
*******
"Pa, malam ini boleh ya aku ikut tidur di kamar papa dan mama." Jika dulu hal itu sangat membuat Gerry senang namun sekarang tidak lagi. Pasalnya Zafa terlalu besar untuk berada di ranjang yang sama dengan mereka berdua.
"Ina juga mau tidur dengan mama malam ini."
"Hei ada apa dengan kalian berdua? ranjang papa dan mama tidak akan muat menampung kita berempat," Gerry merasa sinyal bahaya mengancam kelangsungan hidup juniornya.
"Papa bisa tidur di kamarku atau Ina, atau papa tidur dengan Zafia." Kata Zafa, Dian hanya memberi isyarat untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Gerry juga dapat menangkap sorot mata dian yang kini kembali bersinar terang. Gerry berharap ini dapat selamanya. Menatap wajah Dian yang terlihat begitu bahagia saat berada di tengah anak-anak mereka.
"Papa kenapa malah senyum-senyum sendiri?" tanya Zafa, Gerry menggelengkan kepalanya.
"Papa hanya bahagia melihat mama kembali tersenyum lebar seperti itu." Sudah sebulan papa kehilangan senyum mama kalian." Kata Gerry, hal itu langsung memicu perasaan bersalah Zafa dan Zafrina. Mereka berdua sama-sama tipe perasa sehingga mudah sekali merasa tersindir.
"Maafin Ina ma, Ina janji ga akan tinggalin mama lagi."
"Zafa juga akan tetap disini menjaga mama." Dian tersenyum lembut dan mengusap wajah Kedua anaknya yang duduk bergelayut di kiri kanannya.
"Mama justru tidak akan mengijinkan kalian terlalu lama disini. Apa kalian lupa dengan impian kalian untuk menimba ilmu di sana? kalian sendiri yang bilang jika kalian benar-benar menginginkan menjadi mahasiswa di sana. Mama bahkan masih ingat wajah kalian saat memohon pada mama untuk pergi ke sana." Ucap Dian dengan wajah serius.
"Tapi kami sudah merasakan sendiri mah, tidak enak di sana sendirian." Kata Zafa, sedang Zafrina hanya diam saja. Dia tak ingin menjawab perkataan ibunya. Tekadnya sudah bulat. Ia akan tetap berada di mansion itu. Dia tidak siap jika harus bertemu dengan papinya.
"Tapi sayang ... "
"Sayang sudahlah, ada baiknya jika kita tetap berkumpul di sini. Tidak masalah kuliah di sini toh Zafa bisa membantu Zayn mengurus perusahaan kita yang lain. Lagipula dengan kita berkumpul kita tidak akan merasa kehilangan satu dan yang lain." Ujar Gerry dan semua anak-anak Dian mengangguk setuju.
Dian tersenyum, menatap kelima anaknya yang begitu kompak.
"Baiklah ... mama bisa apa jika tidak ada yang mau memihak mama." Ucap Dian memasang wajah pura-pura sendu. Zafa dan Zafrina memeluk Dian erat.
"Terimakasih mama ... mama memang yang terbaik." Zafa dan Zafrina mencium pipi Dian bersamaan.
__ADS_1
"Papa juga mau dicium .... "
Zayn dan Zayana juga Zafia yang duduk di dekat Gerry langsung menghambur dan menghujani Gerry dengan kecupan di pipi dan keningnya. Tidak ada yang namanya membeda-bedakan di keluarga mereka. Hasil dari didikan Dian dan Gerry terlihat nyata dilihat dari sifat kelima anak mereka saat berada di rumah. Kecuali Zafia yang memang sangat tertutup tapi gadis kecil itu selalu menyayangi keluarganya.
.
.
.
Gerry dengan terpaksa membiarkan Dian di kuasai oleh kedua anaknya. Dia memilih menemani Zafia putri bungsunya.
Tanpa Gerry tahu jika kedua anaknya memiliki maksud khusus meminta tidur bersama ibunya.
Zafa membawa Dian duduk di sofa di kamar itu, Zafa berlutut dan meletakkan kepalanya di pangkuan Dian, sedang Zafrina membersihkan diri di kamar mandi.
