
********
"Informasi apa yang kau miliki Viona?" Tanya Archel seraya menghisap cerutu Kuba miliknya.
Viona menunjukkan beberapa foto dan video dimana Selin dan yang lainnya berada. Mata Archel melebar saat melihat seorang pria memeluk dan mencium bibir gadis pujaannya sekaligus gadis yang membuatnya memiliki dendam yang teramat dalam.
"Bagus. Kau tahu kan dimana tempatnya?" tanya Archel matanya masih menatap nyalang kearah ponsel Viona.
"Aku akan memberitahumu. Tapi bebaskan aku dari klub milik pria itu." Viona menunjuk foto Aldo.
"Ternyata otakmu pintar juga memanfaatkan situasi." Desis Archel menyesap wine yang ada di hadapannya.
"Terserah padamu. Yang jelas aku tak rugi jika wanita itu tak bisa kau dapatkan. Aku menyukai pria itu, tapi gadismu merebutnya dariku." Desis Vio sembari menghembuskan asap rokok kewajah Archel.
"Baiklah, aku akan menebus mu. Tapi ingat sekali kau menghianati kepercayaanku aku akan membunuhmu." Ujar Archel.
"Deal .. " Viona mengulurkan tangannya pada Archel. Pria itu mematikan cerutunya, dan menarik tangan Viona. Ia menggambil rokok ditangan Viona dan mematikannya. Archel menarik br* Viona hingga ia memekik. Archel memandangi kedua gundukan sintal Viona dengan buas. Ia mere*mas kedua gundukan dan menghis*pnya dengan kasar. Rintihan lirih terdengar dari bibir Viona. Archel melepas handuk yang melilit pinggangnya dengan gerakan cepat nyaris tak terlihat. Tangan Archel menekan pundak Viona hingga wanita itu tersungkur didepan senjata Laras panjang milik Archel. Archel meraih dagu Viona dengan kasar seraya memberi isyarat agar Viona meng*lum senjatanya. Viona menuruti semua kemauan Archel ia terus menj*lat, melu*mat dan menghisap senjata Archel hingga pria itu mengerang merasakan pelepasan yang meledak di mulut pel*curnya.
.
.
.
Didi mengangkat panggilan dari sahabatnya Gerry.
"Ada apa Ger?"
"Bawa istri dan anak Lo, buat tinggal di rumah gue."
"Ada apa memangnya? Apa ada sesuatu yang gawat?" tanya Didi merasa cemas.
"Sebaiknya lo kesini dulu. Nanti Zayn bakalan ceritakan semuanya."
Didi segera berlari masuk ke kamarnya. Dengan tergesa-gesa ia membangunkan Selin.
"Sayang, bangun." Bisik Didi, Selin mengerjap berkali kali untuk mendapatkan kesadarannya.
"Ada apa by?" tanya Selin dengan suara serak.
"Kita akan ke rumah Gerry sekarang. Mandilah dulu dan aku akan bangunkan Judy." Kata Didi, Selin mengernyitkan alisnya, bingung sudah pasti. Dibangunkan tiba-tiba tanpa diberi penjelasan yang detail, namun mau tak mau Selin melakukan apa yang Didi perintahkan.
__ADS_1
Sementara itu Didi sedang membangunkan putri kecilnya.
"Sayang, bangun." Didi menggoyangkan tubuh Judy mengusap pipi gadis cilik itu perlahan.
"Uhm .. Daddy Judy masih ngantuk." Ujar gadis kecil itu sembari mengucek matanya.
"Nanti Judy bisa lanjut lagi. Sekarang Judy cuci muka dulu. Dady harus ke rumah Zayn sekarang. Mendengar nama Zayn disebut membuat mata Judy Terbuka sepenuhnya.
"Ke rumah Zayn?" beo Judy, Didi mengangguk.
"Ya kita akan kesana." Jawab Didi. Judy segera bangun dan berlari masuk ke kamar mandi. Didi hanya geleng kepala melihat tingkah putrinya.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan 45 menit, Didi tiba di mansion megah milik keluarga Gerry. Didi turun membukakan pintu untuk Selin dan Judy. Mereka berjalan bersama masuk ke mansion Gerry.
Dian menyambut tamunya dengan suka cita. Ia memeluk Selin lalu mencium Judy. Sedang Didi berjabat tangan dengan Gerry.
"Ikutlah denganku. Zayn sedang ada di mansion kakek." Ujar Gerry. Didi berpamitan pada Selin. Judy langsung merengek ingin ikut bertemu dengan Zayn.
