Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Aku Mau Nikah Sama Aa


__ADS_3

*********


Kalo teteh terserah kamu Ra, kalopun kamu nikah teteh bakalan senang karena ada yang jagain kamu. Setidaknya kamu tidak lagi sendirian. Kamu boleh tetap kuliah, kamu bisa ngomong baik-baik sama calon kamu itu. ----- Dian


Dia ngijinin aku nglanjutin kuliah teh. Cuma aku masih bingung dengan perasaanku. ---- Ara


Cinta akan tumbuh jika kalian selalu bersama. Pelan-pelan saja jangan dipaksakan. Biarkan perasaan kalian mengalir. Sekarang teteh tanya selama kamu kenal kakak dokter Arya pernah ga sekali aja dia nyakitin kamu? Ara menggeleng.


Percaya sama teteh. Kamu ikhlas menjalani pernikahan demi menghindari zina, derajat kamu akan diangkat sama Allah. Kamu juga akan menemukan kebahagiaan yang sejati.


Percakapan siang tadi dengan Dian membuat Ara sedikit banyak mulai mendapatkan ketetapan hatinya. Ara bahkan menceritakan pada Dian mengenai Arsen yang selalu mencuri-curi kesempatan mencium keningnya.


"Bismillah .. " Ara masuk kedalam mansion milik keluarga Arman. Setelah sebelumnya Dian membawa Ara melihat rumah yang kakek Kusuma belikan untuknya dan abah. Ara sebenarnya menolak namun Dian bilang itu amanah. Bahkan rumah itu sudah di atas namakan Ara.


.


.


.


Di dalam kediaman keluarga Arman sedang ramai sepertinya mama Clara sedang ada acara.


"Nah itu dia, seru mama Clara." Ara menoleh lalu membungkuk sebentar seraya melemparkan senyumnya. ---- "Sini sayang." Ara langsung mendekat kearah mama Clara. Ia berdiri di samping wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Ini lho jeng-jeng semua, dia ini calon istri Arsen yang tadi saya omongin." Mama Clara membawa Ara didepan semua teman-teman arisannya.


"Wah masih terlalu muda ya jeng? Wanda anak saya sudah matang. Dia terlihat sangat cocok dengan Arsen." Ujar salah seorang wanita paruh baya yang terlihat lebih mentereng dibanding ibu-ibu lainnya.


"Kalau masalah usia saya tidak masalah jeng. Yang penting bagi saya masalah hati. Mau cocok atau tidak kalo hati Arsen sudah sreg dengan dia saya bisa apa jeng. Lagipula yang mau menjalani pernikahan kan mereka. Saya sebagai orang tua hanya bisa memberi restu." Ujar mama Clara merasa sedikit tersinggung dengan ucapan dari mamanya Wanda. Apalagi kata-kata itu diucapkan dihadapan Ara.


Namun gadis itu ternyata hanya tersenyum menanggapi ucapan mamanya Wanda.


"Matang bukan suatu tolak ukur menilai kedewasaan seseorang tante. Dan hati tidak bisa dipaksakan kepada siapa dia akan jatuh cinta." Sahut Arsen dari arah luar. Wajah nyonya Adisti langsung memucat menatap netra Arsen yang sangat tajam memindai dirinya.

__ADS_1


Arsen menghampiri mama Clara mencium punggung tangan wanita itu, dan langsung menarik tangan Clara.


"Kau belum cukup umur untuk mengikuti kegiatan kumpul-kumpul seperti ini Ra. Kita ke kamar saja." Arsen kembali melirik nyonya Adisti dengan tajam lalu menarik tangan Ara dari ruangan itu. Ara hanya membungkukkan badannya sebentar kearah kumpulan ibu-ibu sosialita itu, sebagai tanda undur diri.


"Aa tangan aku sakit." Ujar Ara saat mereka ada di bawah tangga menuju lantai Atas. Arsen seketika melepas genggaman tangannya dan memeriksa pergelangan tangan Ara yang memerah.


"Maaf Ra .. Wajah Arsen yang semula tampak menegang dan memerah perlahan mulai melunak melihat wajah Ara yang berkaca-kaca. Arsen membawa tubuh Ara kedalam pelukannya. Gadis itu terisak lirih.


" Aa tu kebiasaan sumbu pendek, suka marah marah kaya gitu. Ara ga suka." Gumam Ara.


