
*******
"Maaf aku harus pergi sekarang." Ujar Selin pada Didi. Namun Didi enggan melepaskan Selin.
"Ku mohon jangan tinggalkan aku." Didi memegang jemari Selin. Selin kembali duduk ia mengusap pipi Didi.
"Aku berjanji akan kembali. Jadi berusahalah menjaga hatimu untukku. Karena sekali aku mendengar kau masih berbuat hal yang hina aku akan membencimu selamanya dan aku tidak akan menemuimu lagi." Kata Selin, ia langsung mengecup kening Rian.
Araya benar-benar terkejut melihat tingkah adik iparnya itu. Sepertinya selama Selin kabur dia menjalin hubungan dengan pria ini.
"Selin ayo ..!" Araya bersuara.
Selin menengok sebentar dan memberi isyarat pada Araya agar keluar terlebih dulu. Akhirnya dengan berat hati Araya meninggalkan ruangan Didi.
Selin memeluk Didi. "Maaf aku harus pergi. Aku tidak bisa melibatkan mu dalam masalahku, ini tidak semudah seperti yang kau kira. Aku berjanji akan kembali setelah semuanya selesai."
"Berbagilah denganku, aku akan membantu menyelesaikan masalahmu." Kata Didi, Selin tersenyum getir. Ia hanya tak ingin Didi dan keluarganya terlibat masalahnya. Archel akan menjadikan mereka sebagai sasaran untuk menjatuhkannya.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Selin.
"Ya aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Kata Didi.
"Jika kau mencintaiku bersabarlah. Aku melakukan semua ini demi kebaikan kita." Kata Selin menyeka air mata Didi, ia mengecup kedua mata Didi, menggesek hidungnya lalu yang terakhir Selin mencium bibir Didi begitu dalam.
Selin langsung beranjak pergi tanpa bisa dicegah oleh Didi. Pria itu kembali menangis. Hatinya seakan tertusuk ribuan jarum. Sebenarnya apa yang Selin sembunyikan darinya.
.
.
.
Arya dan Nayla masih mencari jejak Selin. Ia tak menyangka gadis itu pergi tanpa mengucapkan apapun kepadanya. Dia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk semuanya
...*Jika kakak membaca surat ini, mungkin aku sudah kembali ketempat seharusnya aku berada. Maafkan aku yang tidak bisa berpamitan secara langsung kepada kalian. Karena jika didekat kalian lidahku terasa kelu....
...Terimakasih nenek, terimakasih kak Arya dan Nayla. Kalian adalah keluarga keduaku tempatku bersandar. Aku terpaksa pergi karena jika tidak nyawa kalian semua terancam. Maafkan aku membawa masalahku di keluarga ini. Mantan calon tunanganku memiliki niat buruk. Dan aku tak ingin kalian terkena imbasnya. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri. Aku harap masih bisa kembali lagi ditengah-tengah kalian....
...Salam sayang untuk semuanya....
...Selin*...
Arya rasanya lelah sekali. Tujuan terakhirnya adalah klub Aldo dimana Didi berada. Nayla begitu takut berada di tempat itu. Arya memeluk Nayla untuk melindungi gadis itu dari godaan pria hidung belang.
Tanpa permisi Arya membuka pintu ruangan Didi. Matanya membulat melihat Didi tergeletak di dekat meja kerjanya.
Arya berteriak memanggil anak buah Didi di klub itu. Mereka menggotong tubuh Didi untuk dimasukkan ke mobil Arya.
__ADS_1
Arya mengusap wajahnya frustasi. Selin belum ditemukan dan kini adiknya entah kenapa bisa sampai pingsan.
Nayla mengusap bahu Arya, mencoba membuat pria itu merasa tenang. Setelah beberapa menit Arya tiba di pelataran rumah sakit milik Gerry. Arya keluar untuk memanggil satpam agar membantunya mengangkat tubuh Didi.
Brankar Didi sudah didorong masuk ke ruang IGD. Kali ini Arya tidak ikut masuk. Biarlah tim dokter yang menangani. Arya bahkan sampai tak memperhatikan sekitarnya.
Nayla duduk disebelah Arya. gadis itu menyodorkan cup berisi kopi hangat.
