Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Terimakasih Baby


__ADS_3

*********


Veni sedang bersiap-siap karena hari ini ibu mertuanya mengajaknya pergi entah kemana. Sementara Aldo sudah pamit pergi sejak pagi. Entah apa yang suaminya itu lakukan tapi Veni sama sekali tidak menaruh curiga.


"Ayo sayang .. teman mami sudah menunggu."


"Iya mami .. sebentar Veni ambil tas dulu." Veni menyambar tasnya.


Ia berjalan dengan hati-hati saat menuruni tangga. Mami Vani membantu Veni saat Veni tiba di pertengahan tangga.


"Besok biar papi memanggil pekerja untuk membuat lift."


"Tidak perlu mami. Aldo setuju jika nanti kita pindah ke kamar bawah." Kata Veni, mami Aldo tersenyum lalu menggandeng tangan menantunya. Mereka berjalan keluar dan segera masuk ke mobil menuju ke suatu tempat.


Aldo menatap puas, malam ini dia ingin memberi kejutan untuk Veni. Bahkan Aldo rela merogoh kocek dalam demi bisa mewujudkannya.


"Tuan, apakah masih ada yang diperlukan?"


"Tidak terimakasih .. Jangan lupa pastikan makanannya harus steril. Istriku sedang hamil tidak bisa makan makanan sembarangan."


"Kami mengerti tuan .. "


Aldo langsung pergi dari lokasi dimana dia akan memberi kejutan untuk Veni. Dirinya sekarang dalam perjalanan menjemput pujaan hatinya.


Veni merasa heran karena ibu mertuanya tidak hanya meminta Veni mencoba baju. Tapi wajah Veni pun turut dirias okeh seorang MUA.


"Mami sebenarnya kita mau kemana? kenapa Veni harus berdandan juga?"


"Kamu tenang saja sayang. Mami hanya ingin kamu terlihat cantik di depan suamimu." Kata mami Aldo.


Veni hanya pasrah saja mendapat perlakuan terlampau istimewa dari ibu mertuanya itu. Sampai tanpa sadar 2 jam telah terlewat. Dan akhirnya Veni siap dengan gaun berwarna merah cabe yang terlihat pas di badan. Kain sutra murbey dipilih langsung oleh Mami Aldo karena ia ingin menantunya nyaman saat berpakaian. Karena ibu hamil cenderung mudah kepanasan.


"Kau cantik sekali sayang. Pasti Aldo akan tercengang melihatmu."


Dan benar saja, saat Aldo melihat penampilan Veni ia dibuat ternganga.


"Baby you are beautiful."


"Jangan menggombal, aku malu. Eh .. bagaimana bisa kamu di sini? aku kan ga bilang ke kamu mau pergi sama mami."


"Ini semua atas inisiatif suamimu sayang. Dia bilang agar kamu ga bosan di rumah terus." Sambung mami Aldo.


Veni tersenyum, matanya berkaca-kaca karena terharu dengan semua yang di perbuat Aldo.


"Terimakasih baby .. "

__ADS_1


"Sama-sama dear. Ayo sekarang kamu ikut aku! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu.


Aldo menarik tangan Veni membawanya melangkah keluar dari butik. Menuju ke tempat dimana Aldo akan memberinya kejutan.


Sebelum tiba di tempat yang dituju, Aldo menutup mata Veni menggunakan kain hitam. Veni hanya menurut saja. Bahkan jantungnya berdetak kencang saat ini. Dia tak tahu kejutan apa yang suaminya siapkan untuk dirinya. Begitu sampai di tempat, perlahan Aldo membuka ikatan kain di mata Veni.


"Surprise .. "



Di hadapan Veni saat ini telah terpampang Yacht yang sudah dihias sedemikian rupa. Bahkan ada tulisan yang membuat Veni tanpa sadar menitikkan air matanya.


Veni, I love you till my last breath


Kalimat yang mampu membuat Veni begitu tersentuh. Aldo mengulurkan tangannya dan Veni dengan yakin meletakkan telapak tangannya menyambut uluran Aldo.


"Selamat ulang tahun baby .. malam ini akan menjadi malam terindah kita." Bisik Aldo hingga membuat wajah Veni merah padam.


"Bagaimana bisa ..?" tanya Veni masih tak percaya dengan kejutan yang Aldo berikan. Karena ini terlalu manis dan berlebihan menurut Veni.


"Aku berjanji akan menebus kesalahanku. Dan ini salah satu bukti keseriusanku baby."


