Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Extra Bab 6


__ADS_3

Aldo dan Veni tiba di bandara Soetta, Nino dan Sasa sudah menunggu kedatangan mereka dari tadi. Perut Sasa yang membulat membuat dirinya tak betah berdiri atau duduk lama-lama. Ia terus merubah posisinya dengan resah.


"Apa kau merasakan kontraksi?" tanya Nino cemas. Meski ini kehamilan kedua Sasa namun selalu saja Nino terlihat sekali begitu mencemaskan istrinya.


"Tidak, aku hanya ingin segera merebahkan tubuhku. Rasanya benar-benar tidak nyaman sayang." Ujar Sasa. Nino mengusap kepala istrinya dengan lembut. Tak lama Aldo dan Veni muncul dari pintu kedatangan. Mereka saling berangkulan. Veni menatap Sasa dengan wajah sendu, selama ini dia mengharapkan kehadiran buah hati ditengah-tengah rumah tangganya bersama Aldo yang berjalan hampir 4 tahun.


"Boleh aku menyentuhnya?" tanya Veni dengan mata berbinar terang. Hati Aldo seperti tersengat aliran listrik melihat wajah Veni. Ia tau betul istrinya begitu mendambakan kehadiran anak.


"Tentu saja boleh, semoga kalian lekas menyusul." Kata Sasa tersenyum hangat. Veni perlahan menyentuh perut bundar Sasa. Ada getaran tersendiri dihatinya. Bahkan merambah ke matanya yang mulai memanas.


Veni segera menarik tangannya dari perut Sasa. "Semoga diberi kelancaran hingga lahiran nanti." Doa Veni.


Akhirnya keempat orang itu segera pergi meninggalkan bandara memecah kemacetan di ibukota.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya. Veni dan Aldo tiba di mansion mewah kakek Kusuma. Kedatangan mereka disambut hangat oleh tuan Hanafi dan nyonya Arimbi.


"Apa kabar sayang?" sapa nyonya Arimbi saat dirinya memeluk Veni.


"Aku baik-baik saja ibu." Jawab Veni. Keduanya mengurai pelukan. Veni lantas menghampiri tuan Hanafi dan mencium punggung tangan ayah angkatnya itu.


"Ayah .." Lirih Veni, matanya berkaca-kaca setiap melihat Hanafi, ia selalu teringat akan kejahatan ayahnya.


Hanafi menepuk perlahan pundak Veni. "Jangan bebani dirimu dengan semua hal yang terjadi dimasa lampau." Ujar tuan Hanafi bijak.


Veni mengangguk ia mengusap air matanya yang sempat terjatuh.


"Dimana kakek?" tanya Veni, wajah nyonya Arimbi dan yang lain seketika berubah sendu.


"Kakek ada di kamarnya kondisinya beberapa hari ini menurun." Kata Nyonya Arimbi dengan wajah bersedih. Veni mendekat dan memeluk Ibu angkatnya itu.


"Aku yakin kakek bukanlah orang yang pantang menyerah." Kata Veni menghibur nyonya Arimbi.


.


.


.


Sementara itu setelah Dian tersadar dari pingsannya, Sekar segera meminta Dian untuk melakukan uji tes alat kehamilan. Awalnya Dian ragu, tapi Sekar kembali meyakinkan Dian agar segera melakukan tes itu. Karena jika terbukti Dian hamil mereka harus benar-benar menjaga kondisi Dian.


Sementara itu Gerry pergi keluar. Rencananya dia akan ke apotek untuk membeli vitamin untuk Dian, lalu mampir ke rumah istri baru Rian. Gerry mendapat bocoran dari Sekar, jika Rian semalam digrebek warga dan dinikahkan. Nasib CEO itu benar-benar malang.


Sesampainya di apotik, Gerry menunjukkan resep dari bidan kampung itu, ia juga membeli susu khusus untuk ibu hamil. Meskipun dirinya masih belum percaya sepenuhnya dengan ucapan bidan itu, tapi untuk berjaga-jaga jika memang prediksi bidan itu benar setidaknya susu itu akan berguna.

__ADS_1


Gerry melajukan motornya menuju rumah Velia. Ia mengetuk pintu rumah Velia. Tak lama muncul seorang wanita muda dengan dandanan menor menyambut Gerry.


