
***********
Di belahan negara lain. Veni dan Aldo sedang makan pagi bersama kedua orang tua Aldo. Beruntung mereka dengan tangan terbuka mau menerima Veni dengan baik. Bahkan mereka memperlakukan Veni layaknya putri mereka sendiri.
"Sayang, apa ada yang kau inginkan? kenapa mami lihat kamu seperti tidak berselera makan?" Veni hanya menggeleng. Ia memang kehilangan selera makan sejak masalah dengan ibunya kembali mencuat.
"Tidak ada mami, aku hanya merasa tidak nyaman dengan perutku."
"Apa kau merasa tidak enak? apa sebaiknya kita kerumah sakit saja Aldo, mami takut istrimu kenapa-kenapa." Ujar Mami Vini. Entah mengapa melihat ibu Aldo mencemaskan dirinya membuat Veni menangis hingga terisak. Mami Veni yang tak tega dengan menantunya mendekat dan mendekap Veni.
"Kenapa kalian bersikap baik padaku? Kenapa harus kalian, kenapa bukan mereka yang memperlakukanku dengan baik? apa aku tidak layak untuk di cintai mami?" Isak Veni. Aldo mendorong kursinya mundur dan bertumpu pada satu lututnya di hadapan Veni, bahkan papinya Aldo terlihat ikut mencemaskan Veni.
"Mami dadaku sakit .. " Lirih Veni.
"Baby dengar kau harus tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan-lahan. Mami Vini masih mendekap Veni dan mengusap punggung Menantunya agar lebih tenang. Sedang Aldo menggenggam jemari Veni dan terus memandu Veni agar mengikuti instruksi nya.
Dengan mata terpejam Veni berulang kali mengatur nafasnya.
" Kita bawa ke rumah sakit saja Do, mami khawatir dia kenapa-kenapa."
"Veni hanya sedang stress mam, mami tenang ya. Aku bawa Veni ke kamar dulu. Nanti aku akan bicara dengan mami." Aldo mengangkat tubuh Veni, Veni bersandar di dada Aldo dengan mata yang terus terpejam.
"Aku udah ga kuat Do," Lirih Veni, Aldo hanya diam. Tiba di kamar, Aldo meletakkan tubuh Veni dengan hati-hati ia juga menyelimuti tubuh istrinya itu.
"Baby ... Katakan aku harus seperti apa lagi agar kau memaafkanku?" bisik Aldo.
"Aku tidak tau, aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Semuanya berputar di atas sini dan membuat kepalaku sakit."
"Ku mohon lepaskan pikiran burukmu. Aku mencintaimu Veni, aku sangat mencintaimu baby. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan buktikan bahwa kau layak di cintai. Kau tau mami dan papi juga sangat menyayangimu. Apa lagi yang kau khawatirkan?"
"Aku takut Do .. "
"Kau hanya perlu membuka matamu, dan lihatlah mataku." Veni membuka mata dan menatap mata Aldo yang teduh menatap nya.
"Aku sungguh tidak ada maksud membuka luka lamamu. Aku hanya ingin kau lepas dari bayang-bayang masa lalu. Bayang-bayang ketakutanmu. Kau sedang hamil saat ini. Jangan ada kebencian sedikitpun dalam hatimu. Kau tau kata nenekku orang hamil tidak boleh membenci seseorang. Karena nanti anakmu akan menjadi pendendam." Ujar Aldo, Veni terkesiap ia menatap Aldo intens seakan mencari keseriusan dari ucapannya.
"Jika kau masih tidak yakin bercerita masalahmu padaku kau bisa mencurahkan keluh kesahmu pada mami." Tutur Aldo, Veni mengangguk lalu Aldo mengecup kening Veni.
__ADS_1
"Istirahatlah, jangan terlalu banyak berpikir!"
.
.
.
Ara terbangun dengan kepala yang terasa berdenyut dan berat. Bahkan ia menggigil kedinginan. Ia tidak pernah tidur di ruangan AC selama ini. Ditambah dalam kondisi telanjang. Meskipun tertutup selimut rasa dinginnya masih begitu menggigit.
Arsen masuk membawa sarapan dan obat untuk Ara. Bangun tadi ia terkejut mendapati suhu tubuh Ara yang tinggi. Ia segera menggedor kamar adiknya dan meminta obat.