"Tapi ini terlalu berlebihan."


Keduanya berjalan masuk ke Yacht dan melihat isinya. Aldo menunjukan kamar yang ada dalam kapal pesiar mini itu.



"Bagaimana? kau menyukainya?" Aldo memeluk perut bulat Veni, wanita itu mengangguk di tengah keharuannya.


"Ayo kita ke atas. Ada yang ingin aku tunjukkan." Aldo kembali menggandeng jemari Veni.


Sesampainya di atas Veni kembali di buat tercengang melihat dinner table yang di tata begitu cantik.



"Apa aku layak mendapatkan semua perlakuan ini?" Wajah Veni benar-benar diliputi keharuan.


"Kau sangat layak. Karena kau ibu dari anak-anakku kelak. Aku ingin setiap tahun kau bisa hamil. Agar rumah kita ramaikan seperti rumah Gerry."


Aldo menarik pinggang Veni dan mengangkat dagu wanita itu lalu melabuhkan satu kecupan hangat dibibir Veni.


.


.

__ADS_1


.


Gerry kembali ke mansion saat tengah malam. Dia baru mengaktifkan ponselnya dan langsung menerima banyak notifikasi panggilan dari mama papanya. Namun tidak ada satupun panggilan dari istrinya. Dan itu membuat Gerry mencemaskan kondisi istrinya.


Gerry masuk kedalam kamar, senyum tipis mengembang di bibirnya. Dian tidur di temani ketiga anaknya. Zafa memeluk tubuh Dian sedangkan Zayn dan Zayana tidur saling berhadapan. Pemandangan yang cukup membuat Gerry merasa beruntung memiliki istri seperti Dian.


Gerry bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai membersihkan dirinya dan memakai piyama berwarna hitam Gerry duduk di tepi ranjang menatap wajah Dian. Gerry yakin pasti seharian tadi istrinya bersedih. Apalagi Gerry tau betul kedekatan istrinya dengan Mama Sekar.


Perlahan tangan Gerry terulur mengusap lembut wajah sang istriistri yang terlihat sembab dan pucat.


Merasa ada sentuhan di wajahnya Dian membuka matanya, Gerry tersenyum lembut.


"Mas .. "


"Iya sayang .. tidurlah lagi! Ini masih terlalu pagi." Kata Gerry. Dian memindahkan tangan Zafa. Saat Dian berusaha bangun Gerry segera membantu menahan pinggangnya. Dian langsung menyusup dalam dekapan Gerry dan kembali menangis.


"Sshh .. sudah jangan menangis lagi. Mama Sekarang sudah bahagia bisa berkumpul bersama Gerald sekarang." Ujar Gerry, mata pria itu pun kembali berkabut. Seraya menenangkan Dian Gerry menengadahkan wajahnya agar air matanya tak jatuh.


Zafa membuka mata mendengar isakan tangis Dian,


"Mama kenapa?" lirih Zafa dengan suara serak.


Dian mengusap air matanya lalu menatap putranya. Wajahnya yang sembab memaksakan tersenyum.


"Mama ga apa-apa sayang. Mama hanya rindu papa, makanya mama menangis." Ujar Dian membelai wajah putranya.


"Papa, tadi mama seharian sedih sampai opa oma, kakek dan nenek ngumpul semua nemenin mama. Emang bener ya oma Sekar meninggal?"


Gerry tersenyum samar lalu mengangguk. "Iya sayang, oma sakit. Dan pagi tadi oma meninggal. Makanya papa disana bantu mengurus segala keperluan Oma."


"Zafa sekarang bobo lagi ya. Ini masih malam sayang." Ujar Dian dengan parau. Pria kecil itu mengangguk lalu kembali merebahkan diri. Dian mengusap kepala Zafa dengan lembut hingga anak itu kembali tertidur.


.


.


.


Ara terlelap di dalam dekapan Arsen. Meskipun di rumah sakit kemesraan mereka tetap terbias dari cara mereka terus bersama. Bahkan Arsen meminta Billy untuk mengurus penahanan Wanda dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan operasional perusahaan. Arsen hanya akan memantau dari laptopnya semua pekerjaan yang sekiranya bisa ia kerjakan.


๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ


Maaf ya sekarang up nya sering siang. Anak bungsu othor makin susah di sambi nulis.


Love sekebon buat kalian yang masih setia nunggu cerita othor.

__ADS_1


__ADS_2