
******
Judy keluar dari kelas dengan kesal. Semua teman-temannya benar-benar keterlaluan. Mereka selalu menggunjingkan pacarnya. Siapa lagi jika bukan Zayn. Dan itu membuat Judy merasa tak nyaman.
Judy berjalan dengan kesal menuju kantin namun tanpa sengaja seseorang menyenggol lengannya hingga Judy hampir terjatuh. Namun ada tangan kokoh yang merengkuh tubuh Judy sebelum gadis itu jatuh terpelanting. Mata keduanya bertaut dalam, Seulas senyum hangat terbit dari bibir pria itu
"Dino .. " Pekik Judy dan Dino hanya tersenyum. Senyum yang mampu membuat para gadis-gadis terpesona namun tidak bagi Judy, karena dimata Judy hanya Zayn yang teristimewa.
"Kamu mau kemana?" tanya Dino pada Zayn.
"Pangeran ku menunggu di kantin." Ujar Judy dengan senyuman yang mampu membuat jantung Dino berdebar kencang. Namun wajah Dino terlihat datar begitu Judy menyebutkan pangeranku.
Judy berjalan meninggalkan Dino, pemuda itu masih terus menatap kepergian Judy dengan tatapan sendu.
"Kenapa hanya Zayn yang ada di matamu?" Gumam Dino lirih. Ia akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan kampus.
Judy tiba di kantin ia mengedarkan matanya mencari sosok kekasih hatinya. Namun saat menemukan dimana kekasihnya berada mata Judy membulat. Karena ia melihat segerombolan gadis sedang berusaha mendekati kekasihnya itu.
Judy berjalan cepat lalu menggebrak meja dengan keras. Hingga hampir seluruh mahasiswa yang ada di sana menatap kearah meja yang Zayn duduki.
"Apa-apaan kalian udah kaya lalat ngerubutin cowok aku?" Bentak Judy, namun para gadis itu bukannya takut malah menantang Judy.
"Zayn aja ga masalah kenapa jadi elo yang sewot. Lagian Zayn kan baru pacar lo bukan suami lo." Ujar ketua geng itu.
Judy menatap Zayn yang masih diam. Kadang Judy merasa lelah memperjuangkan perasaannya sendirian. Zayn pria yang dingin dan tertutup sehingga sulit bagi Judy meraba apa yang Zayn rasakan padanya.
"Kamu bakalan diem aja gitu Zayn?" tanya Judy dengan wajah memerah.
"Kalian minggirlah ...!" Ujar Zayn datar. Namun bukan ini yang Judy inginkan, Ia mendengus kasar lalu pergi meninggalkan Zayn dan para gadis itu.
"Huh dasar, baru jadi cewek aja posesif." Teriak Shanaz. Judy tidak mempedulikan ucapan gadis itu. Bahkan saat Zayana datang dan berusaha mencegah Judy, gadis cantik itu hanya menepis tangan saudari kembar Zayn.
__ADS_1
Zayana menatap nyalang kearah gerombolan gadis itu dan mulai mendekat.
"Seleramu benar-benar buruk Zayn, kau melepaskan seorang putri kerajaan hanya demi menemani gadis-gadis murahan ini yang rela menjatuhkan harga dirinya demi mencapai tujuannya." Ketus Zayana, ia pun segera pergi dari hadapan Zayn karena ia merasa muak dengan sifat dingin Zayn.
Zayn melirik segerombolan gadis itu, Ia lantas berujar. "Sebaiknya kalian berkaca, jika kalian ingin bersaing dengan pacarku. Bahkan ibarat pohon Judy adalah pohon pinus yang menjulang tinggi sedangkan kalian hanya seperti tanaman toge bagiku."
Zayn pun pergi dari kantin meninggalkan gerombolan gadis itu. Keempat gadis itu terpaku setelah mendengar ucapan Zayn.
Sementara itu Judy yang kecewa segera menghubungi supirnya untuk menjemput dirinya di kampus.
"Hei Dy tunggu ..!" seru Ana. Judy tidak menoleh ia hanya tidak ingin Ana tau jika dirinya menangis. Ia tak ingin Zayn dimarahi oleh mamanya karena membuat Judy menangis.
