Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Kamu Ga Apa-apa Ra?


__ADS_3

*********


Veni membuka matanya, ia melihat sekeliling yang terasa asing baginya. pergelangan tangannya juga terasa kebas. Ia melihat selang infus tergantung di sampingnya. Aldo tertidur di kursi tunggu di sebelah brankarnya.


"Ba-by .. " Lirih Veni menyentuh kepala Aldo, pria itu seketika menegakkan badannya dan membuka mata.


"Kau sudah sadar .. syukurlah." Ujar Aldo terlihat lega.


"Aku haus .. "


Aldo langsung meraih gelas air dan memberi sedotan lalu menyodorkannya di depan Veni. Veni menghabiskan seluruh isi air dalam gelas itu.


"Aku kenapa?"


"Kau pingsan dari kemarin .. kata dokter kau terlalu banyak pikiran." Ujar Aldo ---- "Baby, aku .. "


"Berhentilah mengucapkan kata maaf. Kau tidak bersalah." Ujar Veni, ia baru ingat kemarin setelah berbicara dengan Aldo, dia merasa kepalanya semakin pusing dan perutnya sakit. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


"Bisakah kita pulang ke Indonesia. Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan ibu." Tanya Veni, namun kini raut wajah Aldo tampak lain tegang dan sedih.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu dengannya?" tanya Veni dengan hati yang berdebar. Aldo masih terdiam, semalam dia mendapat laporan dari Alex tentang Maria.


"Katakan baby, ada apa?"


"Ibu kamu menyerahkan diri, setelah membunuh Martinus."


"A-apa maksudmu ..?"


"Semalam ibumu menemui Martinus. Alex juga bersamanya. Ibumu datang kesana dan mengatakan jika kau sudah tidak di Indonesia. Martinus marah dan akan menghajar ibumu. Tapi saat Alex akan menghadang Martinus, ibumu menarik pistol yang ada di pinggang Alex dan menembak Martinus. Bahkan anak buah Martinus semua tak ada yang berani mendekat karena ibumu menodongkan pistol pada mereka. Setelah memastikan Martinus benar-benar mati. Ibumu meminta Alex mengantarkan dirinya ke kantor polisi." Aldo terus menggengam jemari Veni yang bergetar. Jujur ini adalah hal yang tidak pernah Veni bayangkan ibunya akan berbuat sejauh itu untuk menebus rasa bersalahnya. Air mata yang semalam mengering kini harus turun tanpa di minta.


"Baby look at me .. " Aldo meraih Dagu Veni, Saudaramu yang lain sedang berusaha membantu meringankan hukuman ibumu. Nino sedang mencari bukti rekaman CCTV yang bisa digunakan sebagai bukti untuk membela ibumu di persidangan. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin mencari pengacara terbaik untuk ibumu. Tapi kau harus tetap fokus pada janin yang ada dalam kandunganmu. Bukan kah selama ini kau menginginkannya? jadi jangan mengabaikannya."

__ADS_1


Veni mengangguk, lalu perlahan ia mengusap perut buncit nya yang disambut dengan tendangan keras dari bayi yang ada di dalam perut Veni.


"Uuhm ... sshh." Veni merintih saat tendangan anaknya terasa hingga ke ulu hati.


Aldo mendekatkan wajahnya di perut Veni, dengan perlahan dia mengusap perut Veni. "Hai boy, jangan nakal sama mami dong. Kasihan mami sampai kesakitan." Veni hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Rasanya batu yang selama ini menghimpit dadanya sudah terangkat. Benar kata ayah hanafi hanya butuh keikhlasan dari hati untuk memberi maaf maka semua akan baik-baik saja.


.


.


.


Sementara itu, Arsen yang sudah mendapatkan posisi terakhir ponsel Ara segera berjalan turun Namun sebelum itu dia memerintahkan Billy untuk menghubungi HRD untuk mengurus Wanda. Dia memindahkan pekerjaan Wanda di kantor cabang Tanggerang. Sebisa mungkin Arsen menjauhkan wanita itu dari Ara.


Dengan sedikit terburu-buru Arsen menyeberangi jalan menuju taman. Ia melihat istrinya ada disana Namun mata Arsen membulat saat melihat istrinya sedang berkelahi dengan 2 orang bertubuh kekar, sementara itu di belakangnya ada dua orang anak kecil berdiri gemetaran.


"Whoi .. " Arsen berteriak kencang. Ara yang terkejut menoleh. Hal itu tidak di sia-siakan oleh pria yang mengeroyok Ara, Ia segera memasukan tendangan ke perut Ara, hingga Ara terhuyung.


