Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 44


__ADS_3

🌼Selamat membaca🌼


Siang ini Dian sedang membuat kue dengan ibu mertuanya hingga terdengar suara deru mobil berhenti di depan pintu. Dian membersihkan tangannya lalu membukakan pintu. Seketika kaki Dian terasa lemas tak bertenaga. Melihat suaminya berdiri bersama mantan istrinya. Hati Dian seperti terhempas dari ketinggian. Ia diam mematung di depan pintu.


Gerry memasang wajah dingin. Namun hatinya sempat merasa sesak melihat Dian yang sepertinya shock melihat kedatangannya bersama Selena.


Nyonya Arini menyusul sang menantu yang tak kunjung masuk bersama tamunya.


"Siapa sayang ..?" Nyonya Arini berdiri dibelakang Dian dengan wajah yang penuh dengan emosi.


"Mah, mas Gerry mengijinkanku bertemu Zafa." Ujar Selena. Nyonya Arini menatap tajam sang anak dengan tatapan kecewa.


"Terserah, silahkan lakukan apapun semaumu. Bukankah Gerry sudah memberimu ijin?" Ucap nyonya Arini dengan ketus. "Ayo sayang ..! kita lanjut bikin kuenya." Nyonya Arini menarik Dian yang masih membeku. Ia sangat kecewa dengan sikap Gerry.


Dian mengikuti langkah ibu mertuanya. Sesaat ia menarik nafas panjang untuk menghilangkan keresahan di hatinya.


"Nak .. maafkan Gerry ya!" Dian tersenyum lembut kepada nyonya Arini. Meski sudut hatinya terluka tapi ia bisa apa?" toh selama ini yang dia tahu pernikahan ini terjadi karena Zafa bukan karena cinta.


"Dia memang berhak bertemu Zafa mah. Mama jangan cemaskan Dian."


Dilain tempat Selena masuk ke dalam kamar Zafa. Dimana disana ada kedua pengasuh yang sedang menjaga Zafa dan Zafrina. Dan keduanya sama-sama terkejut melihat wanita cantik berpakaian seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Bik, kenalkan dia Selena. Ibu kandung Zafa." Ujar Gerry memperkenalkan Selena pada kedua pengasuh yang tampak terbengong itu.


Selena diam saja tanpa berniat mengulurkan tangan untuk bersalaman pada kedua pengasuh itu.


"Berikan Zafa pada saya!!" ujar Selena dengan angkuh.


"Ini nyonya .." Bi Yuni menyerahkan Zafa. Namun mata Selena menatap Zafrina dengan tatapan tak suka.


"Itu bayi istrimu mas?" Jadi kamu menikah dengan janda beranak satu?" Ujar Selena mencemooh. Gerry merasa tidak suka dengan ucapan Selena.


"Jaga mulutmu. Jangan sampai ini menjadi hari terakhir kau melihat Zafa." Ujar Gerry tak terima.


Selena terdiam, ia menatap aneh wajah sang putra. Selena sama sekali tak ada niatan untuk bertemu Zafa, namun anak itu satu satunya alasan yang bisa Selena gunakan agar dia bisa kembali merebut posisinya sebagai istri Gerry.

__ADS_1


Dian datang membawa dua cangkir teh dan camilan, serta kue yang Dian buat dengan mertuanya.


Saat ini Selena duduk di samping Gerry dengan alasan takut salah menggendong Zafa. Dia meminta Gerry membenarkan letak Zafa, hingga mau tak mau tubuh mereka berhimpitan. Dian sedikit terkejut namun ia segera menguasai dirinya.


"Ini mbak silahkan diminum." ucap Dian dengan lembut. Selena pura pura tersenyum dihadapan Dian.


"Terimakasih, dan maaf aku mengunjungi Zafa tanpa meminta ijinmu. Mas Gerry bilang tidak masalah aku kemari melihat Zafa." Kata kata yang mengalun lembut namun dapat meremukan sekeping hati Dian, secara tidak langsung suaminya tidak mengganggap keberadaannya.


"Tidak apa apa mbak, Mbak Selena lebih memiliki hak ketimbang saya yang hanya ibu sambungnya." Ujar Dian, sudut matanya terasa panas. Ia segera berlalu sambil minta bi Esih untuk membawa Zafrina ke bawah.


