
********
Didi dan Selin mengikuti kemana brankar Veni di dorong namun saat tiba di pintu mereka ditahan oleh para medis. Beruntungnya tadi ambulans cepat datang ke lokasi kejadian.
Didi mendudukkan Selin di kursi tunggu. Wajah istrinya seolah tak dialiri darah. Kaki Selin terus gemetaran. Dia bahkan terus meremas jemarinya yang bertautan.
Didi menyerahkan sebotol air mineral untuk Selin. Sesaat dia lupa jika harus menghubungi sahabatnya karena kondisi Selin yang mengkhawatirkan.
"Aku panggilkan dokter. Kamu juga perlu diperiksa." Ujar Didi berdiri dari posisi duduknya namun tangan Didi buru-buru dicekal oleh Selin. Ia menggeleng lemah.
"A-aku baik-baik saja. Aku hanya masih trauma dengan kecelakaan yang menimpaku." Kata Selin. Didi langsung kembali duduk dan memeluk Selin.
"Kau tidak perlu khawatir. Sekarang ada aku yang akan melindungi kamu." Bisik Didi.
Didi seketika teringat Aldo. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi sahabatnya. Dering ponsel tak mengganggu tidurnya pria itu. Karena Aldo memang seperti itu jika tidur.
Didi mendengus, ia lantas menghubungi Gerry.
Dan deringan pertama Gerry langsung mengangkatnya. Karena Dian sedang mengalami morning sickness.
"Ada apa Di? Lo cuma tinggal ketuk pintu aja, pake telepon segala." ---- Gerry.
"Gue di rumah sakit."
"Hah .. siapa yang sakit?" Gerry tersentak mendengar Didi di rumah sakit.
"Bangunin Aldo buruan, Veni kecelakaan. Gue di rumah sakit punya Lo,"
"Ok .. ok gue bangunin dia dulu." Gerry segera berlari meninggalkan kamar.
"Mas, ada apa?" Suara Dian membuat Gerry menoleh saat mencapai ambang pintu.
Veni yank .. dia kecelakaan." Ujar Gerry, Dian menutup mulutnya tak percaya.
"Apa dia bertengkar dengan Aldo?"
"Nanti aja yank tanya-tanyanya. Sekarang aku kasih tau Aldo dulu." Kata Gerry, Dian menitikkan air matanya.
__ADS_1
Gerry menggedor-gedor pintu kamar Aldo dengan keras. Dian menyusul Gerry dengan sedikit berlari.
"Jangan lari yank .. nanti jatuh." Ujar Gerry dengan wajah cemas.
Aldo terbangun karena suara gedoran di pintu kamarnya. Ia melihat disekelilingnya namun senyap. Dimana Veni? Aldo terbangun dengan mata setengah terpejam. Dengan malas ia membuka pintu tanpa menaruh curiga.
Saat pintu terbuka Aldo menatap Gerry dengan malas. "Ada apa sih Ger? gue butuh tidur dari kemarin ngurusin urusan klub ga kelar-kelar."
"Istri lo di rumah sakit. Dia kecelakaan." Ujar Gerry singkat.
Jeder ...!!
Bak tersambar petir, seketika tubuh Aldo menegang.
"Maksud kamu?" --- Aldo masuk ke dalam kamar memanggil-manggil nama Veni tapi nih tak ada sahutan.
"Lo malah ngapain sih? ayo Lo ikut ke rumah sakit atau nggak?" Semprot Gerry.
.
.
.
"Bagaimana kondisi saudari saya dokter?" Tanya Didi dengan wajah tegang.
Dokter itu tersenyum. "Kondisinya sudah stabil, beruntung bayi dalam kandungannya masih bisa diselamatkan." Ujar dokter itu.
"Apa bisa kami melihatnya?" tanya Selin.
"Silahkan, tapi setelah kami pindahkan pasien ke ruang perawatan."
Selin dan Didi mengikuti arah brankar Veni di dorong. Wajah Veni pucat pasi kening dan pipinya lebam. Beruntung airbag yang ada di mobil Aldo bekerja dengan baik. Sehingga dapat melindungi Veni dan bayinya.
