
*******
Malam itu dihabiskan Aldo dan Veni dengan penuh keromantisan. Mereka dinner berdua seraya menikmati hembusan angin pantai yang sejuk. Ditambah Aldo juga menyiapkan kejutan lain yaitu pesta kembang api yang dinyalakan bersamaan, setelah Veni meniup lilin ulangtahunnya.
"Bagaimana? Apakah kau menyukai kejutanku?" Veni hanya bisa terus mengangguk tanpa bisa mengucapkan apapun lagi. Ini ulang tahunnya yang paling berkesan sepanjang hidupnya.
Veni menangkup kedua pipi Aldo lalu mendaratkan ciuman hangat di bibir pria itu. Semua pelayan segera pergi dari tempat itu. Mata Aldo terpejam dan tangannya semakin erat memeluk pinggang Veni.
"Ouh .. kau menekannya!" Ujar Veni saat perutnya mendapatkan tendangan keras. Aldo membuka matanya dan tersenyum karena dia pun merasakan gerakan dari anaknya.
"Aku tidak sabar untuk menantikan kelahirannya." Kata Aldo mengusap perut Veni.
"Bersabarlah masih ada 4 bulan lagi. Dan semoga semuanya baik-baik saja hingga saat dia lahir nanti." Aldo mengangkat tubuh Veni dan membawanya naik ke peraduan mereka malam ini.
"Mau mandi duluan atau mandi bersama?" tanya Aldo setengah menggoda Veni hingga membuat wajah wanita itu merah padam. Veni menggigit bibir bawahnya tanpa sadar membuat hasrat Aldo semakin terpancing.
"Ehm .. aku mau dimandikan." Lirih Veni malu-malu.
"Sesuai keinginanmu nyonya." Aldo tersenyum lebar lalu kembali mengangkat tubuh Veni dan membawanya masuk ke kamar mandi yang terlihat minimalis tapi elegan
Aldo mendudukkan Veni di kursi dan mengisi bathtub dengan air hangat karena waktu sudah terlalu malam. Ia juga tau kondisi istrinya yang sedang hamil pasti tak nyaman memakai baju yang sama terlalu lama. Setelah menuang beberapa tetes aroma terapi di dalam busa air yang mengembang Aldo membantu melepas dress yang Veni kenakan.
Veni menahan nafas saat kulit tangan Aldo menyentuh kulitnya yang exotis. Tiba-tiba saja rasanya seperti sesuatu membakar tubuhnya. Terasa panas dan dingin. Aldo meneguk salivanya saat di hadapannya terpampang tubuh polos Veni dengan perut membuncit yang meninggalkan kesan seksi. Aldo mengusap perut Veni yang sudah tak terbungkus sehelai benang pun. Lenguhan lirih terdengar merdu seakan menggapai titik pusat tubuh Aldo yang seketika itu menegang.
"Touch me baby .. " Gumam Veni lirih dan mendayu menggelitik sanubari Aldo.
Aldo mulai menanggalkan satu per satu kain yang membalut tubuh atletis nya. Dia menyentuh kan bibirnya di perut Veni. Hingga membuat tubuh Veni menegang.
"Kita mandi dulu, airnya keburu dingin." Bisik Aldo, Veni mengalungkan tangannya di leher kokoh Aldo, sudah kepalang tanggung hasratnya menuntut untuk di tuntaskan.
__ADS_1
"I want you now baby .. " Bisik Veni, dan tanpa aba-aba gadis itu menghi_sap dan menggigit leher Aldo hingga pria itu mengerang di serbu gairah yang melonjak tinggi.
Tangan Aldo melingkar di pinggang Veni saat Veni terus saja memberikan rang_sangan di sekitar leher dan dadanya. Aldo yang sudah tidak tahan langsung membalikkan tubuh Veni hingga membelakanginya lalu menerjang tubuh Veni dari belakang. Hingga tubuh Veni melengkung merasakan inti tubuh Aldo terbenam seluruhnya di lembah kenikmatan miliknya.
Dengan gerakan lembut Aldo mulai bergerak bertumpu pada pundak Veni. Bibirnya tak henti-henti menyusuri lekuk tubuh Veni dari belakang.
