
********
Dian berbaring di tengah sementara Zafa dan Zafrina ada di samping kiri dan kanannya. Mereka berdua bergelayut manja. Saat di rasa nafas Zafa terdengar mulai teratur dan mendengkur halus, Zafrina mengeratkan pelukannya di lengan Dian.
"Kakak kamu sudah tidur, apa sekarang Ina mau cerita sama mama? apa yang membuat Ina sedih?" Dian kembali membuka percakapan saat ia merasa putrinya terus bergerak gelisah di sampingnya.
"Kakak sudah tau masalah Ina, hanya Ina malu untuk mengatakannya lagi."
"Kenapa sayang?"
"Mama, kenapa mama selama ini tidak cerita kalo papi tidak pernah mengharapkan Ina. Kenapa mama biarkan Ina tinggal lama-lama dengan papi?"
Dian lagi-lagi terkejut. Ada apa sebenarnya ini? kenapa di saat yang bersamaan anak-anaknya harus tersakiti dengan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan dan bahkan yang mereka berusaha untuk menguburnya rapat-rapat.
"Ina sayang, Ina tau semua itu dari siapa? apa papi Ina yang cerita sendiri ke Ina?" Tanya Dian kini tubuhnya setengah terbangun menatap putrinya dalam. Ina semakin menyembunyikan wajahnya di lengan Dian dan terisak. Dian melepas pegangan tangan Zafa, lalu ia bangun dari posisi tidurnya dan mengangkat bahu putrinya.
"Katakan pada mama, apa papi kamu yang cerita masalah ini?" Nada suara Dian meninggi entah kenapa dia merasa tak senang putrinya tahu masalah ini. Dian merasa marah saat masalalu dirinya justru di ketahui putrinya. Ia tak mau jika hati Zafrina sampai terluka.
Zafrina menggeleng lemah, "Ina mencuri dengar saat papi ngomong dengan seseorang ma." Kata Zafrina yang menutupi kebenaran mengenai kakaknya yang datang ke kediamannya.
"Mama, maafin Ina. Ina selalu berbuat apapun sesuka hati Ina tanpa memikirkan perasaan mama. Bahkan sejak Ina kecil Ina selalu menghabiskan waktu dengan papi ketimbang dengan mama." Dian mengusap punggung Zafrina.
"Jika begitu, Zafrina pasti tahu selama bersama papi Rian. Apakah semua yang papi Rian lakukan untuk Ina tulus atau modus?"
"Tulus .... "
"Jika Ina tahu papi tulus pada Ina, maka tidak ada yang perlu mama jelaskan tentang masa lalu mama. Mama ingin anak-anak mama hanya memiliki jiwa pengasih bukan pendendam. Seburuk apapun masa lalu mama, yang terpenting sekarang yang Ina lihat mama seperti apa? apakah mama tampak menderita di depan Ina?"
__ADS_1
Zafrina kembali menggelengkan kepalanya. Dian tersenyum meskipun matanya tampak berkaca-kaca. Zafrina masih terus terisak. Entah mengapa sikap Dian justru semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar.
"Kenapa mama tidak memarahi Ina? kenapa mama?"
Dian membelai rambut Zafrina yang kecoklatan dengan lembut. Senyum Dian begitu menenangkan. Namun entah mengapa Zafrina terlihat gusar. Ia ingin ibunya memarahinya agar rasa bersalah itu setidaknya berkurang.
"Bagaimana mama bisa memarahimu. Apa kau tau, susah payah mama melahirkan Ina, tanpa satupun keluarga yang ada di dekat mama saat itu. Harapan mama hanya ada pada Ina saat itu. Mama hanya punya Ina dan begitu juga sebaliknya. Kebahagiaan Ina menjadi prioritas mama melebihi apapun. Mama hanya ingin membahagiakan Ina. Tapi takdir Allah tidak ada yang tahu. Saat setelah mama memiliki kamu, Allah mendatangkan Zafa dengan segala kekurangannya. Mama merasa jalan mama memang harus sulit dulu. Istilah kata mama harus bersakit-sakit dahulu. Tapi sekarang Ina lihat, mama sangat bahagia sayang. Mama memiliki keluarga, mama memiliki suami yang baik, mama memiliki anak-anak yang begitu menyayangi mama. Apalagi yang kurang dalam hidup mama hingga mama harus menengok masa lalu yang kelam." Tutur Dian, Zafrina semakin terpana dengan sosok ibunya.