"Ada apa An?" Suara Judy terdengar bergetar dan parau. Zayana tahu gadis itu pasti menangis. Akhirnya karena tidak tahan melihat Judy yang terlihat menyedihkan Zayana memeluk Judy dari belakang.
"Jangan bersedih ..! percayalah padaku, jika Zayn juga sangat mencintaimu." Ujar Ana mencoba membujuk Judy.
"Entahlah, aku hanya terkadang merasa ingin menyerah saja. Terlalu lelah bagiku untuk berkata aku baik-baik saja tapi nyatanya tidak." Kali ini tangisan Judy terdengar meskipun lirih.
Zayn setengah berlari menghampiri Zayana. "Mana Judy?"
"Pulang .. " Jawab Ana singkat padat dan jelas. ---- "Aku hanya akan mengingatkanmu satu hal, jangan sampai kamu menyesal jika suatu saat Judy lelah terhadapmu dan memilih menyerah dengan cintanya. Karena di luar sana pasti banyak yang mengharapkan cinta seorang Judy dan di saat Judy mulai menentukan pilihannya kau pasti akan menangisinya." Ana berlalu dari hadapan Zayn, Zayn hanya menatap punggung saudara satu rahimnya itu.
"Ku pastikan kau tak akan bisa berpindah ke lain hati Judy, kamu milikku." Desis Zayn.
*
*
*
Di sebuah apartemen di Amerika tepatnya di Cambridge, Massachusetts.
Zafa dan Gerry papanya sedang menata ruang tamu sesuai keinginan Zafa. Mereka terlihat sangat maskulin dengan lelehan keringat di dahi keduanya.
__ADS_1
"Besok papa pulang, apa kau yakin ingin tinggal sendiri di sini? Jika tidak papa bisa meminta tolong pada uncle Rian, karena mereka menetap di sini."
"Papa percaya sama Zafa, aku bisa sendiri pah. Aku ingin belajar mandiri. Jika semakin lama papa disini kasian mama. Mama pasti sedih karena aku dan Zafrina memilih kuliah di luar negri."
"Baiklah, papa juga sudah merindukan bidadari papa itu. Tapi nanti kita ke rumah papinya Ina dulu."
"Jika begitu aku istirahat dulu ya pah." Zafa akhirnya meninggalkan Gerry sendirian di ruang tamu. Gerry menatap sendu Zafa. Sebenarnya sudah sejak lama pemikiran ini bersarang di pikirannya. Bahkan ia ingin melakukan tes DNA pada putra pertamanya. Bukan tanpa alasan Gerry sempat terpikirkan hal itu. Karena semakin besar wajah Zafa bahkan lebih mirip Rian waktu muda bukan mirip dirinya. Tapi dia tak ingin terlalu berspekulasi, Gerry pun merasa takut jika ternyata apa yang dia ragukan ternyata menjadi kenyataan. Cukup Zafrina saja yang sekarang berat berpisah dengan Rian. Dia tak ingin Rian mengambil Zafa, jika itu terjadi sudah bisa di pastikan Dian akan sangat sedih dan terluka.
Gerry mendesah berat, ia ingin menghubungi istrinya tapi pasti sekarang sudah malam dan Dian pasti sedang beristirahat.
*
*
*
Sementara itu Dian terus membolak-balikan tubuhnya di ranjang dengan tak tenang hingga membuat Zafia terbangun.
"Mama kenapa?"
"Tidak apa-apa sayang mama baik-baik saja. Mungkin karena mama ga bisa tidur makanya seperti ini." Ujar Zafia.
"Iya kau benar, mama tak biasanya tidur tanpa papa. Jadi mama rindu sama papa."
"Telepon saja ma, disana kan sudah pagi." Usul Zafia dengan mata terpejam. Dian sebenarnya ingin menghubungi Gerry tapi ia belum siap mendengar suara Zafa. Ia pasti akan semakin tidak rela terpisah dari Zafa.
"Nanti saja sayang, mama tidak mau mengganggu papa kalian." Ujar Dian, ia tersenyum melihat Zafia yang kembali tertidur.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Di tunggu hadiahnya ya guys biar semangat Up.
Jangan lupa tekan ๐ lalu komen
__ADS_1