"Aarghh .. sshh faster baby." Desis Veni, Aldo pun bergerak lebih cepat hingga akhirnya tubuh keduanya menegang dan bergetar bersamaan.
Aldo mengeringkan keringat Veni menggunakan handuk kecil, lalu setelah itu ia mengangkat tubuh Veni dan memasukkan tubuh Veni kedalam bathtub.
Keduanya langsung membersihkan diri, dan setelah itu Aldo memakaikan baju tidur untuk Veni dan ia pun sudah siap dengan piyamanya. Keduanya langsung terlelap dengan saling berpelukan.
.
.
.
Saat dia keluar dari kamar mandi Arsen terpaku menatap dirinya. Wajah Arsen tampak lucu mengerjap hebat.
"Ada apa A' wajah Ara aneh ya pake hijab?"
"Cantik .. " Hanya itu kata yang keluar dari bibir Arsen karena selebihnya Arsen masih terus menatap wajah Ara penuh dengan kekaguman.
"Aa .. " Ara mengguncang bahu Arsen dengan kuat karena pria itu terlihat melamun.
"Eh iya Ra .. Maaf ya Ra, sumpah kamu cantik banget Ra." Ujar Arsen menyentuh wajah sangat istri yang terlihat lebih bercahaya. Wajah Ara seketika bersemu merah mendengar pujian Arsen.
"Aa buruan mandi .. Ujar Ara mendorong tubuh Arsen. Pria berlesung pipi itu terkekeh melihat istrinya yang salah tingkah. Sudah 5 hari Ara dirawat dan sekarang mereka siap untuk pulang.
Tak lama setelah itu Arsen mendorong masuk sebuah kursi roda.
__ADS_1
"Buat apa Aa?"
"Buat kamu dong Ra masak buat aku." Ujar Arsen.
"Tapi Ara beneran udah ga apa-apa A." Tolak Ara, namun alis Arsen langsung bertaut tajam.
"Jangan membantahku Ra ..! ini semua demi kebaikan kamu." Mau tak mau akhirnya Ara menuruti maunya Arsen setelah dokter memberikan penjelasan tentang kondisinya. Ara berpikir mungkin Arsen masih trauma dengan kejadian tempo hari. Bahkan sampai sekarang Ara tak berani menanyakan perihal Wanda pada Arsen.
Saat mobil Arsen memasuki pelataran rumahnya anak-anakku panti semua menghambur mendekat padahal Arsen belum juga membuka pintu mobil untuk Ara.
"Kak Ara .. " Seru anak-anak itu. Ara membuka pintunya dan tersenyum hangat pada mereka.
"Wah kak Ara sekarang makin cantik." Seru Ayu.
"Iya kak Ara cantik banget deh .. " Seru yang lainnya. Arsen merangkul pundak Ara dan membawanya masuk. Tanpa di duga mama Clara dan yang lain sudah ada di dalam rumah itu untuk menyambut kedatangannya.
"Subhanallah .. bidadari dari mana ini?" Goda Arya yang berhasil mendapat pelototan dari Arsen. Bahkan Nayla sudah melayangkan cubitan di perut dokter itu.
"Hehehehe ... sekali-sekali dibercandain ga apa-apa kan Ra, masak muka lurus-lurus aja kaya jalan tol." Ujar Arya melirik Arsen.
Mama Clara langsung menyambut menantunya dan mengajak duduk di sofa. Sedangkan anak-anak panti yang tadi mengikuti Ara duduk di atas karpet.
"Kenapa Aa Didi dan Selin ga ikut ma?" tanya Ara karena beberapa kali memang hanya keluarga Didi yang sering tak nampak ikut bergabung.
"Oh mereka ada urusan. Orang tua Selin datang berkunjung makanya mereka tidak bisa hadir." Kata mama Clara.
Wajah Ara mendadak sendu setiap ada yang membahas soal orang tua pada Ara. Arsen langsung menarik Ara agar bersandar pada dadanya.
"Orang tuaku adalah orang tuamu juga sayang." Bisik Arsen. Ara tersenyum getir lalu. mengangguk.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1