Gerry tertegun mendengar ucapan Dian, seolah menyatakan dirinya tak memiliki hak apa pun pada Zafa.


"Sayang .." nyonya Arini memegang bahu Dian, Dian yang posisinya duduk, berbalik langung memeluk perut Nyonya Arini dan menumpahkan tangisannya.


Nyonya Arini mengelus puncak kepala Dian. Ia tau rasanya saat suami yang dicintai membawa wanita lain ke hadapannya, apa lagi status Selena adalah mantan istri Gerry, Pasti Dian akan lebih terluka hatinya.


"Dian lelah, Dian ga sanggup Bu." Ujar Dian pada nyonya Arini.


"Bertahanlah sayang. Ibu akan bicara dengan suamimu. Ini tidak bisa dibenarkan." ujar nyonya Arini menenangkan sang menantu.


Setelah puas menangis Dian membawa Zafrina untuk tidur siang di ruang tamu. Gerry dan Selena turun ke bawah, Gerry memerintahkan pelayan untuk menyediakan makan siang untuk mereka. Nyonya Arini sama sekali tak ingin bertegur sapa dengan Selena.


"Mama ga sekalian makan bareng kita?" Ucap Selena.


"Aku bukan mamamu, panggil aku nyonya Arini. Pahami batasanmu dirumah ini." Ujar nyonya Arini datar.


"Mah ..!" tegur Gerry, baru kali ini ibunya berucap kasar seperti itu


"Kamu berani meninggikan suara kamu ke mamah?"


"Bukan begitu mah, Selena itu tamu di rumah kita. Mamah jangan kasar."


"Dia tamumu bukan tamu mama." Nyonya Arini berlalu dari hadapan Gerry dan Selena. Gerry merasa bersalah pada Selena, melihat mata Selena yang sudah berkaca-kaca.


"Maafkan mamah Sel ..!"

__ADS_1


"Iya ga papa mas emang aku yang salah. Mama pantas kecewa sama aku." jawab Selena dengan tersenyum namun dalam hati ia merutuki mantan ibu mertuanya.


Dian melihat interaksi antara Gerry dan Selena dari balik pintu. Apakah aku harus menyerah? Kenapa rasanya sakit sekali Tuhan? batin Dian.


.


..


..


Nino di seret oleh tuan Hanafi dari ruang rawat ayahnya. Entah mengapa hati tuan Hanafi merasa tak tenang sebelum tau kebenaran mengenai keadaan putrinya yang sebenarnya.


"Katakan dimana putriku?" ujar tuan Hanafi.


"Paman tenanglah!! aku akan bawa dia segera menemuimu." Nino mencoba menenangkan pamannya.


"Bagaimana aku bisa tenang? usianya baru 21 tahun tapi apa katamu tadi? dia punya bonus. Apa yang kau maksud putriku menikah dan memiliki anak diusia yang masih belia?"


"Paman, nanti jika paman bertemu dengannya paman akan tau apa yang terjadi nanti."


"Apa kau tidak bisa menjawabnya sekarang?"


Nino menggeleng, tuan Hanafi mendesah berat. Bertahun-tahun ia terpisah dengan putrinya. Bahkan ia dan istrinya mengira jika putrinya telah meninggal.


Ia yakin kehidupan putrinya pasti sangat berat. Semoga saja secepatnya ia bisa bertemu dengan putri yang sangat ia rindukan.


Sementara itu nyonya Arimbi dengan telaten menyuapi ayah mertuanya dengan hati hati.


"Apa selama ini Hanafi memperlakukanmu dengan baik?"


Nyonya Arimbi tersenyum "tentu saja ayah, dia pria terbaik yang pernah kutemui."


"Aku senang, akhirnya kalian mau memaafkanku." Ujar tuan Kusuma.


"Ayah, kami sama sekali tidak menyimpan dendam pada ayah, bahkan terkadang aku sering mendapati mas Hanafi menangis melihat foto keluarga kalian. Aku sudah sering mengatakan untuk mendatangi kalian, tapi mas Hanafi bilang dia takut jika ayah masih marah kepadanya. Bahkan mas Hanafi menangis semalaman di pusara kakak ipar dan ibu mertua hingga jatuh sakit."

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


quote donk, enaknya Dian ma Gerry apa Rian? atau kandidat lain mungkin?


__ADS_2