
********
Wajah Arsen berubah kelam setelah apa yang Ara lakukan kepadanya. Setelah saling bercumbu dan memagut penuh hasrat, istrinya malah kembali mengingatkan jika dirinya masih dalam keadaan menstruasi. Arsen menjadi kesal lalu berlalu masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai meredam hasratnya di kamar mandi, Arsen keluar hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Ara menatapnya dengan senyum menggoda namun perhatian keduanya teralihkan saat ponsel Arsen berbunyi.
"Ada apa Billy .. " Tanya Arsen begitu melihat nama si pemanggil.
"Maaf tuan, tapi ada sesuatu yang mendesak yang harus saya katakan." Ujar Billy, dan dari suaranya memang jelas terdengar jika pria itu sedang cemas.
"Katakan .. "
"Wanda ada di kantor tuan, saat ini dia di Roof Top dia mengancam akan bunuh diri jika tuan tidak menemuinya. Keamanan sudah bergerak dan saya sudah menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Bisakah tuan datang kemari."
"Baiklah aku akan kesana. Tunggu aku .. !"
Arsen menutup teleponnya dan mengusap wajahnya kasar. Wanita itu benar-benar sudah membuat hidupnya tak tenang.
"Ada apa Aa?" Ara ternyata Arsen menerima telepon dari Billy tadi. Namun gadis itu memilih menunggu Arsen menyelesaikan panggilan telepon itu.
"Aku harus segera ke kantor Ra .. " Ujar Arsen seraya mengambil kaos dari lemari.
"Memang ada apa?"
"Wanda .. " Ucap Arsen tanpa penjelasan lagi. Dan itu membuat Ara salah sangka.
"Oh .. "
"Eh maksudku .. "
"Ga apa-apa Aa pergi saja." Ara segera berlalu dari hadapan Arsen begitu mendengar nama wanita itu disebut.
Arsen langsung menarik tangan Ara hingga tubuh Ara membentur dada bidang Arsen. Sontak saja Ara membulatkan matanya karena bathrobenya tersingkap namun Arsen saat ini tidak bisa berpikir mesum karena hanya satu yang saat ini ada dalam pikirannya.
"Jangan berpikiran macam-macam percayalah hanya kamu satu-satunya wanita yang berkuasa di hati dan hidupku. Wanda ada di kantor sekarang dan mengancam akan bunuh diri." Kata Arsen, Ara menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut.
__ADS_1
"Kalo gitu Ara Ikut A' .. "
"Ga kamu di rumah saja. Aku ga mau kamu kenapa-kenapa Ra."
"Tapi aku lebih khawatir dia bakalan ngapa-ngapain Aa. Udah percaya sama Ara, Ara bisa jaga diri." Gadis bukan perawan itu langsung mengambil baju ganti dan segera memakainya dengan cepat.
"Ayo Aa .. "
Arsen dibuat terkesan dengan gerakan taktis istrinya itu. Ia segera memakai celana dan keduanya keluar dari rumah.
.
.
.
Setelah beberapa menit mereka tiba. Dan polisi sudah berjaga-jaga di bawah dengan menyediakan safety net. Ara dan Arsen masuk setelah mengatakan siapa dirinya.
Mata Arsen menyala penuh kemarahan pada Wanda. Wanita itu tersenyum saat melihat kedatangan Arsen namun senyum itu hanya bertahan sesaat karena matanya menatap Ara ikut di belakang Arsen.
"Apa yang kau lakukan? apa kau sudah gila ha ..?" Geram Arsen menghardik Wanda. Namun wanita itu justru tertawa melihat kemarahan Arsen.
"Sudahi kebodohanmu itu Wanda. Jangan sekali-sekali menguji kesabaranku." Ujar Arsen.
"Kenapa kau lebih memilih wanita itu daripada aku? aku lebih segalanya dibandingkan wanita itu."
"Tapi sayangnya hatiku tidak bisa dipaksakan Wanda. Dan dia adalah pemilik mutlak hatiku." Ujar Arsen mendekap tubuh Ara.
Wanda terlihat kecewa. Dia berdiri di pinggiran terali besi dan memunggungi semua yang ada di roof top.
