Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 35


__ADS_3

🌼Selamat membaca 🌼


Part ini panas lagi. Bagi yang belum 21+ harap menepi.


Dian keluar dari kamar dengan wajah yang sudah memerah, malu tentu saja. Ketahuan berbuat mesum disiang hari oleh mertuanya.


Selama ini Dian tidak pernah menanyakan dimana keberadaan ayah Gery, bahkan foto keluarga mereka pun tak ada satu pun yang memunculkan sosok wajah ayah dari Gerry.


Dian mendapati sang mertua sedang melamun di bangku taman belakang, Dian Segera merapat duduk di sebelah nyonya Arini.


"Mah.. "


Nyonya Arini buru² menyeka air matanya yang mengalir. Ia lalu tersenyum menghadap Dian. Dian tahu mertuanya sedang menyembunyikan kesedihannya. Mata sembabnya tak dapat membohongi penglihatan Dian.


"Eh.. kamu sudah susui Zafa dan Zafrina?"


"Sudah mah.. Mamah ada apa? kenapa sedih?" tanya Dian, lagi² nyonya Arini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Mamah hanya terlalu bahagia. Mamah sangat bersyukur Gerry sudah menemukan kebahagiaannya." Dian terseyum lembut ke arah mertuanya.


"Mah, Dian juga anak mamah kan? Mamah bisa ceritakan apapun pada Dian. Apa yang mamah rasakan?" Dian mengusap punggung tangan nyonya Arini. Sepertinya ia masih sangat ragu untuk menceritakan semua hal yang ia rasakan saat ini.


Dengan mendesah berat akhirnya nyonya Arini mulai membuka suara.


"Ini tentang papa Gerry, Mantan suami mamah. Kemarin mamah bertemu dengannya di rumah sakit. Kondisinya sangat tidak baik. Tapi mama takut jika mama membantunya Gerry akan membenci mama."


"Kenapa mas Gerry membenci papa mertua mah?" Dian masih belum paham dengan cerita nyonya Arini.

__ADS_1


"Dulu saat Gerry berusia 12 tahun, Gerry memergoki papanya sedang bersama wanita lain. Entah apa yang Gerry lihat, tapi kemarahannya membuat mama tahu, bahwa apa yang dilihatnya mungkin sangat menyakiti hatinya. Gerry memaksa mama meninggalkan rumah yang sudah belasan tahun kami tinggali. Bahkan Gerry memaksa mama untuk berpisah dengan papanya." Sejenak nyonya Arini menghela nafasnya. Rasanya begitu sesak mengingat waktu itu.


"Lalu mama menuruti kemauan mas Gerry?"


Nyonya Arini mengangguk. "Bagi mamah Gerry adalah separuh nafas dan nyawa mama. Perjuangan mama untuk bisa mendapatkan Gerry juga tidak mudah. Tanpa sepengetahuan Gerry, mama mencoba mencari tahu. Mama membayar orang untuk mengikuti gerak gerik suami mamah, dan yang membuat mama syok ternyata papa Gerry tak hanya berselingkuh. Tapi dia benar² menduakan mama, karena ternyata papa Gerry menikahi sekertarisnya dan memiliki seorang anak berusia 6 tahun waktu itu. Mamah akhirnya membulatkan tekat untuk mengurus perceraian kami. Dan hak asuh Gerry jatuh ke tangan mama karena Gerry sendiri yang mengajukan permohonan. Waktu itu mama memanfaatkan uang peninggalan kakek Gerry untuk membuka usaha. Begitu pun dengan Gerry, ia belajar menjadi dewasa di usianya yang masih muda."


"Apa mama membenci suami mama?" tanya Dian lagi. Nyonya Arini menggeleng lemah.


"Bagaimana bisa mama membencinya, dia pria pertama yang membuat mama jatuh hati. Meski penghianatan yang dia lakukan sangat menyakiti mama tapi mama tidak bisa membencinya."


Dian merasa salut dengan kebesaran hati ibu mertuanya. Ia pun langsung memeluk tubuh mertuanya mengusap lembut punggung mertuanya itu.


"Dian, akan cari cara biar mas Gerry mau memaafkan papa." Ujar Dian, tapi nyonya Arini menggelengkan kepalanya kuat.


"Jangan, mama tidak ingin Gerry juga membencimu. Biar mama sendiri yang urus masalah ini kau cukup fokus mengurus Gerry dan anak²mu." Nyonya Arini tersenyum melihat ketulusan menantunya.


"Mah, bisakah aku meminta nomor Tante Clara, sepertinya Dian ingin membuka kafe seperti rencana awal."