"Kamu sudah bangun Ra? Ini kamu sarapan dulu ya setelah itu minum obat dari Arya. Badan kami dari subuh tadi demam." Kata Arsen duduk di sisi ranjang, Ia memangku nampan yang berisi makanan lalu mulai menyuapi Ara.
"Maaf ya Ra, gara-gara semalam kamu malah jadi sakit gini." Ujar Arsen dengan wajah menyesal.
"Ara sakit bukan karena semalem. Tapi Ara ga terbiasa tidur telan_jang di ruangan berAC." Ujar Ara, ia kembali memakan sarapannya disuapi suaminya
"Sama aja Ra .. "
"Terserah Aa deh." Gumam Ara ia segera meminum obat yang Arsen bawa untuknya tadi.
Arsen mendekat dan memakaikan piyama itu ke tubuh Ara. "Ara bisa sendiri A .. " tolak Ara. Namun sepertinya penolakannya tidak mempengaruhi Arsen.
"Aa ga ngantor?" tanya Ara, dibalas gelengan oleh Arsen. Bagaimana dia bisa bekerja sementara pujaan hatinya sedang terbaring lemah seperti ini.
Mama Clara mengetuk pintu. Ia turut mencemaskan kondisi Ara. "Gimana kondisi Ara saat ini?"
"Dia kembali tidur ma sehabis minum obat tadi." Ujar Arsen seraya mengecek kerjaannya dari layar laptopnya.
"Kamu sih Sen, habis kaya gitu jangan langsung buat tidur." Ujar mama Clara.
"Ya namanya orang capek mah." Jawab Arsen tak mau kalah.
"Hiiih .. ada aja jawaban kamu ni." mama Clara langsung keluar dari kamar Arsen. Setelah memastikan sendiri kondisi menantunya.
Arsen hanya terkekeh melihat wajah kesal ibu sambungnya.
__ADS_1
.
.
.
Gerry mengecup pipi Dian sekilas. Ia akan pergi dalam jangka beberapa hari kedepan untuk menyelesaikan kerjaan diluar kota. Wajah Dian terlihat berat melepas kepergian Suaminya.
"Ke Bandungnya besok saja ya yank?" rengek Dian. Gerry mengusap dengan sayang rambut istrinya itu. Ia tak bisa menunda lagi kepergiannya karena ada banyak hal yang harus dia selesaikan.
"Maaf ga bisa yank. Jadwal aku nanti malah bentrok. Aku janji begitu selesai aku akan segera pulang." Bisik Gerry. Namanya ibu hamil jangankan buat ngerti posisi Gerry, yang ada dia justru malah semakin menangis.
"Duh istri aku kok jadi kolokan gini sih?" Gerry mengusap wajah Dian yang penuh dengan air mata.
"Aku ikut kamu ya mas." Kembali rengekan kedua Dian mulai keluar. Gerry harus extra perhatian pada istrinya itu.
"Kamu pasti nanti bosan disana Sayang."
"Bilang aja mas ga mau ajakin Dian. Karena sekarang aku gemuk iya? mas malu ngajak aku keluar?"
Dian langsung berbalik meninggalkan Gerry yang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Dian yang kadang-kadang terlihat seperti anak kecil.
Sigit hanya menyaksikan drama rumah tangga Gerry dengan alis bertaut. Baru kali ini ia melihat seorang Gerry memohon- mohon seperti itu. Ternyata cinta mampu merubah segalanya.
Gerry menyusul Dian, wanita itu kembali menangis di kamar sendirian.
"Kamu beneran mau ikut mas?" akhirnya Gerry mengalah demi menjaga emosi Dian agar tetap stabil.
"Iya aku mau ikut mas."
"Baiklah, ganti bajumu dulu. Mas harus ke depan sebentar." Ujar Gerry mencium kening Dian sesaat.
Setelah bersiap-siap Gerry dan Dian berangkat ke Bandung. Meninggalkan putra putrinya dalam pengawasan ibunya.
๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ
Sekian dulu ya gaes besok lagi
__ADS_1
Jangan lupa birukan jempolnya. Giftnya juga othor tungguin