"Ya karena aku ga bisa lihat ada orang yang ngeremehin kamu apa lagi jelek-jelekin kamu kaya gitu.


" Tapi yang tante tadi katakan memang benar semua A' aku emang masih muda."


"Trus karena kamu masih muda kamu ga mau nikah sama aku iya?" Arsen mengurai pelukannya menatap tajam wajah Ara yang sudah berurai air mata. Jemarinya mengusap dengan lembut wajah gadis itu.


Ara menggeleng. "Justru aku mau bilang. Aku mau nikah sama Aa, Tapi aa jangan gampang marah-marah terus. Nanti wajahnya makin kelihatan tua." Suasana yang semula tegang, berubah romantis. Arsen tidak peduli dengan ucapan Ara yang lain dia hanya peduli dengan ucapan Ara yang berkata mau menikah dengannya." Arsen mengangkat tubuh Ara dan membawanya berputar. Ara mencengkeram erat pundak Arsen karena takut terjatuh.


"Aa turunin aku takut." Teriak Ara histeris. Semua mata yang kebetulan menyaksikan adegan itu melebar. Mereka tak menyangka akan mendapat adegan romantis seperti di film.


Arsen menurunkan Ara dan menangkap Judy lalu membawanya berputar seperti yang ia lakukan tadi pada Ara. Didi dan Selin ikut senang karena akhirnya Arsen bertemu dengan jodohnya.


"Paman sudah, Judy pusing." Pekik Judy. Arsen menghentikan gerakannya dan menciumi Judy dengan gemas.


"Ah paman, jangan cium-cium aku. Nanti Zayn marah." Ujar Judy mengusap pipinya yang dikecup oleh Arsen. Semua tertawa melihat tingkah gadis itu.


"Kita musti bicara Ra." Arsen membawa Ara naik ke atas. Meninggalkan Judy dan yang lainnya.


.


.


.

__ADS_1


Di kediaman keluarga Kusuma, Dian sedang membantu sang mama menyiapkan bingkisan untuk di bawa ke panti. Dian merasakan tendangan di dalam perutnya dengan begitu keras membuat dia tersentak.


"Aaw .. "


"Kenapa sayang?" tanya Nyonya arimbi cemas.


"Engga mah." Dian mengusap perutnya perlahan Zafa yang ada di dekat Dian ikut merasa khawatir dengan kondisi mamanya.


Zafa berdiri masuk kedapur dan mengambil air hangat dari dispenser lalu menyerahkannya pada Dian.


"Mama minum dulu." Ujar Zafa. Dian senang putra pertamanya begitu perhatian.


"Terima kasih sayang .. " Dia mengusap rambut Zafa.


"Dian, apa Gerry tahu kemana Aldo? sudah dua hari dia tidak pulang. Bahkan hanya memberi kabar padaku sekali katanya dia sibuk. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya." Ujar Veni dengan wajah sendu.


"Nanti aku akan tanyakan. Jangan terlalu dipikirkan! kasihan janin yang ada di dalam perutmu."


.


.


.


Sementara itu saat ini Aldo sedang mengikuti kemana ibu kandung Veni pergi. Aldo menyamar sedemikian rupa agar tidak ketahuan.


Mereka tiba di sebuah kafe. Ibu Veni duduk membelakangi kursi Aldo. Tak lama muncul pria tua namun tampak sangat kaya, terlihat jelas dari cara pria tua itu memakai perhiasan seperti toko mas berjalan.


"Bagaimana apa kau dapatkan putrimu? Aku sudah keluar uang banyak untuk menemukannya. Apa kau bodoh mengapa melepasnya waktu itu?" Ujar Pria itu.


"Kau tau aku sangat terkejut saat itu. Jadi wajar saja reflekku tidak begitu bagus. Lagipula ada seorang pria yang membantunya.


" Jika dalam satu bulan kau tidak membawanya padaku jangan harap kau bisa menikmati dunia ini lagi. Aku sudah membayarmu mahal untuk bisa menemukan Veni. Karena aku begitu menyukainya." Ujar pria tua itu tanpa tau malu. Tangan Aldo langsung seketika terkepal. Dadanya terasa panas mendengar ada pria lain yang menyukai istrinya.

__ADS_1


๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ


Hay senin nih guys. saatnya memberi Vote untuk Arsen dan Ara.


__ADS_2