"Iya mah, tadi Dian sudah bicara sama mas Gerry. Dan mas Gerry mengijinkan asal perhatian Dian untuk anak² dan mas Gerry tidak berkurang. Dian rasa Dian mampu membagi waktu." Ujar Dian, lalu nyonya Arini mulai menghubungi sahabatnya Clara untuk membuat janji temu sore ini di restoran milik resto milik Clara.


Dian kembali ke kamar, lalu mengunci pintunya. Gerry meliriknya dengan tatapan kesal. Hasratnya belum tersalurkan dengan benar.


Dengan malu² Dian mendekat, duduk di pangkuan Gerry. Tangan Dian langsung melingkar di leher Gerry, pria itu dibuat menegang karena ulah istrinya barusan.


Dian berencana menyenangkan hati Gerry agar diijinkan bertemu dengan tante Clara dan Didi.


Dian menatap mata Gerry dengan tatapan penuh hasrat. Dengan gerakan sedikit sensual Dian menciumi wajah Gerry, dari kening turun ke mata, lalu Dian beralih mencium pipi Gerry dan melu*mat bibir Gerry yang seksi.

__ADS_1


Gerry hanya diam, melihat sejauh mana istrinya mampu menyenangkan hatinya. Bahkan pusakanya sudah meronta untuk segera di masukkan ke wadahnya.


Dian merasakan di bawah sana pusaka Gerry sudah mengeras. Wajah Dian sampai bersemu merah membayangkannya.


"Apa kau sedang berpikir mesum sayang?" tanya Gerry dengan suara bergetar dan parau. Sungguh hasratnya ingin segera dituntaskan.


Dian turun dari pangkuan Gerry dan memberi senyum nakal pada suaminya itu. Dengan menggigit bibir bawahnya, Dian mulai melucuti pakaiannya. Kini hanya tinggal dalaman berwarna merah maroon yang membungkus tubuh Dian. Dian pun mendekati Gerry, ia menunduk dan mencoba menurunkan celana suaminya dengan wajah yang sudah sangat memerah. Demi rencananya ia akan lakukan apapun.


Gerry hanya menatap Dian dengan tatapan yang dipenuhi kabut gairah.


Pusaka Gerry sudah berdiri menjulang, Dian sempat kesusahan menelan salivanya melihat betapa perkasanya milik suaminya itu.


Dian berjongkok dan mulai meng*ulum pusaka Gerry. Pria itu seketika memejamkan mata merasakan nikmat yang tiba² menyergapnya.


"Aargh.. sayang!" Gerry menggeram saat Dian sedikit menji*lati ujungnya layaknya anak kecil yang menikmati eskrim.


Dengan gerakan bertempo cepat tangan dan bibir Dian bergerak terus memberikan servis pada pusaka Gerry, membuat Gerry semakin tak kuasa merasakan desakan yang memuncak. Gerry mencengkeram rambut Dian dan menekan kepala Dian agar lebih dalam lagi hingga dirasakan Dian, pusaka Gerry berdenyut hebat di dalam mulutnya.


"Aaahh... " Gerry baru kali ini merasakan sensasi kenikmatan dari perbuatan Dian.


Dian menyeka mulutnya. Lalu ia berdiri dihadapan Gerry, Melepas kain terakhir yang melekat di tubuhnya. Dian memegang pusaka Gerry yang masih on lalu mulai menenggelamkannya di dasar lembah kenikmatannya. Lagi² Gerry hanya mendesah tanpa ada niatan bergerak.


Dian mulai bergerak di atas pangkuan Gerry. Dengan tatapan mata yang tak sedetik pun lepas dari wajah Gerry begitupun sebaliknya.


Gerry menatap wajah istri mungilnya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Gerry mulai me*lu*mat bibir Dian dengan rakus. Tangannya terus mere*mas kedua gundukan dada Dian, bahkan kini bibir Gerry sudah beralih menghisap ujung buah da*danya. Hingga tubuh Dian menggelinjang merasakan semua otot bagian bawahnya menegang. Gerry menikmati wajah Dian yang dilanda kli*maks lalu dengan gerakan cepat pria itu membalik posisi membuat Dian ada diantara kukungannya.


Keduanya asik mereguk kenikmatan dunia yang tiada duanya. Hingga tubuh keduanya sama² terbaring tak bertenaga. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir Dian dan Gerry. Keduanya saling berpelukan dan tertidur.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Mungkin besok otor ga up dulu. Mau fokus revisi sekalian menyelesaikan novel othor yang "Pernikahan kedua Gracia" Yang sempat terbengkalai karena mendadak blank ga ada ide muncul. Harap bersabar ya.


__ADS_2