Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Sakit Aa


__ADS_3

******


Arsen sudah selesai mandi, tubuhnya yang atletis hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Ia melihat Ara tidur meringkuk seperti bayi yang lucu. Ia berjalan mendekat dan membelai wajah gadis yang baru saja berubah status menjadi istrinya.


"Ra .. kamu mau membersihkan diri dulu atau tidak. Aku sudah menyediakan air hangat untukmu." Bisikan Arsen lembut tepat di telinga Ara, gadis itu mengeliat merenggangkan otot-ototnya.


"Iya A' .. "


"Capek banget ya?" tanya Arsen karena Ara terlihat enggan membuka mata.


"Ngantuk A' tapi badan Ara rasanya lengket." Gadis itu berusaha membuka matanya, bahkan berkali-kali terlihat menguap.


"Mau aku gendong ke kamar mandi?" Arsen memandang teduh kearah Ara. Gadis itu mengangguk manja.


"Iya mau A' tapi akunya jangan diapa-apain ya." Ujar Ara, dengan tatapan mata sayu. Arsen menyunggingkan senyumnya hingga lesung pipinya nampak, Ara mengangkat tangannya dan mencolokkan jarinya ke lesung pipi Arsen.


"Gemes banget si A kalo senyum. Tapi janji ya sama Ara senyumnya cm di depan Ara dan keluarga. Jangan senyum sama cewek lain kalo di luar rumah!"


"Belum apa-apa udah posesif banget sih." Arsen menjembel pipi Ara hingga memerah.


"Auch .. sakit Aa. Belum apa-apa udah KDRT." Gerutu Ara.


Arsen hanya tertawa lalu mengangkat tubuh istrinya ala bridal style menuju kamar mandi.


"Aa tadi teh Dian nyiapin baju aku dikoper. Aa tolong ambilin kopernya kemari ya." Ujar Ara tersenyum lebar. Arsen mengangguk lalu mengambilkan koper Ara.


"Butuh bantuan lagi ga?" tanya Arsen saat melihat Ara kesulitan menarik pengait di gaunnya.


"Kayaknya iya deh A, tapi aa janji jangan macem-macem dulu." Tegas Ara, Arsen terkekeh melihat wajah istrinya yang terlihat benar-benar takut jika sampai Arsen berbuat sesuatu padanya.

__ADS_1


Setelah Arsen membantu Ara melepas gaunnya. Matanya langsung membelalak melihat betapa mulusnya punggung gadis itu. Tanpa aba-aba Arsen memegang pundak Ara dan menyematkan satu kecupan di punggung gadis itu. Seketika tubuh Ara terasa seperti terbakar. Wajahnya memerah ia bahkan tak berani menegur atau menoleh. Bagaimanapun mereka sudah sah. Dan itu artinya seluruh tubuh Ara milik Arsen.


Arsen dapat merasakan ketegangan Ara. Ini juga hal pertama baginya. Namun dia adalah seorang pria nalurinya yang menuntunnya dengan sendiri apa yang harus dia lakukan.


"A-a Ara mau mandi dulu gerah." Ujar Ara gelagapan.


"Hhmm .. hanya deheman yang terucap dari bibir Arsen. Rasanya ingin Arsen mendekap tubuh sang istri. Tapi dia harus benar-benar melakukannya dengan pelan-pelan.


Arsen meninggalkan Ara di dalam kamar mandi. Ia memilih membuka pintu balkon dan menghirup udara malam yang segar.


Sedang di dalam kamar mandi Ara, berjalan mondar-mandir merasa resah. Sepertinya ia salah meminta pertolongan. Ternyata baju yang Dian sediakan tidak seperti yang Ara bayangkan. Karena di koper itu hanya ada pakaian minim yang menerawang dengan warna berbeda beserta dua dalaman berwarna senada.


"Duh teh Dian, masa iya aku harus pake ini." Gumam Ara, ia meraih ponselnya dan menghubungi Dian.


Hingga deringan ke 3 baru di angkat oleh Dian. Namun alis Ara bertaut.


"Teh, kok bajunya gini? Ara malu teh mau make bajunya. Nanti dikira Ara mau goda Aa."


.


.


.


