Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 88


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


"Ma, ada yang ingin aku sampaikan pada mama." Ucap Rian.


"Apa itu sayang?" tanya nyonya Santika penasaran.


"Sebenarnya selama ini, aku belum menceraikan Dian secara lisan."


Mata nyonya Santika membulat. Kenyataan apalagi ini. "Apa maksudnya ini Rian?"


"Rian tidak pernah mengucapkan talak pada Dian. Saat itu aku hanya meninggalkan Dian begitu saja. Dia pernah meminta kata talak dariku tapi aku berkata tak pernah menganggap pernikahan ini ada. Untuk itu dari sini aku akan meminta Dian untuk mengijinkan Zafrina tinggal bersama kita. Dengan alasan itu."


"Ya Tuhan Rian, kenapa kamu permainkan pernikahan dengan cara seperti itu?" ujar nyonya Santika kecewa.


"Ma, aku tau aku salah. Maka dari itu aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku ingin merawat Zafrina dengan sungguh-sungguh."


"Mama yang akan bujuk Dian, kamu cukup jatuhkan talakmu pada Dian." Ujar nyonya Santika.


Rian sadar betul akan hal ini. Mulanya dulu ia ingin merebut Dian dari sisi Gerry dengan status itu. Tapi dia tak ingin menyakiti Dian lebih dalam lagi. Dia bisa saja mengambil Dian dari sisi Gerry karena bagaimanapun Dian masih istrinya.


.


.


.


Berat badan Zayn dan Zayana menunjukkan peningkatan. Zayn meningkat 500 gram sedan Zayana 400 gram. Itu artinya berat Zayn sudah mencapai 2Kg lebih sedan Zayana genap 2kg.


Gerry sudah mulai kembali bekerja di perusahaan. Ia selalu pulang lebih awal untuk menemani Dian.


Pintu ruang perawatan Dian diketuk dari luar. Setelah mendapat ijin masuk dari Dian, pintu terbuka lebar menampilkan Rian sedang mendorong ibunya yang duduk di kursi roda.

__ADS_1


"Mama .." Sambut Dian dengan suara lembutnya. Nyonya Santika tersenyum mendengar suara Dian yang mampu menggetarkan hatinya. Setelah ia tau status Dian masihlah menantunya hatinya semakin menghangat melihat sikap Dian yang begitu santun.


"Sayang .. maaf mama mengganggu." Ujar nyonya Santika. Ia melihat Dian sedang meletakkan Zayana di ranjangnya.


"Tidak ma, mama bagaimana kondisinya? apakah sudah lebih baik ma?" tanya Dian. Nyonya Santika mengangguk. Rian hanya diam menatap Dian yang sedang berinteraksi dengan ibunya.


"Sayang ada yang ingin mama sampaikan sama kamu." Ujar nyonya Santika, Dian duduk di hadapan nyonya Santika dan menggenggam jemari wanita paruh baya itu.


"Ada apa mah? katakan saja."


"Mama mau bertanya dulu. Selama ini apakah Dian sudah menerima kata talak dari Rian?"


Jeder ..!!


Dian menatap Rian dan ibunya bergantian. Bibirnya tiba-tiba kelu. Namun Dian menggelengkan kepalanya. Memang benar belum pernah sekalipun keluar kata talak dari mulut Rian. Apakah itu artinya, selama ini dia?


Nyonya Santika tersenyum melihat reflek Dian seakan ketakutan.


Dian masih tak sanggup mengucapkan kata-kata. Air matanya luruh, ia merasa berdosa pada semuanya.


"Jangan menangis sayang, kami kesini bukan untuk mempersulit kamu. Cuma mama punya satu permintaan padamu. Mama harap kamu bisa kabulkan keinginan mama." Ujar nyonya Santika.


"Apa ma?"


"Mama ingin Zafrina sering-sering tinggal di rumah mama. Bagaimana pun Rian ayah kandungnya. Meskipun anak bodoh ini telah membuat perjanjian itu. Tapi mama minta biarkan Zafrina juga tumbuh di keluarga kami." Tutur nyonya Santika.


"Di-dian be-belum bisa kasih mama keputusan. Semua harus aku bicarakan dengan mas Gerry." Kata Dian.


"Baiklah, mama akan tunggu kabar baik darimu."


Rian menatap Dian intens. Dian hanya menundukkan kepala tak berani menatap mata biru pria itu.

__ADS_1


"Dian Ayunda, mulai hari ini aku talak tiga dirimu. Ku haramkan tubuhmu menyentuhku." Kata Rian.


Hati nyonya Santika serasa tercubit mendengar talak yang dijatuhkan Rian pada Dian. Namun ia sangat bersyukur cucunya terlahir dari wanita sebaik Dian.


"Tolong usahakan ya sayang. Mama berharap sekali padamu. Kediaman mama sangat sepi. jika Zafrina disana setidaknya itu bisa menjadi hiburan bagi kami untuk menghabiskan masa tua." Ucap nyonya Santika penuh harapan. Dian mengangguk.


"Saya akan secepatnya bicarakan ini dengan semuanya mah." Kata Dian.


.


.


.


Gerry mengurut keningnya yang terasa berat. Beberapa hari ini ia begadang menemani Dian mengurus kedua buah hatinya.


Sigit mengetuk pintu ruangan Gerry, setelah diijinkan masuk Sigit memberikan laporan dari anak buahnya mengenai pendonor jantung untuk ayah Gerry.


"Bagaimana Git?" tanya Gerry tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Ada 3 pendonor. Dan hanya satu orang yang cocok. Usianya masih muda. Kondisinya sangat kritis. Ibunya sudah menandatangani berkas-berkasnya. Dan juga dari hasil lab ada kecocokan sehingga kita tinggal menunggu kabar selanjutnya." Kata Sigit.


Seharusnya Gerry merasa senang dengan berita itu, akhirnya setelah sekian hari menjadi menunggu kabar. Ada juga yang akan mendonorkan jantungnya untuk sang ayah. Tapi justru perasaan Gerry menjadi tak menentu. Ia melihat berkas yang ditanda tangani keluarga pendonor. Hati Gerry tersentak kaget.


"Sigit, dimana pasien yang akan menjadi pendonor jantung ayah?"


"Di rumah sakit Medika." Kata Sigit, ia tak tau kenapa wajah bosnya tampak pucat setelah melihat berkas itu.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Duh othor galau deh sama aplikasi ini. Semoga ga mengecewakan usaha othor selama ini yang udah rajin Up.

__ADS_1


Semoga kalian masih tetap semangat mendukung karya othor ini guys. Like, koment dan Vote. Juga jangan lupakan hadiah untuk othor ya.. 😘😘😘


__ADS_2