Dian mengusap kepala Zafa dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Ada yang ingin kamu tanyakan pada mama sayang?" Tanya Dian seraya membelai rambut Zafa. pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Dian dalam.
"Mama tidak pernah memiliki rahasia pada papamu. Karena rahasia hanya akan membuat sebuah hubungan renggang. Kau tahu pondasi dasar sebuah hubungan selain cinta adalah kepercayaan. Jika kita memiliki rahasia maka kepercayaan itu akan sedikit demi sedikit terkikis dan menghilang." Kata Dian. Tatapan matanya begitu teduh memandang putra pertamanya. Ia tahu jika Zafa sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mama maaf selama ini Zafa selalu bertindak semaunya sendiri. Zafa terlalu banyak menyulitkan mama padahal mama bukan ibu kandung Zafa."
Deg .. !
Tatapan lembut Dian berubah nanar, mendadak bibirnya terasa kelu. Rahasia yang selama ini mereka jaga akhirnya terungkap dengan sendirinya. Darimana Zafa bisa tahu?
"Kenapa masih ada rahasia diantara kita ma? apa mama tidak mencintaiku?"
Dian tersenyum samar dengan mata yang telah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Karena mama tidak ingin melihat wajah sedihmu ini sayang, maafkan mama." Mata Zafa sudah memerah seluruhnya bahkan sudut matanya telah basah. --- "Jika kau ingin mencari tahu tentang ibu kandungmu, tanyakan pada papa. Karena mama tidak mengenalnya." Lanjut Dian, Zafa justru menggeleng.
"Justru aku sedih, kenapa aku tidak seperti adik-adikku yang lain, yang terlahir dari rahimmu saja." Ujar Zafa terisak. Ia tak dapat lagi membendung rasa sesak di dadanya.
"Bahkan meskipun kau tidak terlahir dari rahim ku, bukankah aku tetap mamamu? aku yang menyu*suimu aku yang menjaga dan merawatmu. Kau besar dari tanganku sama seperti adik-adikku yang lain. Apakah mama pernah membedakan dirimu dengan adik-adikmu yang lain?" tanya Dian menangkup rahang kokoh Zafa. Pemuda itu menggeleng.
"Tidak pernah ma .... "
"Karena bagi mama kau putra pertama mama, terlepas kau terlahir dari rahim siapa. Zafa tetap anak mama." Ujar Dian, tanpa ragu Dian menyematkan kecupan yang dalam di kening Zafa.
"Kau putra mama yang paling berharga sayang." Bisik Dian. Zafa sesenggukan dan memeluk Dian erat.
"Maaf ma, Maafin Zafa." Dian mengangguk di pundak putranya. Zafrina yang sejak tadi sudah selesai membersihkan diri pun ikut merasakan keharuan dengan terjadi antara Dian dan Zafa."
Tak lama Zafrina berdehem dan keluar dari balik pintu. Dian buru-buru mengusap air matanya begitupun Zafa.
"Ganggu aja ... " kata Zafa dengan suara serak.
"Ish ... kakak emang kakak saja yang kangen mama?"
"Sini sayang ... " Dian menepuk sisi disebelahnya. Zafrina duduk dan masuk kedalam dekapan ibunya.
"Kemarin kenapa Ina menangis? apa papi memarahi Ina?" Tanya Dian masih penasaran dengan putrinya.
Zafrina menggeleng, dia tak ingin membuat ibunya sedih dengan mengingatkan Dian pada luka lamanya.
"Ina menangis karena terlalu merindukan kalian di sini." Ujar Zafrina berbohong.
"Mama tahu kau sedang tidak jujur pada mama. Tapi mama harap suatu saat Ina mau berbagi dan berkeluh kesah pada mama. Kalian semua harta berharga milik mama, mama tidak akan biarkan seorang pun boleh menyakiti anak-anak mama. Meskipun itu papa kalian. Mama tidak akan pernah membiarkan nya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Hai guys up satu dulu ya, karena tangan othor masih di bebat dan ga bisa banyak buat ngetik susah soalnya ๐คญ๐คญ๐คญ.
Maaf kalo tebar bawang nya kebanyakan ya di novel othor ini.