
*********
Setelah pria tua itu pergi, Ibu Veni menghubungi seseorang.
"Bisakah kau menghubungi Hanafi. Katakan padanya jika nyawa Veni dalam bahaya. Bukan kah kau sudah berjanji akan membantuku. Waktuku tidak banyak. Jika dalam waktu satu bulan aku tidak bisa membawa Veni mungkin dia akan langsung menghabisiku."
" ....... "
"Aku tidak bisa menemuinya anak buah martinus sangat banyak mereka bisa saja sewaktu-waktu membuntutiku. Aku hanya perlu berakting sedikit lagi. Jika aku memiliki kesempatan aku akan melenyapkannya." Kali ini suara ibu Veni sedikit mendesis. Tapi Aldo dapat mendengar semuanya.
Ibu Veni langsung menutup sambungan teleponnya. Wanita paruh baya itu terisak lirih.
"Maafkan ibu Veni. Ibu yang sudah membuat kamu dalam bahaya. Karena keserakahan ibu, kamu harus menanggung buah dari perbuatan ibu dan ayah dulu." Wanita itu mengusap air matanya lalu pergi. Dan Aldo terus mengikutinya.
Hingga sampai disudut gang sempit wanita itu seperti masuk kedalam pintu kontrakan. Aldo memberanikan diri menemui Ibu dari Veni. Ia mengetuk pintu sesaat setelah wanita itu masuk rumah.
"Siapa ..?" Wanita itu membuka pintu dan menatap Aldo dengan wajah bingung.
Aldo menatap wajah sembab wanita itu. Ia semakin yakin dengan dugaannya.
"Anda siapa?" Tanya Ibu Veni itu.
"Aku menantu anda, suami dari Veni." Ujar Pria itu, wajah Maria ibu Veni langsung pucat. Ia mundur 3 langkah dan ingin menutup pintu kontrakannya. Namun berhasil di tahan oleh Aldo.
"Pergilah, jangan temui aku lagi ...!! Anggap saja kita tidak pernah bertemu." Ujar Maria dengan ketakutan. Bukan karena apa-apa ia takut anak buah Martinus akan mengikuti dirinya dan mencari tahu keberadaan Veni.
"Kemasi barang anda secepatnya. Kita pergi dari sini." Maria terlihat bingung tapi dia langsung meraih tas jinjingnya dan memasukkan semua baju dan perlengkapan. Ia sendiri pun saat ini sedang memikirkan cara untuk kabur dari Martinus. Pria yang tergila gila pada putri semata wayangnya. Tinggalkan ponsel anda.
"Memang kenapa?"
"Sudah tinggalkan saja. Catat nomor yang perlu Lalu atur ulang ke pengaturan awal."
"Tapi aku tidak tau caranya, karena ini pemberian Martinus."
"Anda sudah mencatat nomor yang penting?" Maria mengangguk. Lalu Aldo tampak mengotak atik ponsel itu sesaat lalu membantingnya dengan keras hingga ponsel itu hancur. Maria memandang dengan wajah yang semakin pucat. Orang seperti apa suami dari putrinya itu? Namun karena sudah kepalang tanggung Maria tetap mengikuti langkah Aldo. Mereka meninggalkan kontrakan Maria dengan mobil milik Aldo yang terparkir di ujung gang.
__ADS_1
.
.
.
Di kediaman keluarga Arman, Kini Arsen dan Ara sedang berada di hadapan kedua orang tua Arsen.
"Gimana Sen?" Tanya papa Arman.
"Seminggu lagi pah. Aku dan Ara sepakat acaranya hanya sederhana saja." Kata Arsen. Alis papa Arman berkerut tak mengerti.
"Ara merasa tidak perlu membuang uang untuk hal-hal yang sifatnya berfoya-foya. Dia bilang ingin menikah secara sederhana dan disaksikan oleh anak-anak asuhnya." Ujar Arsen.
"Tapi kau merupakan wajah perusahaan apa kata orang-orang jika kau menikah tanpa diketahui publik?" Ujar papa Arman.
