
⛅ Selamat membaca ⛅
"Tolong lepaskan aku tuan!" teriak Veni, namun pria paruh baya itu masih tampak asik menggerayangi tubuh Veni yang seksi itu.
Viona sengaja memakaikan baju pres bodi agar lekuk tubuh Veni dapat terekspos.
"Aku sudah membayarmu mahal jala*ng. Sekarang puaskan aku!" perintah pria itu. Pria yang lebih layak menjadi ayahnya.
Mengingat nasibnya yang selalu buruk Veni mengepalkan tangannya dengan erat, ia pergi dari kotanya karena tak ingin mendapat perlakuan bejat ayahnya, tapi justru dia disini harus menjadi pemuas nafsu pria hidung belang. Benar benar nasib yang sangat miris.
Veni memejamkan mata dan mengepalkan tangannya saat bibir pria tua itu mengecupi bibir, leher dan dadanya yang sintal. Sungguh Veni sangat ingin menghancurkan wajah pria tua di depannya itu.
Pria tua itu mulai bergerak liar mengeksplor bagian tubuh Veni yang di rasa begitu menggodanya. Bahkan pria itu menuntun tangan Veni untuk mengelus pusakanya yang berdiri tegak di balik celananya.
.
..
...
Gerry tampak terlelap di sisi Dian tanpa sedetikpun melepaskan tubuh istrinya padahal bed yang di tempati Dian tidak terlalu besar. Namun Dian memaksa Gerry untuk bergabung tidur di ranjangnya.
Entah mengapa ia benar-benar tak ingin jauh jauh dari suaminya itu.
Dian terus memandang wajah tampan suaminya, wajah yang begitu putih, bibir yang tidak terlalu tebal dan tidak pula tipis, alis matanya terlihat tegas. Benar benar sempurna.
"Apa aku bisa mempercayai dirimu lagi mas?"
"Kau bisa pegang janjiku. Hanya kau satu-satunya wanita yang bertahta di hatiku Dian."
Dian terbelalak mendengar jawaban Gerry. Ia pikir suaminya sedang tertidur pulas.
Gerry perlahan-lahan membuka matanya, tatapan matanya yang tajam mampu membuat hati Dian bergetar.
"Kau tidak tidur?" tanya Dian mengurangi kegugupan.
"Bagaimana aku bisa tidur jika yang ada di perutmu ini terus menendang tanganku." ujar Gerry. Dian pun hanya tersenyum, memang jika malam aktifitas bayi²ny tampak aktif.
"Apa dia selalu begini setiap malam?" tanya Gerry, penasaran.
"Iya mereka memang selalu aktif jika malam hari." Ujar Dian, alis Gerry bertaut. Apa maksud istrinya dengan kata mereka.
"Mereka ..?" beo Gerry.
"Iya mas, calon anak kita kembar." kata Dian tersenyum manis. Gerry benar benar tak menyangka, istrinya mengandung bayi kembar.
__ADS_1
Gerry berulang kali menciumi puncak kepala Dian, ia benar-benar berjanji dalam hatinya, tak akan lagi menyakiti hati Dian.
"Terimakasih sayang, kau sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku." Ujar Gerry penuh haru.
"Kembali kasih mas."
.
..
...
Siang ini keluarga Kusuma dan tuan Gunawan mengadakan pertemuan. Tuan Kusuma secara langsung menghubungi tuan Gunawan untuk meminang putrinya Sasa.
"Berhenti mondar-mandir seperti itu Nino, kakek pusing melihatmu." Gerutu tuan Kusuma.
"Tapi kakek, kenapa kakek tidak bilang pada Nino dulu jika membuat janji dengan keluarga Sasa." Protes Nino pada kakeknya, pasalnya malam tadi saat mengantar Dian ke rumah sakit. Sasa menghubungi Nino dengan terisak. Ia mengatakan jika ayahnya menjodohkan Sasa dengan cucu tuan Kusuma Prawira. Nino sangat terkejut karena kakeknya bergerak cepat. Namun karena Sasa terus menangis, Nino tidak sempat berkata bahwa itu adalah kakeknya.
"Jika kakek mengatakan padamu, apa kau akan setuju?" tanya kakek Kusuma mencibir.
"Tentu saja tidak." jawab Nino cepat. "Kakek, semua butuh persiapan yang matang. kakek jangan asal seperti ini." lanjut Nino.
"Siapa yang asal, kakek sudah mempersiapkan semuanya jauh sebelum kau memiliki pacar diam diam."