"Cari siapa ya tuan?" tanya gadis itu menatap Gerry tanpa berkedip.


"Aku mencari penghuni rumah ini." Jawab Gerry datar.


Rian keluar sambil menggendong Zafrina. Gadis kecil itu berteriak nyaring hingga membuat wajah Rian sedikit menjauh.


"Papa ..." Teriak Zafrina, Gerry tersenyum. Dijah semakin terpesona dengan ketampanan Gerry.


"Hai princess-nya papa. Apa kau senang memiliki mami baru?" tanya Gerry. Zafrina tersenyum dan mengangguk.


Gerry menyerahkan boneka kesayangan Zafrina. "Sayang, main dulu sama mami ya. Papa mau ngomong sama papi Rian dulu." Ujar Gerry lembut.


"Hei kamu, bawa putriku masuk." Perintah Rian pada Dijah. Gadis itu mengangguk lalu menggandeng Zafrina.


Gerry menatap Rian, dengan tatapan seakan-akan menertawakan Rian.


"Wah wah wah, apa jadinya jika aku katakan kepada dunia. Jika seorang keturunan Anggara Al Fares yang begitu disegani menikah karena digrebek warga." Ujar Gerry terkekeh.


"Tutup mulutmu. Kau pikir aku juga tak punya aib mu?" sahut Rian.


"Ya ya ya, terserah kau saja. Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu." Kata Gerry menepuk pundak Rian.


Setelah itu Gerry kembali pulang. Ia merasa tak tenang meninggalkan Dian terlalu lama meskipun ada Sekar yang menjaganya.


"Dian, sayang bagaimana hasilnya?" tanya Sekar tak sabar. Ia ikut berdebar menunggu hasil tes Dian.


Dian keluar dengan menyeret langkahnya. Matanya berkaca-kaca, dia tersenyum lalu memeluk Sekar dengan erat.


"Akhirnya aku hamil lagi ma." Ujar Dian dengan suara bergetar. Tak lama Gerry masuk ke kamar. Ia melihat Dian menangis di pelukan Sekar. Ada perasaan cemas. Apakah hasilnya sesuai harapan dan doanya selama ini.


"Sayang bagaimana?" tanya Gerry seraya meletakkan plastik yang berisi vitamin dan susu untuk Dian.


Dian menoleh lalu berhambur memeluk Gerry. "Akhirnya doa kita selama ini terkabul, sayang." Ujar Dian dengan bahagia. Begitu juga Gerry ia sangat senang mendengarnya.


"Terimakasih Tuhan, kau mengabulkan doa kami." Ucap Gerry lirih.


Disaat suasana bahagia itu ketiga anak mereka mengintip dari depan pintu.


Zayana yang tak tahan dengan rasa penasarannya langsung masuk ke kamar orangtuanya.


"Mama, kenapa mama tersenyum sambil menangis?" tanya Gadis itu. Gerry mengangkat Zayana tinggi-tinggi sambil memutar badan putrinya hingga terkekeh.

__ADS_1


"Stop papa. Ana pusing ..!" teriak gadis itu. Dian merasa kebahagiaan yang ia rasakan sudah lengkap.


Gerry memeluk putrinya lalu menghujani putrinya dengan ciuman bertubi-tubi.


Zayn dan Zafa mendekat pada akhirnya. Mereka memeluk Dian dengan erat. Tanpa tau kebahagiaan apa yang sedang dirasa orangtuanya. Yang mereka tahu mereka ikut senang melihat orangtuanya bahagia.


******


Bonus Visual (maaf kalo Zafa menurut kalian kurang pas. Othor sendiri susah mau kasih gambaran. Anggap aja normal cuma fisiknya lemah)


Gerry Ardana



Dian Ayunda



Zafa



Zafrina



Zayn



Zayana



Zayn dan Zayana



Maafin othor kalo Visual mereka kurang pas. Semoga kalian suka.


Jangan lupa jempol kalian buat karya othor. Hadiah dan Vote juga othor tungguin karena ada hadiah pulsa menanti kalian.


Juara pertama pulsa 50rb

__ADS_1


juara kedua dan ketiga masing² pulsa 25rb


Hadiah akan dibagikan September.


__ADS_2