Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Kenapa kau tidak menghubunginya saja?" usul nyonya Arimbi. Dian mengambil ponselnya dan menghubungi Gerry. Saat dering pertama Gerry mengangkat panggilan istrinya itu.


"Halo sayang."


"Mas kamu dimana, ini sudah sore kenapa belum kesini." Gerutu Dian.


"Sabar, mas lagi mengurus berkas-berkas pendonor jantung untuk papa." Jawab Gerry dengan lembut.


"Maaf ya, mas tutup dulu ya. Mas masih di ruangan dokter." Kata Gerry.


"Ya sudah. Nanti pulangnya hati-hati ya mas."


"Iya sayang." Jawab Gerry kemudian dia segera masuk ke mobil untuk mengantar Sekar ke hotel selama menunggu proses operasi. Karena wanita itu tidak ingin jika ibu Gerry melihat Sekar ada di sana.


"Apakah sungguh tidak apa-apa kau tidak ikut ke rumah sakit?" tanya Gerry sekali lagi. Sekar mengangguk.


"Sungguh aku tak apa-apa." Jawab wanita paruh baya itu sambil tersenyum. Meskipun Gerry masih melihat ada duka dari tatapan mata Sekar. Namun Gerry tak ingin membuat wanita itu tak nyaman.


"Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu."


Kata Gerry pada Sekar. --- "Git, tolong kamu jaga Tante Sekar dengan baik." Kata Gerry pada Asistennya.


"Baik tuan." Ujar Sigit.

__ADS_1


Gerry segera meninggalkan pelataran hotel dan menuju rumah sakit.


.


.


.


Pukul satu dini hari, wajah tegang melingkupi Gerry dan nyonya Arini. Setelah dokter mengatakan resiko yang bisa terjadi selama operasi mereka tak lagi bisa bernafas dengan baik. Rasa-rasanya oksigen sulit masuk ke pernapasan mereka.


Gerry terus menunduk dan berdoa. Jangan sampai harapan Gerald pupus di tengah jalan. Ia berharap semoga operasi yang dijalani ayahnya berjalan dengan lancar.


Dian menyusul suami dan ibu mertuanya. Ia menitipkan Zayn dan Zayana pada suster.


"Kenapa kamu disini sayang?" tanya Gerry melihat Dian duduk di sebelahnya.


"Aku juga mencemaskan papa." Kata Dian.


"Tapi disini dingin. Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Gerry. Dia melepas mantelnya dan memakaikannya pada Dian.


"Tadi aku sudah menyusui mereka dan sekarang mereka dijaga ibu dan suster." Ujar Dian. Dia terdiam sesaat. Haruskah kejadian tadi siang dia ceritakan pada Gerry atau tidak. Tanpa disadari Dian, Gerry sejak tadi menatap wajah resah istrinya itu.


"Ada apa sayang?" tanya Gerry, ditengah kecemasannya ia tak boleh mengabaikan kondisi Dian.


"Nanti saja setelah operasi ayah selesai Dian akan cerita." Kata Dian. Namun ucapan Dian justru memancing rasa penasaran Gerry.


"Ceritakan sekarang!" Ujar Gerry setengah memerintah. Dian menatap Gerry ragu, dengan lembut Gerry mengusap wajah Dian dan tersenyum.


"Katakan apa yang ingin kau sampaikan. Jangan memendam apapun dariku."


"Aku .."


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


FYI besok Minggu kemungkinan othor libur. tapi kalo sempet othor bakalan kasih kalian satu bab. Ok!

__ADS_1


Terimakasih buat yang selalu like, komen dan vote juga hadiah² kalian sangat berarti buat othor. Meskipun kelihatannya sepele tapi secuil hadiah dari kalian benar-benar berkontribusi untuk membuat karya othor semakin dikenal orang


__ADS_2