"Baiklah jika itu pilihanmu. Maka jangan salahkan aku jika sampai mati aku akan tetap menghantuimu dengan perasaanku. Ujar Wanda. Saat Wanda hendak menjatuhkan diri tanpa di duga Ara bergerak cepat dan menarik tubuh Wanda. Namun karena tubuh Wanda dan posisinya yang sudah condong justru membuat tubuh Wanda terpelanting dan jatuh menimpa tubuh Ara dengan keras. Arsen membelalakan matanya. Nafasnya terasa tercekat karena Ara sama sekali tidak bergerak. Sedangkan Wanda tampak meringis kesakitan.
Billy segera menarik Wanda dan mengikat tangan wanita itu. Arsen berlari menghampiri Ara wajah gadis itu pucat seakan tak teraliri darah. Wanda tertawa keras melihat Ara tak kunjung membuka matanya.
"Rasakan kau jala_ng mam_pus saja sekalian." Ujar Wanda. Dua polisi naik bersama dua petugas kesehatan yang memang disediakan oleh Billy. Kedua polisi itu membekuk Wanda, sedang petugas kesehatan itu mulai membuka tandu dan memasang penyangga leher untuk Ara dengan hati-hati. Arsen hanya menatap nanar lantai dimana Ara tak sadarkan diri karena ada darah yang tercecer disana.
__ADS_1
"Tuan, apa anda tidak ingin segera mengetahui kondisi nona Ara?" Ujar Billy melihat Arsen hanya berdiri tertegun.
Arsen menatap Billy sejenak lalu dia segera berlari bergegas menyusul tim medis yang membawa Arsen. Jantung Arsen terasa di pompa begitu cepat saat Ara di bawa naik ke mobil ambulans. Arsen ikut masuk tak lama ambulans meninggalkan pelataran perusahaan Arstech milik Arsen.
Mata Arsen tak lepas menatap semua yang para medis lakukan pada istrinya itu. Dari memasang infus dan selang oksigen, Wajah Arsen benar-benar pucat membayangkan apa yang terjadi pada Ara.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Arsen pada seorang Dokter yang sedang memasang alat pendeteksi denyut jantung.
"Semoga saja tuan. Pendarahan di kepalanya sudah berhasil kami hentikan. Semoga saja tidak ada luka serius lainnya." Kata dokter itu.
.
.
.
Menanti detik demi detik waktu yang berjalan terasa sangat lambat bagi Arsen. Dia bahkan tak peduli dengan dirinya sendiri. Yang ada hanya rasa sesal yang mendalam.
Billy yang dari tadi menemani Arsen menyodorkan sebotol air. "Minumlah tuan, sejak tadi anda tidak berpindah tempat. Saya khawatir saat nona sadar justru tuan akan dirawat karena dehidrasi." Arsen melirik asistennya itu lalu menerima botol air mineral yang Billy sodorkan. Arsen menenggaknya tanpa jeda hingga tandas. Lalu kembali menatap pintu ruang operasi yang tak kunjung terbuka.
"Mengapa lama sekali Billy? Rasanya aku ingin mendobrak pintu itu." Ujar Arsen frustasi.
"Tenanglah tuan, saya yakin sebentar lagi semuanya selesai. Dan benar saja tak menunggu waktu lama lampu di ruang operasi padam dan itu artinya dokter telah selesai.
"Bang .. " Seru Arya, dia menjadi salah satu dokter bedah yang ikut menangani operasi Ara karena tim medis tadi berasal dari rumah sakit milik Gerry.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Arsen tanpa menunggu basa basi.
"Operasinya lancar, dan beruntung pembuluh darahnya aman. Gumpalan darah di kepalanya juga berhasil diatasi. Tapi ada yang harus aku kasih tahu bang jika istrimu sadar bantu dia bangun kepercayaan dirinya. karena abang tahu kan operasi di kepala itu artinya sebagian rambut kami hilangkan. Dan aku khawatir nanti dia syok dan ga bisa nerima kondisinya. Dan itu bisa berpengaruh pada proses penyembuhannya.
๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ
Hidup ga melulu soal bahagia ya guys
ada kalanya seperti kehidupan nyata yang namanya takdir tak dapat di cegah. Biarkan cerita mereka mengalir apa adanya dengan konflik konflik yang menjadi bumbu dalam mengarungi bahtera kehidupan.
__ADS_1
Masalah kadang sering tiba-tiba nongol tanpa pemberitahuan. Dan itu juga sering terjadi.
jempolnya jangan lupa kalian tau harus berbuat apa. Giftnya juga othor tungguin. Jangan hujat othor ya.