
********
Suasana di mansion mewah milik Arman pagi ini riuh dengan suara tawa Judy. Gadis itu sudah sembuh dari demam. Didi mengajak Judy ke rumah papanya karena Arya juga mengajak Nayla dan bayinya ke sana. Mereka berdua penasaran dengan hubungan Arsen dan Ara. Dan benar saja pagi ini sang mama mendapati Arsen tertidur dengan memeluk Ara. Entah bagaimana ceritanya Arsen bisa naik ke atas ranjang dan memeluk Ara. Kini keduanya sedang disidang oleh papa Arman atas desakan Clara. Yang melihat betapa Arsen mencemaskan Ara.
Ara terus menunduk, tangannya bahkan berkeringat dingin. Ia merasa bersalah pada Arsen karena gara-gara dirinya Arsen mendapat masalah. Namun lidah Ara terasa kelu, malu bukan main. Dia dikelilingi keluarga besar Arsen sedang dia sendirian.
"Coba jelaskan pada papa. Kenapa kalian tidur bersama. Katakan saja kalo kalian ingin segera dinikahkan." Ujar papa Arman.
"Pah .. " Arsen merasa tak enak kepada Ara.
"Ma-maaf om .. tapi saya." Ara tak berani meneruskan kata-katanya saat tatapan Arman tertuju padanya.
"Papa membuatnya takut. Lagipula kami tidak sengaja. Toh pakaian kami juga masih lengkap. Papa berpikir terlalu jauh." Kata Arsen, ia menatap Ara dengan iba.
"Lihat, dari tadi kamu terus melirik nya. Toh sekarang Ara tidak punya siapa-siapa kan? tidak ada siapapun yang menjaganya. Apa salahnya jika kalian menikah?" Kata papa Arman.
Ara semakin menunduk saat diingatkan sekarang dirinya hidup sebatang kara.
"Kamu jangan dengerin omongan papa. Ga usah kamu pikirin Ra." Kata Arsen. Entah mengapa mendengar ucapan Arsen membuat Ara semakin sedih. Mungkin dirinya terlalu berharap lebih dari hubungan yang baru sebentar terjalin.
"Om, Ara minta maaf semua salah Ara. Maaf Ara menumpang dirumah om tanpa ijin. Tapi Ara janji ini yang pertama dan terakhir." Ara langsung berdiri. ---- "Maaf tante, pak Arya, Aa Arsen. Saya permisi, Terimakasih." Ara berjalan cepat meninggalkan ruang keluarga Arman.
"Abang ini bodoh sekali." Didi meninggalkan ruangan itu.
"Selamat berjuang bang ..!" Ujar Arya turut beranjak.
Sedangkan Arsen tampak bingung kenapa semua malah pergi.
"Sayang, mama tanya sama kamu. Kamu suka dengan Ara tidak?" Tanya Clara Serius.
__ADS_1
"Iya ma, tapi Arsen maunya pelan-pelan aja jangan kaya gini. Kasihan Ara dia baru saja kehilangan abah." Nyonya Clara mengangguk.
"Jika dia kehilangan abahnya, maka kamu baru saja kehilangan kesempatan buat nikahi dia. Ucapan kamu yang menyuruhnya melupakan perkataan papa, sama saja kamu menolaknya mentah-mentah. Dan mungkin dia pergi bukan karena ucapan papa. Tapi dia kecewa dengan jawaban kamu." Sesaat Arsen berpikir lalu sedetik kemudian dia beranjak. berlari meninggalkan kedua orang tuanya.
"Kau dan anakmu sama-sama payah." Gerutu mama Clara. Papa Arman hanya tersenyum lebar seraya mengusap tengkuknya.
Arsen menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Ara. Ia merogoh ponsel dan menghubungi satpam komplek jika melihat ciri-ciri Ara jangan sampai dibolehkan keluar. Ia meraih kunci motor sportnya dan langsung menuju jalan utama. Ara tidak membawa apapun saat keluar dari rumahnya. Dan bahkan Ara belum sempat sarapan tadi pagi.
Dengan bantuan satpam komplek Arsen dapat mencegah Ara keluar dari area komplek perumahan mewahnya.