"Maafkan aku, aku sampai tak memperhatikan dirimu." Ujar Arya menerima kopi itu.
Nayla tersenyum tulus. Senyum yang mampu membuat hati Arya menghangat.
"Tidak usah anda pikirkan tuan. Saya tahu anda sedang banyak masalah." Kata Nayla.
"Bisakah kau jangan memanggilku tuan?"
"Tapi anda memang cucu majikan saya. Sudah sepatutnya saya menaruh hormat kepada anda tuan." Kata Nayla menundukkan kepalanya.
"Kau sahabatku sejak kecil. Kita selalu bersama, bukan karena kau putri dari karyawan nenekku lantas kau juga membatasi hubungan kita."
"Tapi nyatanya saya juga mengabdi sebagai pegawai nyonya besar Soraya." Kata Nayla.
"Ck .. sudahlah aku benci membahas ini denganmu." Ujar Arya mengakhiri perdebatan mereka. Seorang dokter keluar dari ruang IGD.
"Dokter Arya .." Panggil dokter yang menangani Didi.
"Bagaimana kondisi adik saya dokter Hari?"
"Lalu apakah butuh rawat inap dokter?" tanya Arya, dan dokter Hari mengangguk.
"Tentu, dan yang pasti atas seijin keluarganya." Jawab dokter Hari.
.
.
.
Nyonya Clara tergopoh-gopoh memasuki ruang perawatan putranya. Ia begitu terkejut mendapat kabar putra bungsunya pingsan.
"Arya kenapa bisa Didi sampai pingsan?" tanya Nyonya Clara pada si sulung.
"Didi hanya kurang istirahat mah."
"Sebenarnya siapa yang dia cari? setiap malam dia selalu mengigau memanggil nama Selin." Kata nyonya Clara.
"Selin itu pacar Didi mah." Jawab Arya.
__ADS_1
"Lho Nayla disini juga?" nyonya Clara baru menyadari jika ada orang lain disana.
"Iya nyonya." Jawab Nayla singkat.
"Aku tadi mengajak Nayla mencari Selin ma." Kata Arya. Nyonya Clara mencebikkan bibirnya.
"Huu .. dasar modus."
"Mama ih .."
"Selin .." sayup-sayup suara Didi terdengar memanggil nama Selin. Nyonya Clara mendekat di samping brankar Didi.
"Didi sayang, buka mata kamu nak! Ini mama." Bisik nyonya Clara. Perlahan kelopak mata Didi terbuka.
"Mama, Selin mana?"
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam. Mereka pun tak tahu harus menjawab apa.
"Ma, jawab Didi ma! mana Selin?" Arya dapat melihat betapa Didi sudah benar-benar menyesali perbuatannya.
Didi kembali menangis meratapi kepergian Selin.
"Dia pergi kak .." Gumam Didi.
"kakak yakin pasti dia akan kembali lagi.. Kau hanya perlu bangkit dan menunggunya." Kata Arya. Didi mengangguk patuh.
Akhirnya malam panjang itu terlewati dengan sebuah hati yang tersakiti. Begitu pula Selin dirinya sangat amat sangat berharap semua segera teratasi dengan baik. Sehingga dia bisa pulang menikmati masa-masa kehamilannya bersama Didi.
Namun semua hanya seperti angan-angan yang sulit diraih olehnya.
.
.
.
Selin bahkan menyembunyikan kehamilannya pada Didi, agar Didi mau melepaskan kepergiannya. Ia tak ingin bersikap egois dengan berada di sekitar Didi. Bisa saja Didi atau keluarga yang lain celaka karenanya.
Archel bisa berbuat hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Selin tidak mau orang yang ia cintai celaka karena dirinya.
Kao terus memperhatikan wajah Selin yang semakin sendu seolah ia tahu apa yang dirasakan oleh adiknya itu.
Araya masih belum menceritakan tentang Didi pada Kao. Dia tidak ingin memperkeruh suasana hati Selin.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Hahaha maaf ya guys Othornya lagi² terlelap.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote. Beri rating ⭐5 untuk karya othor ini please ya.
Kopi mana kopi ngantuk neh..