"Mama ... "
"Sshh ... sudah ya, sekarang tidur. Kamu pasti lelah duduk berjam-jam di pesawat." Kata Dian, Zafrina menurut dan merebahkan dirinya. Tak lama gadis itu tertidur. Dian perlahan beranjak bangun dan meraih ponselnya di atas nakas. Dian berjalan tanpa suara keluar dari kamar.
.
.
.
Velia tak habis pikir dengan suaminya. Kenapa harus menceritakan hal yang akan menyakiti hati putri mereka.
"Ada apa denganmu honey? kenapa kau membuat Ina pergi?" Nada bicara Velia terdengar sangat kecewa. Ia begitu terkejut membaca memo yang Zafrina tulis.
"Aku hanya masih merasa bersalah. Selama ini Dian sudah begitu baik mengijinkan aku membesarkan Zafrina. Saat kemarin aku mendengar dia sakit dan terlihat sangat terpukul karena Zafa dan Zafrina yang memilih tinggal di negara ini membuatku ingin membawa kembali anak-anaknya. Namun siapa sangka semua akan seperti ini jadinya." Ujar Rian sambil memijat batang hidungnya. Kepalanya terasa pening saat ini.
"Kau tidak hanya memulangkan mereka. Kau mendorong mereka dengan cara yang salah. Bagaimana jika mbak Dian tahu kalau kamu yang mengatakannya. Dan dia melarang Zafrina tinggal dengan kita?"
Di saat perdebatan keduanya terdengar mulai memanas, ponsel Rian bergetar. Saat mengetahui Dian yang menghubunginya dia segera menggeser ikon berwarna hijau itu dan menyalakan loudspeaker agar Velia juga dapat mendengar pembicaraannya dengan mantannya itu.
__ADS_1
"Apa yang sudah kau katakan pada anakku?" tanya Dian tanpa salam dan tanpa basa-basi.
"Aku hanya .... "
"Hanya apa? kenapa kau lakukan itu Rian? kurang mengalah apa aku? kau melukai putriku dengan sikapmu itu?"
"Maaf .... " Ucap Rian lirih.
"Apa maafmu bisa mengembalikan ketenangan keluarga kami. Dengan susah payah aku menjaga semuanya agar berjalan dengan semestinya. Kau tidak hanya menyakiti Zafrina tapi juga menyakitiku. Kau mengungkit masa lalu yang susah payah ku kubur." Dian tak menyadari jika Zafrina dan Zafa ada di belakangnya. Mereka tidak tidur, dari depan kamar Zafia Gerry langsung berjalan dengan cepat.
"Dian, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya ingin membuat mereka sadar jika kau bisa saja tersakiti jika mereka menjauhimu." ujar Rian, alis Dian berkerut.
"Jangan katakan Zafa tau mengenai ibunya juga darimu ...?" Dian tidak mampu lagi membendung rasa kecewanya pada Rian. ---- "Kau tidak punya hak sama sekali untuk mengatakan apapun pada mereka Rian. Jika sekalipun mereka menyakitiku aku tidak peduli. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku, dan kesedihan mereka adalah kesedihanku. Entah kali ini aku bisa atau tidak untuk memaafkan perbuatanmu. Kau sudah menyakiti anak-anak ku."
"Aku tau aku salah, tapi tolong maafkan aku." Velia yang mendengar Dian memarahi suaminya hanya mampu mengusap pundak Rian. Ia tahu mungkin Dian sangat kecewa karena anak-anaknya pulang dengan perasaan terpukul.
"Bahkan jika aku harus tiada karena menahan rindu untuk mereka itu menjadi urusanku. Kau tidak berhak sama sekali menyakiti anak-anakku."
Tangisan Dian pecah seiring tubuhnya yang tiba-tiba di dekap Gerry dan kedua anaknya. Dian menangis sesenggukan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ponselnya terjatuh begitu saja di lantai.
"Sayang .... "
"Mama .... "
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Ah ... othor emang suka bawang gimana ya? Emang kisah ini penuh bawang.
__ADS_1
Selamat membaca guys ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
Love you all buat kalian yang selama ini selalu setia dengan karya recehku ini.