Ara kebingungan saat ia dihadang satpam dan dimintai KTP. Jangankan KTP, dompet dan tasnya kemarin saja dimana dia tak tahu. Ara tampak seperti orang linglung. Tak lama Arsen datang dengan motor sport berwarna merah.
"Ini mas orangnya?" tanya Satpam komplek pada Arsen pria itu mengangguk.
"Iya Pak, terimakasih." Arsen bersalaman sambil menempelkan lebar uang berwarna merah.
Arsen setengah berlari menghampiri Ara. "Kamu kenapa lari Ra?" Arsen menggenggam tangan Ara. Gadis itu menunduk tak tau harus mengatakan apa. Haruskah dia berkata dia kecewa dengan ucapan Arsen atau dia sedih karena menjadi beban untuk pria itu.
"Maaf A' .. " Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibir Ara.
"Ayo kita kembali. Mama cemasin kamu." Kata Arsen, seraya menggengam pergelangan tangan Ara. Namun gadis itu berusaha melepasnya.
"Aku mau pulang saja A' aku ga mau ngrepotin aa. Aa udah terlalu banyak bantu aku. Kalo aa terus seperti ini Ara takut semakin bergantung sama Aa." Ujar Ara.
"Arsen menatap dalam kearah Ara, sepertinya memang benar kata mama. Jika justru ucapannya yang menyakiti hati Ara.
Arsen memegang kedua bahu Ara. " Tatap mata aku Ra," Ara mengangkat wajahnya menatap manik mata Arsen.
"Aku ga tau kalo mungkin kata-kataku tadi ada yang menyinggung perasaanmu. Tapi percayalah aku sebenarnya ga ada niatan buat nolak ucapan papa. Mungkin ini terdengar omong kosong, tapi aku beneran sayang sama kamu Ra. Sejak pertama bertemu kamu aku merasakan perasaan lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan wanita manapun. Hanya aku ga ingin terburu-buru. Apalagi ini belum genap satu hari abah meninggal."
__ADS_1
Mata Ara mulai mengeluarkan kristal bening, Arsen mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi gadis itu.
"Percaya sama aku. Kamu cuma salah paham tadi." Kata Arsen." Ara mengangguk Arsen membawa Ara kembali ke mansion mewahnya mengunakan motor Arsen tadi. Ara berpegangan pada pundak Arsen, namun tangannya langsung dicekal pria itu dan dipindah posisi menjadi memeluk perut Arsen. Ara merasa canggung tapi juga tak dapat menolak.
Arsen senang karena kesalahpahaman mereka tidak berlarut larut. Sesampainya di mansion justru keduanya langsung mendapat sambutan dari adik Arsen dan kedua orang tuanya.
"Cie Om Arsen pacaran ... " Goda Judy.
"Sshh .. Judy ga boleh gitu." Tegur Didi. Gadis itu berlari masuk kedalam rumah.
Ara menunduk malu. Mama Clara membawa Ara masuk. Arsen hanya memandangnya dengan perasaan lega.
"Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya papa Arman.
"Aku akan menikahinya." Kata Arsen yakin.
"Kamu ga mikir bibit bebet bobotnya?" Tanya Arman lagi.
"Kita sudah memiliki semuanya. Untuk apa bibit bebet bobot." Ketus Arsen. Papa Arman mengangguk setuju.
"Baiklah terserah padamu. Yang penting tahan dirimu jangan sampai mencoreng nama baik keluarga kita.
"Tentu saja pah." Arsen berjalan masuk menyusul mama Clara dan Ara. Didalam ternyata Ara dan yang lain sedang membantu menyediakan sarapan. Karena tadi memang Arsen dan Ara menjalani sidang pagi buta.
Semua berkumpul mengelilingi meja makan. Suasana tampak lain. Mama Clara senang kini anak-anaknya sudah menemukan tambatan hati mereka. Namun sudut hatinya berdenyut nyeri mengingat putrinya yang telah tiada.
"Ma, besok kita ziarah makam Gita ya." Ajak Didi. Mama Clara tersenyum, lalu mengangguk.
๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ
__ADS_1