Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 48


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


Gerry tersentak terbangun dari tidurnya, ia terkejut mendapati ranjang Dian sudah kosong. Bahkan selang infus masih tergantung begitu saja. Gerry menatap jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Gerry membuka pintu kamar mandi dan kosong. Hatinya mulai resah. Ia takut Dian pergi meninggalkannya.


Gerry meraih ponselnya mencoba menghubungi Arya, Karena pria itu adalah direktur di rumah sakit ini.


"Kau tau ini jam berapa? ada apa kau menghubungiku? bahkan aku baru saja memejamkan mata." Gumam Arya dengan mata masih setengah terpejam.


"Bantu aku, Dian hilang!" seru Gerry, Arya sampai menjauhkan ponselnya. Matanya langsung melebar.


"Apa ...?"


"Dian hilang, aku tidak tau dia pergi kemana." Ujar Gerry frustasi.


"Tenanglah, coba kau hubungi orang rumah siapa tahu dia pulang." kata Arya mencoba menenangkan teman adiknya itu.


Sementara di kediaman Gerry pun tak kalah heboh, saat pagi ini bi Yuni berencana memanasi Asi untuk Zafa, namun di depan pintu kulkas ada memo yang bertuliskan


...Jaga Zafa untukku ya bi ..!...


Bi Yuni hafal betul dengan tulisan tangan Dian. Dan pengasuh itu semakin terkejut saat box bayi Zafrina kosong.


Dengan tergopoh-gopoh bi Yuni mengetuk pintu kamar nyonya besar dirumah ini.


"Nyah .. buka pintunya! ini penting." Ujar bi Yuni nyaring. Nyonya Arini segera membuka pintu. Dengan masih menguap ia berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ada apa bi, ini masih pagi kenapa ribut?"


"Non muda hilang nyah. Tapi tadi bibi liat ada tulisan tangan nona Dian. Kemarin ga ada tapi ini nyah coba baca."


Mata nyonya Arini terbuka lebar. Rasa kantuknya menghilang. Keterkejutannya teralihkan oleh dering ponsel miliknya, tertera nama sang putra. Tak menunggu lama dia pun mengangkat panggilan itu.


"Mah, apa Dian pulang?" tanya Gerry to the point' begitu panggilannya diangkat ibunya.


"Justru sekarang mamah mau kasih tau kamu, Zafrina hilang, mama yakin Dian membawa Zafrina pergi. Ini semua salah kamu Gerry, mama ga mau tau bawa istrimu balik ke rumah ini. Bagaimana dengan Zafa, dia butuh Dian?"


Gerry mengusap wajahnya kasar, pada akhirnya Dian memilih pergi meninggalkan dirinya.


Gerry terduduk lemas, ia segera menghubungi Sigit untuk mencari keberadaan Dian. Jika perlu Gerry meminta Sigit meretas semua CCtv yang ada di seluruh kota. Untuk mencari keberadaan istrinya.


Gerry kembali ke rumah dengan raut wajah yang sudah membeku. Auranya benar benar dingin. Menghilangnya Dian membuat emosi pria ini tak terkontrol.


Saat masuk ke rumah terdengar suara tangisan Zafa. Gerry memejamkan matanya, menghirup udara sedalam-dalamnya. Ia segera menghampiri putranya.


"Ada apa ini bi?"


"Ini tuan den muda ga mau minum ASI dari botol." Ujar bi Yuni gemetar, baru kali ini wajah Gerry terlihat begitu menakutkan.


"Berikan padaku." ucap Gerry singkat.


Bi Yuni langsung menyerahkan Zafa pada Gerry, Pria itu memberi isyarat tangan agar bi Yuni pergi meninggalkan keduanya.

__ADS_1


"Sayang, sementara Zafa minum ASInya dari botol ini dulu ya. Ayah akan berusaha mencari ibu kemanapun. Zafa harus jadi anak yang baik agar ibu cepat kembali." Ujar Gerry dengan suara parau menahan segala gejolak perasaan yang mendera. Dengan hati² Gerry mulai memberikan botol susu pada Zafa, dan anehnya seolah mengerti suasana hati ayahnya Zafa langsung meminum Asi Dian yang sebelumnya sudah diperah.


Setelah Zafa tertidur pulas Gerry masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya. Saat membuka pintu, kenangan akan keberadaan Dian kembali bermain diingatan Gerry. Dia mencengkeram gagang pintu dengan erat.


Nyonya Arini masuk ke kamar Gerry dengan langkah tergesa.


"Bagaimana Ger, apa ada kabar terbaru tentang Dian?"


Gerry menggeleng lemah, bahkan rekaman CCtv yang mengarah ke lorong Ruang perawatan Dian selama 3hari terakhir menghilang tanpa jejak, padahal bagian maintenance di rumah sakit mengatakan kondisi CCtv yang terpasang sama sekali tak mengalami kerusakan. Gerry yakin ada seorang yang ahli, meretas sistem keamanan rumah sakit. Tapi untuk apa? apakah semua berkaitan dengan hilangnya Dian?


Ponsel Gerry berdering, Sigit menghubunginya lalu Gerry segera mengangkatnya.


Gerry : "Bagaimana?"


Sigit : "Mereka berdua melakukan perjalanan ke luar negri tuan, saya sudah memastikan di bandara. Nama keduanya tercatat Minggu lalu melakukan penerbangan menuju Singapura."


Setelah mendapat laporan dari Sigit, Gerry semakin frustasi. Lalu siapa yang membantu Dian kabur dari rumah sakit. Tidak mungkin dia sendirian, karena kondisinya pun tidak memungkinkan.


Gerry segera ke ruang kontrol CCtv rumahnya, namun sama saja, rekaman dikediamannya itu terpotong hampir satu jam lamanya kisaran waktu pukul satu dini hari tadi. Ia meremas kasar rambutnya, harus kemana dia mencari Dian?


"Rian.. " desis Gerry geram. Pikirannya yang sedang kacau langsung mengarah ke rival bisnis sekaligus mantan suami Dian.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Segini dulu ya gengs emak lagi repot milah² baju buat di sumbangin. nti malam cuz lagi

__ADS_1


__ADS_2