Arsen menatap Ara sejenak. "Apa kamu keberatan jika resepsi kita adakan terbuka untuk pers? Lagipula aku yakin keluarga dari Istri Gerry pasti mau menjadi walimu." Ara mengangguk. Bagaimanapun memang keluarga Arsen akan banyak menuai sorotan publik dia memilih menggalah.
"Nanti aku akan katakan pada teh Dian dulu. Karena keluarga mereka pun masih dalam suasana berkabung." Ujar Ara.
"Arsen setuju ma. Lagipula sebentar lagi Ara skripsi kalau waktunya terlalu berdekatan aku takut nanti dia kecapekan." Papa dan mama Arsen mengangguk setuju.
"Kau menginginkan mas kawin apa dari Arsen sayang?" --- mama Clara.
"Se dikasihnya aja ma. Ara terserah aa mau ngasih apa." jawab Ara.
Setelah pembicaraan serius itu papa Arman dan mama Clara harus pergi menemui kolega papa Arman. Tinggallah kedua insan itu yang masih duduk bersandar di sandaran sofa.
"Ra aku tanya serius. Kamu mau mas kawin apa?"
"Aku ga tau A'. Aa mau kasih Ara apa?"
"Aku akan kasih seluruh jiwa dan ragaku buat kamu aja Ra." Kata Arsen menatap teduh wajah Ara yang memerah. Gadis itu tampak mengulum senyum lalu memukul lengan Arsen.
"Dasar Aa makin kesini makin pandai ngegombal."
__ADS_1
"Aku serius Ra .. sepertinya kamu pakai jampe-jampe ya. Makin kesini aku makin ga bisa jauh dari kamu." Desis Arsen seraya membelai wajah Ara.
Ara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahkan semburat merah wajah gadis itu menyebar hingga telinga. Ini kali pertama ia digombalin oleh pria. Dan pernyataan Arsen berhasil membuat kerja jantung Ara meningkat.
"Udah ah aku mau kembali ke kamar aja." Ara berdiri hendak meninggalkan Arsen namun Arsen menarik tangan Ara, karena gadis itu belum berpijak dengan benar tubuhnya jatuh menimpa tepat diatas tubuh Arsen.
Arsen melempar senyum termanisnya, hingga lesung pipinya langsung terlihat. Keduanya saling menatap dalam diam. Hanya suara detak jantung keduanya yang seakan seirama bertalu bersamaan.
Arsen membelai wajah Ara. Ia menarik tengkuk gadis itu dan memagut bibir tipis Ara. Ara hanya memejamkan matanya. Jantungnya sepertinya akan lepas dari tempatnya. Ciuman pertamanya dicuri oleh Arsen tanpa bisa ia melawan. Seakan ia pun menginginkannya.
"Woi ke kamar sono bang .." Gerutu Arya yang tak sengaja melihat adegan itu. Ia masuk ruang keluarga untuk mencari mamanya namun justru mendapatkan pemandangan yang membuat dirinya meremang dengan kelakuan ABG tua seperti kakaknya itu. Ara terkejut mendengar suara Arya, reflek ia berdiri dengan wajah yang merah padam dia meninggalkan ruang itu dengan menunduk bahkan saat berpapasan dengan Arya, Ara tak berani menatap dokter tampan itu.
"Parah banget sih bang. Dia masih polos main serang aja." Ujar Arya.
"Kaya kamu ga pernah aja."
"Gue pernah bang, tapi gue bawa ke kamar bukannya kaya abang gini. Untung aku yang pergokin abang. Gimana kalo Judy yang lihat bisa-bisa besok abang bakalan jadi tranding topik ghibahnya Judy and genk." Kata Arya.
Arsen hanya terkekeh seraya mengusap tengkuknya.
"Mama mana bang?" tanya Arya duduk di sebelah Arsen.
"Baru aja keluar sama papa. Ada pertemuan kolega katanya." Ujar Arsen, ia mengambil gelas yang ada di hadapannya lalu menenggak isinya hingga tandas.
"Haus apa nerveus bang? aku yakin itu juga ciuman pertama abang." Kata Arya.
"Tau dari mana?"
"Tau lah gerakan abang masih kaku." Ejek Arya. Arsen memukul wajah Arya dengan bantal sofa.
"Dasar adik ga ada akhlak."
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Vote and Gift jangan lupa ye.
__ADS_1