
********
Pagi ini di rumah baru Didi, terjadi keributan. Judy sejak semalam mengurung diri dan menangis, ia ingin sama seperti anak-anak Dian berkumpul di mansion. Bahkan anak itu sampai tidak mau makan karena Didi tidak menurutinya. Didi merasa tak enak hati jika harus terus menerus merepotkan keluarga Gerry. Tapi penolakan Didi justru berbuntut panjang. Saat Selin akan membangunkan Judy ia terkejut karena tubuh sang putri demam tinggi. Selin berteriak memanggil Didi.
Selin berusaha menyadarkan Judy namun sepertinya Judy tak sadarkan diri. Kondisinya yang baru pulih pasca tragedi penculikan membuat tubuh gadis itu mudah lelah.
"Ini Judy bagaimana?" Selin sudah berurai air mata. Didi lekas menggendong putrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Selin mengikuti langkah Didi dengan tergesa-gesa hingga mendapat teguran dari Didi.
"Kamu ga usah jalan cepat-cepat ..! Nanti jatuh. Panggil bibi untuk mengunci pintu dan bilang kita mau ke rumah sakit." Kata Didi. Dan Selin pun menurut, Setelah itu Didi dan Selin membawa Judy ke rumah sakit.
.
.
.
Di rumah sakit Arsen membuka matanya. Badannya terasa sakit semua. Ia melihat Ara tidur dengan nyenyak di pundaknya. Ia baru ingat semalam setelah mengajari Ara cara memakai ponsel Ara tiba-tiba tertidur dengan bersandar di pundaknya. Bahkan Arsen tak tega untuk meninggalkan Ara hingga ia pun ikut tertidur. Tapi sekarang dirinya sangat ingin buang air kecil. Dengan perlahan Arsen mengangkat kepala Ara dan merebahkan kepala Ara di atas tas yang Ara bawa semalam. Gadis itu sepertinya terlalu lelah sampai-sampai tak sadar jika sudah berganti posisi.
Arsen merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku terutama di bagian leher. Ia menuju kamar mandi. Untuk buang air kecil dan mencuci muka. Setelah selesai Arsen turun ke bawah menuju parkiran untuk mengambil baju ganti dan alat-alat kebersihan dirinya yang selalu tersedia di dalam mobil untuk berjaga jika keluar kota. Dan sekarang ada untungnya juga.
Setelah mengambil semua yang ia butuhkan dan menutup pintu mobil. Arsen melihat Didi dan istrinya di depan ruang IGD.
"Didi ... siapa yang sakit?"
"Judy bang, abang sendiri kenapa di rumah sakit? papa sakit lagi?" tanya Didi panik.
"Bukan papa. Papa sehat. Yang sakit kerabat temanku."
"Abang tidur disini?" tanya Didi penasaran.
Arsen hanya tersenyum tanpa menjawab rasa penasaran adiknya.
__ADS_1
"Ya sudah abang ke atas dulu. Kalo ada apa-apa kamu telepon abang saja." Arsen bergegas meninggalkan Didi dan istrinya. Ia takut jika adiknya akan bertanya terlalu banyak kepadanya.
Saat tiba di depan ruangan abah, Ara sudah terbangun. Bahkan gadis itu sudah terlihat segar.
"Kamu sudah mandi?" tanya Arsen saat melihat baju Ara telah berganti. Ara menoleh menatap Arsen. Wajahnya kembali memerah.
"Iya A', Ara ga betah dari semalaman ga mandi." Meskipun hanya mengenakan pakaian yang terbilang sudah lusuh Gadis itu tampak cantik pagi ini.
Entah mengapa melihat penampilan Ara membuat hati Arsen seperti tersengat. Ia selalu memakai pakaian branded bahkan kadang saat isi lemarinya penuh dia tetap membeli beberapa potong baju edisi terbaru tanpa memperdulikan harganya. Tapi melihat Ara saat ini membuat Arsen tidak nyaman dengan perasaannya.
"Aku mandi sebentar aku juga tidak nyaman karena tidak mandi dari kemarin." Kata Arsen berlalu meninggalkan Ara. Ara kembali duduk lalu datang seorang dokter dan dua orang perawat.