Arsen segera menangkap tubuh Ara, mata Arsen memerah menahan amarah, Dia mendudukkan Ara dan langsung menghajar pria yang menendang istrinya tadi. Dengan gerakan taktis Arsen memukul rahang pria itu. Ia juga memasukan tendangan ke perut pria yang satunya lagi. Keduanya sudah tampak kewalahan setelah melawan Ara sekarang harus berhadapan dengan Arsen. Akhirnya kedua pria itu berlari menjauh.


Kedua anak kecil itu tampak begitu mengkhawatirkan Ara.


"Kakak maafin Ayuk dan Tara. Bang Barja maksa kita ngamen kak." Ujar kedua anak itu terisak. Dengan wajah meringis menahan sakit Ara mengusap kepala kedua anak itu.


"Nanti kumpulin teman-teman yang lain. Kakak sudah ada rumah buat kalian tinggal. Jangan di pondok lagi. Ga aman buat kalian." Ujar Ara terengah-engah. Arsen mendekat dan memeriksa kondisi istrinya.


"Kamu ga apa-apa Ra?" tanya Arsen dengan wajah cemas. Ara menggeleng meskipun sebenarnya ia merasakan sakit di ulu hatinya. Apalagi yang memberi tendangan tadi badannya dua kali lipat dari tubuh Ara.


Arsen melihat dengan teliti, dari ujung kepala hingga ujung kaki Ara. Beruntung gadis itu selalu memakai flatshoes.


"Kenapa sampai berkelahi? gimana jika tadi kamu kalah?"

__ADS_1


"Kak Ara ga salah om, yang salah Ayuk sama Tara. Bang Barja tadi nguber kita nyuruh kita ngamen. Terus kita lari kesini ketemu kak Ara, kak Ara bantu kita." Ujar kedua anak perempuan itu.


"Kita sekarang ke pondok. Kalian Harus pindah dari sana sekarang juga." Ujar Ara seakan tak peduli dengan pertanyaan Arsen. Yang terpenting anak-anak kolong jembatan itu mendapat tempat tinggal, selebihnya Ara akan mengusahakan kesejahteraan untuk anak-anak itu.


Arsen hanya diam saat pertanyaannya tak mendapat jawaban dari Ara. Ia tau mungkin Ara masih kesal. Namun yang jadi pikiran Arsen saat ini adalah sosok Ara yang tampak lain saat berkelahi tadi. Ternyata keahlian ayah Ara, menurun pada putrinya.


Arsen menarik tangan Ara dan menggenggamnya ia membawa Ara masuk ke dalam mobilnya, Dan kedua anak kecil itu mengikuti Ara dan Arsen. Wajah mereka sumringah masuk ke dalam mobil Arsen.


"Kita naik bus aja A .. " Arsen diam dan mengunci pintu mobil.


"Kalian pakai sabuk pengaman itu ya. Bisa makainya kan?" tanya Arsen pada dua bocah itu. Mereka menatap Arsen sebentar lalu mengangguk.


"Kamu masih hutang penjelasan sama aku Ra." Ujar Arsen datar. Ia segera menjalankan mobilnya menuju ke lokasi yang dulu pernah Ara datangi beberapa waktu lalu.


"Penjelasan yang mana?" Ara menatap malas pada Arsen.


"Siapa Yudha?"


"Sahabatku dulu saat SMP."


"Apa selama ini kalian berhubungan?"


"Jika aku berhubungan dengan dia selama ini mungkin aku tidak akan berakhir disini dan di pecundangi seperti tadi. Bahkan suamiku sendiri yang menyebabkan semua itu terjadi." Ujar Ara dingin, wajahnya kembali mengeras.


Saat Arsen akan menjawab tuduhan Ara, dia teringat jika ada dua bocah yang saat ini menatap Ara dan Arsen dengan wajah bingung.


๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ


Detik-detik menyelami kehidupan Ara lagi.


Dan bagi kalian yang benar-benar jenuh dengan ceritaku, dimohon dengan sangat tinggalkan novel ini tanpa kalimat yang bikin othor kehilangan mood buat nulis.

__ADS_1


INI CUMA NOVEL RECEH, NOVEL DARI KEHALUAN OTHOR. JADI KALAU TIDAK MENDIDIK YA WAJAR KARENA INI BUKAN BUKU TEMATIK. OTHOR HERAN BANGET MASIH ADA KOMEN KAYA GITU BAHKAN DI LAPAK TEMEN-TEMEN OTHOR YANG LAIN JUGA. KALO SEKIRANYA MAU YANG MENDIDIK BUKAKNYA BRAINLY JANGAN NT


__ADS_2