
⛅ Selamat membaca ⛅
Pesawat yang akan membawa Veni dan Aldo telah lepas landas. Didi dan Arya masih ada di sana. Sesaat keduanya saling menatap, lalu mereka mendesah bersamaan. Sudah saatnya mereka melepaskan perasaan yang membelenggu mereka selama ini.
"Apa kau sudah siap melupakan Dian?" tanya Arya.
"Aku harus siap. Apa perlu aku membuktikannya padamu?" jawab Didi.
"Bagaimana jika kita bertaruh? tantang Arya.
"Ok, siapa takut." Jawab Didi.
"Baiklah, tantangan adalah mengatakan cinta kepada wanita pertama yang turun dari sana." Kata Arya.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Didi merasa tantangan yang Arya buat sangat konyol.
"Hei, aku juga akan lakukan hal yang sama." Mereka kedua berjalan dengan hati berdebar-debar, apakah mereka akan mendapatkan keberuntungan atau kesialan.
Kekonyolan mereka berlanjut, setelah melakukan suit akhirnya Didi lah yang harus terlebih dahulu melakukan tantangan itu.
Seorang gadis remaja cantik, rambut kuncir kuda dan membawa ransel di pundaknya. Ia memakai tanktop putih yang tertutup kemeja flanel berwarna coklat, dipadukan dengan celana panjang jeans sobek-sobek dibagian lutut dan pahanya, serta sepatu Converse berwarna putih.
"Wah kalo kau bisa membuatnya takluk padamu, aku akan berikan mobilku yang terbaru." Ujar Arya. Didi semakin bersemangat.
Tanpa ia sadari kakinya mulai mendekati gadis itu. Gadis yang masih tak terlalu memperhatikan sekitarnya karena sibuk bermain ponsel.
Didi berpura-pura menabraknya. Gadis itu terhuyung, namun lengan kokoh Didi menangkapnya.
"Kalo jalan perhatikan langkahmu bodoh." Ujar Didi. Gadis itu menatap kesal kearah Didi.
"Apa urusannya dengan anda."
"Aku menyelamatkanmu dari rasa malu. Lihatlah jika aku tak menabrakmu, kau akan menabrak tempat sampah itu." Kata Didi berbisik di telinga gadis itu. Tubuh gadis itu mendadak kaku. Ini pertama kalinya ia sedekat itu dengan pria.
"Me-menjauh-lah ..!" ujar gadis itu mendorong Didi. Ia langsung membenahi dirinya dan menatap tajam Gerry.
__ADS_1
Eh tunggu dulu, sepertinya aku pernah bertemu dengannya tapi dimana?
"Aku mencintaimu." Ujar Didi tiba-tiba dengan sangat lantang. Arya sampai terbengong melihat tingkah adiknya yang begitu serius menjalani tantangan yang dia buat.
Gadis itu mengerjap berkali-kali. Syok sudah pasti. Tapi gadis itu mengenali wajah Didi.
"Apa kau sudah operasi plastik?" tanya gadis itu.
Didi mengeryit bingung. Apa maksudnya gadis ini berkata demikian. Tapi tunggu operasi plastik.
"Ah .. kau gadis yang waktu itu." Ucap Didi tak percaya.
"Wah kau orang pertama yang mengingatku. Apa kau serius mencintaiku?" tanya gadis itu tangannya bermain nakal membuat pola abstrak di dada Didi yang terbungkus kemeja.
"Sial, sepertinya aku salah sasaran." Gumam Didi dalam hati.
"Baiklah, ayo kita pacaran." Ujar gadis itu.
Arya membelalakkan matanya tak percaya. Mobil Audi R8 nya harus ia relakan untuk Didi.
.
.
.
Rian masih berdiri menatap tanah basah di depannya. Nisan bertuliskan nama Selena Zang terpatri di hadapannya.
"Tugasku telah selesai. Janjiku pada orang tuamu juga sudah ku penuhi. Untuk menjagamu hingga kau menutup mata. Asal kau tau jika dulu aku sungguh mencintaimu setengah mati. Tapi kau membalasnya setengah hati. Dulu aku ingin merajut asa denganmu. Menumbuhkan cinta hingga kita menua bersama. Tapi sepertinya aku yang terlalu berharap lebih pada kisah cinta kita. Beristirahatlah dengan tenang. Putramu berada di tangan yang tepat." Rian meninggalkan gundukan tanah itu tanpa beban. Tinggal satu yang harus dia selesaikan.
.
.
.
__ADS_1
Dian dan Gerry sedang makan siang, Zafrina tertidur di dekat inkubator adik-adiknya. Gadis cilik itu sudah kembali ceria dan Dian sangat bersyukur akan hal itu.
"Mas, aku merindukan Zafa." Kata Dian.Gerry tersenyum mendengar ucapan Dian.
"Sebentar lagi mereka sampai." Kata Gerry melirik istrinya yang sedang lahap memakan makan siangnya.
"Mas, apa mama Santika sudah membaik?" tanya Dian.
"Kata Rian sejauh ini tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ujar Gerry.
"Syukurlah .."
Kedatangan Zafa mampu mengalihkan pembicaraan Gerry dan Dian. Dian menyambut dengan bahagia kedatangan bayi susunya.
"Apa Zafa sudah makan Bi?" tanya Dian.
"Sudah non, eh non saya boleh lihat bayinya non ga?" tanya bi Esih.
"Ya boleh dong bi." Jawab Dian. Ia kembali sibuk menciumi dan berinteraksi dengan Zafa.
.
.
.
Rian kembali keruang rawat ibunya. Nyonya Santika menatap heran putranya. Seperti sedang memikirkan sesuatu putranya terus diam tanpa menyapanya.
"Kamu kenapa Rian?" tanya nyonya Santika penasaran.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Vote, like, dan komen ya guys.
Mau lanjut bikin kisah siapa setelah ini. Mau Rian, Arya atau Didi. Atau kalian mau tau kehidupan Veni setelah di Singapura?
__ADS_1