Sementara itu di kamar Presidential suit lainnya Dian kembali berpacu dengan Gerry setelah menerima telepon dari Ara. Gerry terus bergerak dan sesekali menyergap puncak d*d* Dian yang terlihat semakin berisi. Ia mengul*m dan menghis*p dengan gemas bergantian kedua ujungnya yang terlihat menegang.


"Mas .. uuhmm lebih cepat." Desis Dian, tubuhnya mengelinjang saat Gerry menghentak tubuhnya dan menyemburkan cairan cintanya. Gerry mengerang dan membenamkan wajahnya di dua gundukan istimewa milik istrinya.


"I love you sayang." Bisik Gerry mengecup kening Dian yang berpeluh.

__ADS_1


"Love you more mas .. " Jawab Dian dengan mata hampir terpejam. Gerry melepaskan pusakanya dari sarungnya, lalu meraih handuk kecil kering yang ada di atas nakas lalu mengelap peluh yang membasahi wajah dan tubuh istrinya.


.


.


.


Arsen mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar. Karena sudah satu jam Ara ada di dalam kamar mandi.


"Ra .. kamu tidur lagi?" suara Arsen menyentak lamunan Ara. Ara memejamkan matanya sebentar. Meyakinkan dirinya. Jika sesuatu yang akan dia lakukan bukanlah suatu kesalahan toh mereka sudah resmi menikah.


Dengan ragu Ara membuka pintu kamar mandi namun hanya kepalanya yang terlihat menyembul.


"Aa .. bisa bawa selimut kesini tidak?"


"Kenapa? apa kamu mau tidur di kamar mandi?" Alis Arsen bertaut. Apa yang sebenarnya Ara takutkan? kenapa dia bersembunyi seperti itu.


"Udah cepetan bawa selimut kemari Aa," Rengek Ara, jujur ia merasa malu saat ini. Ia seperti tak mengenakan baju dan itu terlalu memalukan baginya.


Arsen berbalik mengambil selimut untuk Ara, Ara tampak memikirkan ucapan Dian. Sepertinya ada benarnya juga. Lagipula mereka sudah sah. Dengan langkah perlahan Ara membuka lebar pintu kamar mandi. Tangannya menutupi bagian dada dan inti tubuh bagian bawahnya. Saat Arsen menoleh, selimut yang ia pegang langsung meluncur bebas ke lantai. Bagaimana tidak? meski jarak dirinya berdiri dan Ara terlihat sedikit jauh namun mata Arsen tak bisa mengelak dari pemandangan yang langsung membuat juniornya turn on seketika. Tubuh Ara hanya di balut lingerie berwarna merah menyala, sangat kontras dengan tubuh Ara yang putih bak batu pualam. Arsen dapat melihat lekuk tubuh Ara yang begitu tampak menggoda. Perlahan kakinya mendekat ke arah istrinya. Ara terlihat sangat malu sekaligus gugup saat Arsen mendekatinya. Bahkan nafas Arsen terdengar memburu.


Arsen mengikis jarak antara dirinya dan Ara. Terlihat jelas wajah Ara yang memerah. Arsen menarik pinggang Ara hingga tubuh keduanya melekat sempurna. Nafas Arsen menerpa kening Ara, menimbulkan sensasi menggelitik di dalam tubuhnya.


"Ra .. kamu udah siap?" tanya Arsen dengan suara parau. Ara mengangkat wajahnya menatap wajah suaminya yang juga sama-sama memerah. Namun kali ini karena Arsen sedang menahan hasratnya dengan sekuat tenaga. Ara mengangguk lalu tertunduk, Arsen meraih dagu Ara dan memiringkan wajahnya. Perlahan ia memagut bibir tipis Ara yang tampak sangat menggoda. Ara memejamkan matanya saat bibir Arsen yang terasa kenyal dan lembut itu menempel dengan sempurna di bibirnya. Arsen membenamkan ciumannya semakin dalam dan menuntut."


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Gift nya jangan lupa ya gaes. Biar makin semangat nulisnya. Tetap birukan Jempol kalian

__ADS_1


Dan Terima kasih untuk doa tulus kalian buat kesehatan othor. Maaf tidak bisa membalas satu per satu. Tapi doa yang sama othor panjatkan untuk kalian semua. Semoga selalu diberikan kesehatan Jasmani dan Rohani. Love you sekebon buat para pembacaku ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


__ADS_2