"Sudahlah ayo kita berangkat. Jangan sampai keluarga calon istrimu menunggu terlalu lama.
Dilain tempat Sasa masih menangis tersedu-sedu. Ia sama sekali tak menginginkan perjodohan ini terjadi.
"Pa, Sasa ga mau dijodohkan dengan orang yang Sasa tidak kenal."
"Papa ga mau tau Sasa, siapa cepat dia yang dapat. Papa sudah berulang kali bicara dengan Nino untuk mengikatmu tapi sampai sekarang justru dia menghilang tanpa kabar."
"Nino selalu kasih kabar ke Sasa, dia sedang ada kepentingan lain," bela Sasa.
"Berati kau itu dianggap tidak penting olehnya. Karena dia lebih mementingkan kepentingan dirinya dari pada dirimu."
Selama ini tidak ada yang tau jika Nino adalah cucu tuan Kusuma. Karena sejak kematian ayah Nino, dan juga istri tuan Kusuma. Ia sangat menutup rapat segala informasi tentang keluarganya. Apalagi saat itu ibu Nino sempat masuk rumah sakit jiwa karena depresi, hingga akhirnya meninggal dunia. Maka dari itu tuan Kusuma mengasingkan Nino agar tidak terbayang² dengan kepahitan hidupnya.
.
..
...
Sesampainya di restoran tempat tuan Kusuma membuat janji, Nino ijin ke toilet. Dengan terpaksa tuan Kusuma berjalan masuk sendirian. Ia melihat seorang pria dan gadis yang mungkin seumuran cucu perempuannya. Sedang duduk dengan wajah tegang. Tuan Kusuma melihat wajah sembab gadis itu.
__ADS_1
"Maaf membuat kalian menunggu." Kata tuan Kusuma berdiri di samping meja memegang tongkat kayu yang dilapisi dengan emas..
"Tidak apa apa tuan. Kami juga baru saja sampai." Kata tuan Adi Gunawan sungkan.
"Apakah dia putrimu yang akan kita jodohkan dengan cucuku." tanya tuan Kusuma menelisik wajah Sasa.
Gadis itu hanya menunduk sambil meremas ujung dress yang ia kenakan.
"Ayah aku .." tangan tuan Gunawan memberi isyarat agar Sasa tetap diam.
Sasa memberanikan diri menatap tuan Kusuma. Lalu ia dengan bergetar berkata pada tuan Kusuma.
"Maafkan saya yang lancang ini tuan. Saya tidak ingin menerima perjodohan ini karena saya sudah memiliki pria lain yang saya cintai."
"Sasa .." bentak tuan Gunawan merasa tak enak hati pada Tuan Kusuma. "Maafkan putri saya tuan Kusuma." sambungnya berbicara pada calon besannya.
"Tidak apa apa saya maklum." Jawab tuan Kusuma. Ia sudah mantap dan yakin untuk meminang gadis itu untuk cucunya.
Nino berjalan santai memasuki ruang VIP yang telah kakeknya pesan.
"Maaf membuat kalian menunggu." Kata Nino sembari menebar senyum pada pujaan hatinya.
"Sayang .." Sasa langsung menghambur memeluk Nino, Selama ini memang mereka sering bertemu tanpa sepengetahuan ayah Sasa.
"Kau ..!"
"Perkenalkan tuan Adi Gunawan, Dia adalah Gionino Ataraska cucuku, anak semata wayang Husein." Kata tuan Kusuma.
Tuan Adi Gunawan terkejut mengetahui fakta ini. Dirinya begitu tak menyangka, cinta anaknya bak gayung bersambut di keluarga Kusuma.
"Dan ini adalah putri semata wayang saya Larissa Gunawan. Maafkan atas kelancangan putri saya."
Tuan Kusuma terkekeh mengingat kelakuan calon cucu mantunya itu.
"Tidak apa apa tuan Gunawan. Darah muda memang selalu menggebu dan tak sabar."
Akhirnya kedua keluarga itu mulai makan siang dengan keakraban yang begitu cepat terjalin.
"Kita resmikan saja hubungan keduanya. Seminggu lagi kita adakan pertunangan mereka dan seminggu setelahnya kita langsungkan pernikahannya. Bagaimana?" Ucap tuan Kusuma, selepas makan siang.
Nino dan Sasa hanya mampu saling pandang dengan binar bahagia, mendengar keputusan kakek Nino.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Othor mau ngebut biar bisa cepet nyelesaiin karya othor ini, dan segera kebut revisi karya othor yang lain yang Hiatus berabad abad.
__ADS_1