Mereka melempar senyum sebentar pada Ara lalu masuk ke dalam ruangan abah Usman.
Ara hanya melihat dari kaca kecil yang ada di pintu. Dokter tampak serius memeriksa abah. Ara hanya menggigit jari telunjuknya.
Tak berselang lama dokter keluar dan menemui Ara.
"Eh saya cucu abah Usman dok." Ujar Ara gugup. Baru kali ini dia berhadapan dengan dokter karena biasanya jika dia maupun abah sakit mereka hanya berobat ke mantri atau bidan.
"Begini nona, kondisi kakek anda sudah terlalu parah. Selain karena faktor usia penyakit kakek sudah mencapai ambang batasnya."
"Ma-maksud dokter?" Ara tertegun, matanya mulai berkabut, Bagaimana hidupnya nanti jika abah meninggalkan dirinya. Tidak, dirinya tidak akan sanggup. Abah satu-satunya keluarga yang Ara miliki.
"Begini, setelah kami melakukan rontgen dan sejumlah tes, Kakek Usman diketahui menderita kanker paru-paru stadium akhir. Di tambah lagi kakek anda sering mengkonsumsi obat warung yang saya rasa sudah sejak lama dan membuat ginjal kakek Usman juga bermasalah."
Ara diam, tatapan matanya kabur suara dokter itupun lambat laun menjauh dan menghilang seiring kesadaran Ara yang terenggut paksa. Beruntung ada tangan kekar yang menahan Ara sehingga ia tidak jatuh membentur kerasnya lantai rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.
Dian dan Gerry sudah bersiap akan mengunjungi abah Usman dan kali ini tuan Hanafi ikut. Karena dia juga penasaran dengan sosok yang selalu dipikirkan mendiang ayahnya sebelum ajal menjemput.
Namun ketika Dian dan Gerry tiba dibawah, Zafrina sedang menangis karena mainan yang dibelikan Veli rusak.
"Sayang ada apa?" tanya Dian menghampiri putrinya.
"Ana merusak rumah barbie milikku mama."
"Tapi Ana sudah minta maaf, Ana tidak sengaja." Putri keduanya ikut menangis. Dian menekan pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Berpisah rindu bersatu terus berseteru. Dian benar- benar pusing dengan kedua putrinya yang tak pernah akur seperti Zafa dan Zayn.
"Sayang, Ina jangan menangis. Nanti biar papa yang betulkan rumah barbie nya setelah papa pulang kerja. Sekarang Ina dan Ana harus berbaikan dulu. Bukankah saudara harus saling memaafkan?" Sebentar lagi guru kalian datang, jika belajar sambil menyimpan marah ilmunya tidak akan terserap dengan baik. Kalian juga tidak mau kan kalo mam sedih?" Dian berusaha merayu kedua putrinya. Yang terlihat keras namun berhati lembut,
Zafrina mengangguk lalu memeluk Dian begitupun juga dengan Ana. "Maafkan kami mama." Ujar keduanya bersamaan. Dian tersenyum, Gerry yang menatapnya dari jauh pun ikut merasa terkesan dengan cara Dian mendidik anak-anaknya.
Ponsel Gerry bergetar, nama Arya tampil di layar. Gerry menggeser icon berwarna hijau.
"Halo ... "
"Bisa ke rumah sakit sekarang? ada hal penting yang harus aku bicarakan. Ini mengenai abah Usman. Aku tidak bisa mengatakan lewat telepon. Tapi sebisa mungkin segeralah kemari."
Panggilan telepon langsung di putus sepihak oleh Arya. Gerry mendesah berat, sepertinya akan ada hal besar terjadi. Gerry mendekat ke arah Dian yang masih mencoba memberi pengertian pada putri-putrinya.
"Sayang ayo, Arya baru saja menghubungiku." Gerry mengulurkan tangannya pada Dian.
"Mama mau kemana?" tanya Zafrina.
"Mama mau ke rumah sakit jenguk teman almarhum kakek buyut." Ujar Dian seraya mengecup kedua kening putrinya.
๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
jempolnya di birukan guys. Maaf kesiangan sekolah anak lagi rempong.