"Baiklah nanti paman Gerry akan katakan pada Zayn. Tapi bukankah sebaiknya Zayn tahu dari Judy sendiri. Setidaknya Zayn pasti akan senang." Kata Gerry, Judy tampak berpikir lalu menggeleng, ia menutup mulutnya dan terkekeh.
"Ada apa sayang?" tanya Didi saat putrinya bertingkah aneh.
"Hi .. hi ..hi Judy malu jika harus berbicara langsung dengan Zayn mengenai itu."
Gerry dan Didi saling pandang lalu keduanya menggeleng.
"Judy .." Seru Dino, anak itu senang melihat Judy datang. Zayn melirik sekilas lalu tersenyum pada Judy. Setelah itu ia kembali fokus pada layar Laptopnya.
"Dino, kalian sedang apa?" Judy mendekat karena penasaran. --- Bukankah kemarin ingin mengajariku memakai laptop?" kata Judy.
"Judy kemarilah, aku akan mengajarimu." Zayn menepuk kursi di sebelahnya. Tapi sebelum itu ia memberikan sketsa wajah yang memata-matai mereka di perkebunan kepada ayahnya.
.
.
__ADS_1
.
Gerry dan Didi melihat wajah di sketsa yang Zayn berikan, seketika mata mereka membulat.
"Viona .." Desis Gerry dan Didi berbarengan.
Didi segera menghubungi Aldo untuk memastikan semuanya. Namun Aldo tak tahu menahu karena Alex yang mengurus usahanya itu.
"Tolong katakan pada Alex untuk menahan Viona, aku dan Gerry akan ke klub setelah ini." Ujar Didi, dan Aldo langsung memutuskan sambungannya.
Disaat yang bersamaan telah terjadi transaksi dengan nominal yang sangat mencengangkan. Archel menebus Viona dengan harga 1 Milyar.
Setelah itu Viona dan Archel segera meninggalkan klub karena tak ingin ketahuan siapapun. Archel dan Viona serta beberapa anak buah Archel pergi menuju perkebunan nenek Eliana.
Gerry dan Didi tiba beberapa menit kemudian. Mereka selisih jalan dengan kawanan Archel. Didi bergegas masuk tanpa menanggapi sambutan para penjaga klub.
"Alex, dimana Viona?" tanya Didi dengan nafas tersengal-sengal.
"Viona ..?"
"Iya, dimana ja*lang itu?" tanya Didi meraih kerah baju Alex.
"Di-dia sudah ditebus seorang pria baru saja." Ujar Alex tergagap. Bagaimanapun ia pernah melihat kemarahan Didi yang begitu menakutkan.
Gerry berhenti di dekat Didi dengan nafas terengah-engah. Ia menahan tangan Didi agar tidak memukul Alex.
"Apa Aldo tak memberitahumu untuk menahan Viona?" tanya Gerry. Alex menggeleng.
"Ponsel saya tertinggal di ruangan. Karena pria tadi yang menebus Viona berkata mengejar penerbangan. Saya juga tidak tau jika ternyata Viona bermasalah dengan kalian." Kata Alex.
"Aldo datang ke klub karena tak bisa menghubungi Alex, Ia terkejut melihat Didi masih mengangkat tangannya pada orang kepercayaannya.
"Bagaimana?" ---- "Kenapa dengan ponsel milikmu Alex?" Aldo berbicara dua arah pada Gerry dan Alex.
"Dia sudah lepas. Ada yang menebusnya." Ujar Gerry. Didi menurunkan kepalan tangannya. Ia terduduk dengan lemas.
"Apa kalian sudah cek CCTv siapa yang menebusnya?" tanya Aldo. Seketika Didi menoleh. Kenapa dia bisa melupakan hal yang paling penting. Didi segera bangkit dia menuju ruang pengawasan CCtv diikuti oleh Gerry, Aldo dan Alex.
Alex memerintahkan pengawas untuk memutar 30 menit yang lalu. Disana tampak jelas wajah Archel dan Viona serta beberapa bodyguard Archel. Wajah Didi memerah, tangannya mengepal.
"Jika situasinya seperti ini sebaiknya kalian tetap di mansion ku saja." Ujar Gerry. Namun Didi masih diam dan menatap kosong kearah monitor CCtv.
__ADS_1
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
jangan lupa like, komen, ninggal jejak. Biar ga bikin author merinding, kalo ga ada jejaknya.