Selama perjalanan Aldo terus saja mengusap wajahnya dengan kasar. ingatan antara alam bawah sadarnya mengulik kembali permintaan Veni tengah malam tadi. Penyesalan kini memenuhi relung hatinya.
"Kenapa bisa Veni keluar sendirian tengah malam? Apakah kalian bertengkar?" Tanya Dian menatap ke belakang dimana Aldo sedang duduk dengan resah. Perjalanan ini terasa sangat panjang dan lama.
__ADS_1
"Aku tidak yakin, semalam aku baru tertidur pukul setengah 2 dan ketika pukul setengah 4 Veni membangunkan aku. Aku pikir hanya bermimpi karena aku begitu lelah. Dia meminta kue pancong. Setelah itu aku hanya berkata besok pagi saja. Lalu kembali tidur. Aku tak tau jika dia akan nekat mencari sendiri apa yang dia inginkan."
Dian mengangguk, memang dia akui hamil bisa membuat wanita yang mandiri saja menjadi bergantung. Apalagi yang terbiasa bergantung, maka akan semakin sulit untuk di pahami setiap keinginannya. Beruntung dia memiliki Gerry yang selalu bisa diandalkan meskipun terkadang dengan wajah yang lelah, tapi suaminya tak pernah protes.
"Wanita hamil itu tingkat sensitivitas nya lebih tinggi. Jadi kau harus bisa menempatkan diri. Jika memang tidak bisa menuruti kemauannya saat itu juga cari simpatinya untuk menolak secara halus. Agar kau tidak perlu melakukan apa yang dia mau. Jangan asal berkata, Bisa saja apa yang kalian anggap ucapan angin lalu justru malah menggores hatinya begitu dalam." Ucap Dian.
Gerry tersenyum miring mendengar ceramah istrinya pada Aldo.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sadar. Aku sangat lelah. Tapi sekarang aku benar-benar menyesalinya. Semoga saja Veni dan janin kami baik-baik saja." Mata Aldo berkaca-kaca ia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada istri dan calon bayi mereka. Ia tak akan bisa menghadapi Veni jika sampai hal buruk menimpa janin yang selama ini dia sangat dambakan.
Mereka bertiga tiba di lorong rumah sakit milik Gerry. Pria itu sudah mendapat informasi dimana Veni di rawat.
Dengan tangan bergetar Aldo masuk ke ruang VIP tempat istrinya dirawat. Saat pintu terbuka seketika hatinya mencelos melihat Veni terbaring lemah dengan lebam dibeberapa bagian wajahnya.
Aldo mendekat, tanpa memperdulikan Didi dan Selin yang berada di pojok ruangan. Kristal bening yang sejak tadi membayang di pelupuk mata jatuh berderai. Hatinya benar-benar hancur.
"Baby .. " Suara Aldo terdengar bergetar.
Gerry mengusap bahu Aldo mencoba memberi kekuatan pada Sahabatnya itu. Ia tau bagaimana rasanya melihat belahan jiwanya terbaring lemah tak berdaya.
"Ini semua salah gue Ger, gue ga bisa jaga istri dan anak gue." Sesal Aldo, Didi menyenderkan Selin yang tertidur di headboard sofa. Dan menutupi tubuh Selin dengan selimut yang dia minta pada perawat.
"Kondisi Veni sudah stabil, beruntung janinnya tidak kenapa-kenapa. Dia hanya syok, dokter memberinya obat tidur agar ia bisa beristirahat. Kata dokter sepertinya istrimu sangat tertekan." Tutur Didi. Aldo hanya mendengarkan tanpa merespon. Ia terus menerus mengecup jemari Veni dengan penyesalan yang begitu dalam.
Gerry membawa Dian duduk di dekat Selin, wanita itu langsung terbangun saat ada pergerakan.
"Selin apa kau baik-baik saja? kenapa kau tampak pucat?" Tanya Dian.
Sejak melihat mobil Veni menabrak pembatas jalan Selin memang masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpa dirinya.
"Aku hanya sedang kurang enak badan." Jawab Selin tak ingin semakin merepotkan keluarga sahabat Didi yang begitu baik.
"Kenapa tidak check up sekalian Selin?" tanya Dian dia benar-benar mencemaskan istri Didi yang terlihat lemah.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Maafin othor ngaret ya.
__ADS_1